Penjara Suci

Penjara Suci
PS 21 - Gengsi Tingkat Dewa


__ADS_3

Mendengar pernyataan kalau aku sudah berubah menjadi anak baik membuat Gus Faiz berhenti mendadak, hampir saja aku menabraknya. Kalau diperhatikan sepertinya dia suka sekali berhenti mendadak. Benar-benar kebiasaan yang buruk.


“Anak baik jaman sekarang sukanya teriak-teriak ya?" katanya.


"Anak jaman sekarang-anak jaman sekarang emang lo anak jaman kapan? Lo ama gue aja paling seumuran. Sok tua lo." kataku.


Dia hanya mendesis saat melirik sinis ke arahku. Rasanya ingin betul aku memarahinya lebih panjang.


“Nah, soal teriak-teriak. Lo harus ngertilah. segalanya butuh proses. Gak bisa instan! Semua butuh proses. Proses Gus, proses. Tau proses gak? Proses." kataku. Aku berbicara tepat di depannya. Meski begitu dia tetap mengarahkan pandangannya ke arah lain.


Dia melirikku sekilas, dan tetap diam. Diamnya ku artikan isyarat untuk melanjutkan.


“Gus, jujur ya, untuk sekarang-sekarang ini, ada dua manusia yang gak bisa gue jaim-in. Pertama, dia si pengurus aneh itu. Dia selalu cari gara-gara sama gue jadi gue gak jamin bisa tahan. Kedua, elo, gue juga gak tau kenapa bisa begitu, cuma ngomong begini menurut gue lebih nyaman. Toh sedikit banyak lo udah tau tentang gue, jadi gue rasa gak ada gunanya nge-jaim.” kataku panjang lebar. O, iya, jaim itu jaga image. Semacam jaga reputasi atau citra atau nama baik, ya seperti itulah.


Menyadari kedekatan kami, dia mundur selangkah. Demi Tuhan! Aku sudah gosok gigi, nafasku wangi, kenapa dia seperti ini kepadaku. Dasar tidak sopan.


“Ih! Demi apapun karena apapun, gue udah gosok gigi, nafas gue juga wangi. Duh, Gus, kenapa si lo tuh selalu bikin gue pengen maki-maki lo. Gue udah tahan maki-maki orang dari semalam, tapi kenapa ketemu sama lo bikin gue pengen maki-maki lagi. Lo tuh tempat maki-maki atau gimana sih!” kataku sambil meremas tanganku di depannya, gemas-gemas kesal.


Dia tetap memalingkan wajah kearah lain, ntah apa yang sedang dipikirkannya. “Kalau begitu, maki-maki saja saya sepuasnya, jangan orang lain.” kata Gus Faiz.


“Udahlah. Udah gak nafsu maki-maki lo. Gue duluan.” kataku, mulai berjalan.


Saat baru beberapa langkah berjalan menjauhi Gus Faiz, akupun teringat ada yang ingin ku katakan pada cowok angkuh itu. Akupun kembali.


"Gus Faiz!" teriakku, memanggil dia yang sudah selangkah pergi.


Dia berhenti dan menoleh.


"Kenapa?" tanyanya.


"Dasar sok ganteng. Nih buat lo!" kataku, lalu menginjak kakinya kuat-kuat lalu pergi setelah mendengar dia meringis.

__ADS_1


"Tunggu!" teriaknya.


"Bodo." kataku langsung lari takut dia mengejar.


Sesampainya di depan Ndalem Abah aku langsung disambut Umi dengan lembut. Tidak ada tanda-tanda kalau Umi akan memarahiku atau bertanya mengapa aku tak mau menemui keluargaku. Sepertinya ini juga bagian dari rencana Gus Faiz. Baguslah, dia bisa mengerti apa yang aku butuhkan.


Aku salat di tempat biasa. Setelah salat, Umi menghampiriku dengan 2 Al-Qur'an di tangan. Seketika keringat dingin menghujaniku. Rasanya aku ingin kabur ke planet mars. Aku tidak bisa membaca Al-Qur'an. Hafalan di sekolahku dulu pun hanya bermodalkan mendengarkan bukan membaca. Umi menyodorkan Al-Qur'an, mau tak mau aku menerimanya dengan tampang sok tenang.


"Ayo, Umi mau dengar suara Nindy, dari Al-Fatihah ya!" kata Umi. Dengan segala kekhawatiranku aku mulai membacakan surat Al-Fatihah. Bukan membaca sebenarnya. Aku hanya mengucapkan tanpa tahu hurufnya yang mana. Lalu setelah selesai aku mulai ketar-ketir.


