Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 5 – Nasihat Sebelum Menikah


__ADS_3

Saat di meja makan, Mama terus tersenyum padaku. Wajahnya sangatlah bahagia melihatku. Hal ini membuat aku kembali mengenang percakapan kami dua hari lalu sebelum aku melangsungkan acara pernikahan. Percakapan itu terjadi di kamarku dan hanya ada kami berdua.


***


“Anakku?” panggil Mama.


Mengetahui kehadiran Mama, aku sangat senang, “Iya, Mama?” tanyaku.


“Bagaimana perasaanmu, Nak?” tanya Mama.


“Ntahlah, Ma. Jujur, Nindy tidak mengerti apa yang Nindy rasakan. Rasanya semua rasa berkumpul jadi satu di dalam sini.” kataku jujur, sambil memegangi dadaku.


Mama tersenyum, “Itu hal lumrah, Nak. Mamapun dulu merasakan hal yang sama.” kata Mama.


“Jadi, seperti inikah rasanya dulu saat Mama hendak menikah dengan Papa?” tanyaku.


Mama mengangguk. Beliau mengusap rambutku, “Anak Mama sudah besar.” kata Mama.


Sebutir air mata jatuh di pipi Mama. Aku buru-buru mengusap dan memeluk beliau. Dalam pelukan itu, pikiranku berkelana ke banyak tempat. Aku memikirkan bagaimana rasanya kalau aku sudah tak bisa dekat lagi dengan Mama, tidak akan sebebas ini bertemu dan memeluk Mama, dan hal-hal lainnya.


“Maafkan, Nindy, Mama.” kataku.


Mama mengusap punggungku. “Untuk apa meminta maaf, Nak? Sudah, jangan meminta maaf ya.” kata Mama.


Mama melepaskan pelukannya.


“Anak cantik Mama, besok akan menikah. Mama bahagia. Apa lagi calon menantu Mama seperti Gus Faiz.” kata Mama sambil tersenyum.


Aku mengangguk, dan tersenyum malu-malu. "Terima kasih untuk segalanya, Ma." kataku.


“Mama bahagia melihat anak Mama menikah dengan orang yang dicintainya. Kau sudah mencintainya sejak lama kan?” kata Mama, beliau menggodaku.


“Bagaimana Mama tahu?” tanyaku pada Mama.


“Mama adalah ibumu, Nak. Mama tahu bagaimana perasaanmu hanya dengan melihat matamu.” kata Mama.


Aku diam saja, mencoba mendengarkan kalimat Mama yang selanjutnya.


“Dulu, 4tahun lalu, di rumah sakit, Mama melihat tatapan berbeda darimu padanya. Tatapan yang sepanjang Mama tahu tidak bisa kamu berikan pada siapapun selain dia.” kata Mama.


Aku tersenyum malu-malu.


“Benarkan?” tanya Mama.


Aku mengangguk. “Aku sangat bersyukur dipertemukan dengan seseorang seperti dia, Ma.” kataku.


“Mama yakin, kalau dia bisa membahagiakanmu.” kata Mama.


“Terima kasih, Mama.” kataku.


“Dengan senang hati, Sayang.” kata Mama.

__ADS_1


“Mama, boleh Nindy bertanya sesuatu?” tanyaku.


“Tentu saja. Tanyalah sebanyak yang kamu mau.” kata Mama.


“Apakah Mama tidak marah padaku soal keputusanku ini?” tanyaku.


“Mengapa harus marah?” tanya Mama.


“Nindy memikirkan ini, Nindy baru saja lulus, belum bisa memberikan kebahagiaan untuk Mama dan Papa, namun meski tahu akan hal itu, Nindy egois tetap menerima lamaran Gus Faiz.”


Hal ini memang mengganjal di hati. Meski aku sangat bahagia akan menikah dengan Gus Faiz. Namun, ntah di bagian mana hatiku menanyakan keegoisan keputusanku. Aku baru keluar Pondok, belum mendapatkan kerja atau membahagiakan keluargaku tapi besok aku sudah harus menikah.