Umi masih menungguku. Aku masih diam. Karena aku memang tidak tahu sama sekali cara membacanya dan aku lupa hafalan mana yang harus aku ucapkan saat bertemu dengan Surat Al-Baqarah ini.


"Maaf Umi, sebenarnya Nindy belum bisa baca Al-Qur'an." kataku dengan sejujur-jujurnya dan semalu-malunya.


Umi mengambilkanku buku Iqra dan aku tidak bisa juga membaca buku Iqra. Aku hanya bisa menggeleng lemah. Beliau melirik jam, dan aku bisa pastikan kalau beliau hendak pergi bersama Abah.


"Tunggu sebentar ya." pamit Umi, aku mengangguk. Dan tak lama kemudian Gus Faiz datang. Aku tak begitu terkejut karena ini adalah rumahnya, tadinya aku akan marah tapi melihat ada Umi di belakangnya aku memilih diam.


Aku amat sangat kecewa namun apalah dayaku. Jadi aku hanya mengangguk. Setelah mencium tangan Umi, Umipun pergi. Sepeninggal Umi, aku menjatuhkan tubuhku dan bersender ke dinding, aku mulai memejamkan mata karena masih mengantuk. Belum sempat aku tidur, baru saja aku menutup mata suara sialan itu terdengar lagi.


"Bangun." suara itu lagi. Aku langsung bangun. Dan mendapati dia duduk di hadapanku dengan sebuah meja berbentuk X yang sama seperti milik Ustaz tiap aku mengaji dengan buku Iqra di atasnya.


"Lo lagi, lo lagi. Gue injek lagi lo ya." kataku.


"Gak sakit." katanya.


"Gak sakit," kataku menirunya dengan melebih-lebihkan, "pret."


"Di Jakarta Iqra berapa?" tanya Gus Faiz.


"Please deh, nyokap lo kan lagi pergi, beliau gak bakal liat lo ngajarin gue apa enggak. Mending lo biarin gue tidur terus ntar tinggal bilang ke beliau kalo elo udah ngajarin gue." kataku kesal.

__ADS_1


"Saya tidak mau berbohong. Kamu udah Iqra berapa, An?" tanya Gus Faiz. Ntah mengapa tiap mendengar ia memanggil An seperti ada yang aneh.


"Kenapa lo panggil nama gue, An? Kan gue ngenalin dirinya Nindy." kataku. Sekalian mengalihkan perhatiannya dari buku Iqra. Jujur gengsi betul kalau ketahuan tidak bisa baca Iqra.


"Kamu Iqra berapa?" tanyanya sambil membolak-balikkan halaman iqra. Tidak terpengaruh.


"Gak asik.” kataku kesal.


"Ini kamu baca yang ini." katanya.


Aku hanya memandanginya. "Aduh, Gus. Kepala gue pusing, kayaknya gue harus ke pondok deh." kataku hendak kabur melarikan diri.


"Baca dulu!" katanya berdiri tepat di hadapanku, menghalangi jalanku.


"Kalo gue gak mau?" kataku.


"Gelang kamu ilang." katanya. Mendengar kata gelang kesayanganku itu akan hilang aku langsung memasukkan tanganku ke dalam mukena untuk mengecek gelang.


"Gus Faiz! Demi apapun karena apapun! Nyebelin banget sih! Benci banget gue sama lo!" teriakku geram. Bukannya takut Gus Faiz malah menahan tawanya terlihat sudut bibirnya tertarik.


"Kita mulai dari Iqra 1 ya." katanya duduk kembali. Mau tak mau demi gelang itu aku duduk di depannya. Dia menghadapkan buku Iqra-nya padaku lalu memberikanku kalam (alat penunjuk untuk membaca Al-Qur'an) untuk menunjuk huruf arab itu. Dia juga memegang 1 kalam yang berbeda warna denganku.


Dia mulai mengajariku. Alif, ba, ta, tsa.. aishh ternyata mudah. Rasanya aku seperti anak TK. Sesekali aku melirik tangannya, mencari gelangku.


"Besok kalau Umi ada acara lagi, kamu di ajari Linda ya, nanti saya bilang ke Umi." kata Gus Faiz.


"Enggak! Enggak, enggak. Gue gak mau sama dia." kataku. Aku benar-benar tak sudi di ajari anak tengil itu.


Tunggu, nama pertam yang diingatnya adalah Linda. Jangan-jangan memang benar apa yang dikatakan Linda kalau Gus Faiz adalah calon suaminya. Tapi, bukannya dia dijodohkan dengan Kak Ulfa?


Wah, kayaknya lo kudu gue back list dari hidup gue, Lin. -batinku.

__ADS_1


__ADS_2