“Kamu tidak egois, Nak. Memang ini sudah jalannya. Lagi pula dengan kamu menyetujui lamaran Gus Faiz, membuat Mama dan Papa sangat bahagia. Itu adalah kado terindah yang kami terima. Apa yang lebih membahagiakan selain berbesan dengan sahabat sendiri?” tanya Mama.


“Mama..” kataku. Aku tak mampu berkata-kata lagi. Aku memeluk Mama. Nyaman sekali berada di pelukan beliau.


“Dulu, sebelum Mama menikah dengan Papamu, Mama mendapat 10 wejangan dari nenekmu agar pernikahan bisa bahagia. Tidak terasa sepertinya baru kemarin Mama mendapatkan wejangan itu, dan kini giliran Mama yang memberikan wejangan pada anak Mama.” kata Mama.


“Apa itu, Mama?” tanyaku.


“Kamu mungkin sudah paham tentang apa yang akan Mama sampaikan. Namun, Mama berharap kamu mau mendengar dan mengingatnya.” kata Mama.


Aku mengangguk mantap. “Tentu saja, Mama. InsyaAllah, Nindy akan selalu ingat pesan dari Mama.” kataku.


“Baiklah, Mama mulai ya, pertama, setelah menikah nanti, jadilah istri yang penurut. Nurutlah pada suamimu.” kata Mama.


Aku mengangguk.


Aku mengangguk.


“Ketiga, kurang-kurangi bepergian atau pergi bersama teman. Jujur, Mama dulu sering melupakan nasihat ini. Mama sangat menyesal, apa lagi karena sering bepergian, Mama melupakan anak-anak Mama. Jangan seperti Mama, Nak. Uruslah anak-anakmu kelak dengan baik.” kata Mama. Wajah Mama sangatlah sedih.


“Mama, sudah, Mama jangan lagi mengingat yang telah lalu. Bagi anak-anak Mama, Mama tetaplah ibu terbaik bagi kami.” Kataku.


Mama mencium pipiku.


“Mama sangat beruntung punya anak sebaik kamu.” kata Mama. “Yang keempat, kalau kamu mau pergi atau mau kemana-mana harus izin kepada suami.” lanjut Mama.


Aku pernah mendengar ceramah mengenai ini, namun tetap saja aku sangat ingin mendengarkan apa yang disampaikan oleh Mama.


“Baik, Ma. Aku tidak akan bepergian tanpa izin dari suamiku.” kataku.


Tersadar kalau aku mengatakan kata suamiku. Membuat pipiku langsung panas, aku yakin wajahku sudah merah seperti tomat saat ini.


Mama tersenyum dan melanjutkan. “Yang keberapa sekarang?” kata Mama sambil terkekeh.


“Yang keempat, Ma.” kataku.


"Yang keempat, jangan berbahagia di atas kesedihan suamimu, jangan pula bersusah hati di atas kebahagiaan suamimu." kata Mama.


Aku mengangguk lagi

__ADS_1


“Yang kelima, bertutur katalah yang baik. Kamu tidak boleh kasar baik pada suamimu ataupun teman atau tetanggamu kelak. Bertuturkatalah yang baik, pilihlah kalimat atau kata-kata yang baik. Bila datang masanya kamu begitu ingin mengumpat, diamlah. Diam lebih baik dari pada mengucapkan kata-kata yang buruk.” kata Mama.


Aku mengangguk.


“Yang keenam, sambutlah suami sepulang kerja. Tersenyumlah saat suami datang. Rapikan rumah sebelum suami kamu pulang. Dan rawatlah tubuhmu dengan baik. Sambut suamimu dengan pakaian yang baik juga." kata Mama


Aku mengangguk lagi


“Yang ketujuh, jaga aib suami dan aib keluarga. Dalam dunia pernikahan, kita tidak bisa memungkiri kalau masalah pasti akan terjadi. Nah, Mama berpesan jangan sekali-sekali kamu menjelek-jelekkan suami kamu kepada orang lain ya. Apalagi sampai membuat status di sosial media. Mama lihat belakangan orang-orang itu suka membuka aib suami dan keluarganya di sosial media, miris sekali, bukan hanya satu orang yang tahu, tapi seluruh dunia tahu.” kata Mama.


Aku mengangguk lagi.


“Yang kedelapan, jangan pernah bicarakan urusan ranjang kepada orang lain.” kata Mama.


Aku mengangguk.


“Yang kesembilan, perhatikanlah penampilanmu di hadapan suami. Usahakan selalu terlihat bersih, wangi, dan berdandanlah. Jangan sampai suamimu datang kamu bau dan kumal.”


“Berdandan, Ma?” tanyaku.


Pikiranku melayang pada pertanyaan apakah aku harus berdandan seperti orang yang ingin pergi kondangan.


“Bukan seperti kamu pergi kondangan ya. Hahaha.” kata Mama seakan bisa membaca pikiranku.


“Lalu seperti apa, Ma?” tanyaku.


“Kalau kamu berdandan full make up setiap hari nanti wajahmu jerawatan. Make up natural saja yang penting jangan polos dan kucel saja wajahmu.” kata Mama.


Aku mengangguk. Membenarkan semua kata-kata Mama.


“Lalu yang terakhir, aturlah keuangan dengan baik, jangan boros.” kata Mama.


Akupun mengangguk. “Terima kasih, Mama.” kataku mencium dan memeluk Mama.


Mama balas memelukku.


Mendengar 10 wejangan dari Mama, aku teringat pada Umi. Dulu saat di pondok, saat aku mengunjungi rumah beliau. Beliau menceritakan sebuah kisah tentang isi wasiat Umamah binti Al-Harits untuk putri tercinta di hari pernikahannya. Nasihat itu berjumlah 10. Nasihat ini adalah nasihat agar pernikahan bahagia. Isi yang terkandung di dalamnya kurang lebih seperti yang sebutkan Mama. Kini pikiranku kembali pada saat itu.


“Apa saja isi wasiat itu, Umi?” tanyaku pada Umi saat itu.


“Pertama dan kedua, tenanglah hidup bersamanya dengan sifat qana’ah (merasa cukup) dan bergaullah dengannya dengan sikap mendengar yang baik serta penuh ketaatan.”


“Ketiga dan keempat, menjaga dengan baik segala sesuatu yang tidak menyenangkan pandangannya dan segala aroma yang tidak menyedapkan hidungnya. Maka janganlah sampai pandangannya melirik sesuatu yang tidak menyenangkan darimu dan jangan sampai ia mencium sesuatu darimu kecuali dengan aroma yang baik.”


“Kelima dan keenam, menjaga dengan baik waktu tidur dan makannya. Karena rasa lapar yang berkepanjangan adalah sesuatu yang membuat emosi dan terganggunya tidur adalah sesuatu yang dapat membangkitkan amarah.”


“Ketujuh dan kedelapan, menjaga baik hartanya serta memelihara kehormatan dan keluarganya. Kunci kesuksesan dalam menjaga harta adalah dengan baiknya pengaturan sedang pada keluarga dengan baiknya pengasuhan.”


“Dan terakhir, kesembilan dan kesepuluh. Janganlah engkau membangkang kepadanya, dan janganlah menebarkan rahasianya. Sebab jika engkau membangkang perintahnya pasti akan membuat hatinya sumpel. Dan jika engkau menebarkan rahasianya maka engkau tidak akan aman dari ketidaksetiaannya."


Aku menghafal sepuluh nasihat ini dengan baik.

__ADS_1


Aku sangat beruntung memiliki Mama dan Umi. Aku ingin sekali menjadi istri seperti mereka. Semoga aku bisa mengamalkan semua pesan-pesan Mama dan Umi di pernikahanku ini. Dan bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah.


__ADS_2