
.
"Kamu kenapa sih? Muka kamu nggak enak banget di liat, Dari kemarin? Kamu nggak senang dengan pernikahan kita ini?, Iya?," Mata Kiran sudah memerah siap meluncurkan Air mata,
Kali ini Air mata yang keluar dari netranya murni karena kesal, bukan karena akting semata demi meluluhkan Hati Danis, Dirinya merasa kesal karena sejak mereka bersanding di pelaminan kemarin Wajah Danis sangat kaku dan dingin, tidak seperti biasanya,
Ada apa dengan pria yang sudah menjadi suaminya itu, Jika di tanya jawaba nya hanyai singkat dan padat, Membuat nya kesal karena merasa di abaikan oleh Suami nya sendiri,
" Aku capek, mau tidur," Danis membaringkan dirinya di tempat tidur dan memejamkan Matanya, Tanpa memandang Kiran yang sudah bersimbah Air mata,
" Sayang.. Jangan giniin Aku," Kiran merangkak naik ke tempat Tidur, dan memeluk pinggang Suaminya itu, Yang tidur membelakanginya,
"Sayang maafin aku, Kalau aku ada salah,
Aku nggak sanggup kalau kamu diemin gini,"
Kirana terisak-isak di belakang punggung Danis yang tak merespon sedikit pun,
" Hicks... Aku sayang banget sama kamu Dan, jangan cuekin aku," Danis yang mendengar rengek kan wanita yang sudah sah menjadi istri nya itu pun hanya berusaha memejamkan Matanya, Tanpa menanggapi semua perlakuan Istri nya itu,
Danis masih kecewa terhadap istri dan juga Ibu nya, Sebab telah mersekokngkok untuk memisahkan dirinya dengan Riri, Sehingga membuat Dirinya menyakiti hati mantan kekasih nya itu,
Bahkan Riri tidak menghadiri undangan nya yang ia titipkan kepada pegawai nya di Ruko,
Beberapa kali Danis mendatangi Ruko itu, dan berniat meminta maaf kepada mantan kekasih nya itu,
Namun sekalipun dirinya tidak pernah lagi bertemu dengan Riri, Setiap kali ia berkunjung Riri selalu tidak ada di tempat,
...****...
" Pih bangun, Papih..," Riri membangun kan Arya yang tidur di samping nya dengan tangan yang memeluk erat pinggang nya, Dengan sesekali mengecupi dagu Yang sedikit kasar karena janggut yang mulai menumbuh itu,
" Papiii bangun," Riri kembali membangun kan Suami nya itu dengan sedikit menggigit dagu nya, Membuat sang empunya mengeliatkan tubuh nya,
" Ada apa hem? Menggodaku kah? Pengen ini?," Arya berkata dengan membawa satu tangan Riri ke inti tubuh nya yang sudah terbangun sempurna, Nampak nya bukan hanya Arya yang berhasil ia bangunkan tetapi juga sesuatu yang sangat sensitif itu kini telah ikut terjaga,
__ADS_1
" ihh Papi nih, Aku mau makan sate yang banyak bumbu kacang nya," Tukas Riri yang kini telah memeluk Pinggang Suminya itu dan menghirup wangi tubuh Arya yang khas, Yang menjadi kegemaran nya Akhir-akhir ini,
" Sate?" Ulang Arya, sambil melirik jam yang tergantung di tembok, yang masih menunjuk kan pukul 2 dini hari,
" Sayang, kamu nggak salah?, mau makan Sate jam segini?," Arya menyandarkan punggung nya di sandaran tempat tidur, sembari mengucak matanya karena ngantuk,
" Iya pih Aku pengen makan Sate Ayam yang banyak bumbu kacang nya, mau sekarang,"
Rengek Riri, dengan kembali menciumi leher Arya, Supaya suaminya itu mau menuruti keinginan nya,
" Oke. oke, Tapi setelah itu. Aku mau ini" Tukas Arya sambil tangan nya meremas gemes dada istri nya yang semakin bertambah ukuran nya itu, Dan di angguki oleh Riri dengan senyum mengembang,
Arya bangkit dari tempat tidur kemudian menuju kamar mandi untuk membasuh wajah nyabyang menggantuk, Pikiran nya sedang berkelana, Keman ia akan mencari tukang sate dini hari begini,
" Tunggu Aku ya sayang," Ucap Arya dengan mengecup serta ******* singkat Bibir Riri yang selalu menjadi candu untuk nya itu,
" Iya, Harus dapet ya Pih!," Teriak Riri sebelum Arya menutup pintu kamar mereka,
" Astaga, Cari di mana tukang sate jam segini, " Gumam Arya yang berjalan menuju pintu keluar, Dengan menenteng kunci mobil serta Dompet nya,
. Sudah mutar kesana kemari, Namun Arya belum juga menemukan Pedagang sate yang biasanya banyak bertengger di atas trotoar jika malam hari,.
Sejenak ia terdiam, Memikirkan sesuatu, Tangan nya dengan cepat mengukir layar ponsel nya, Dan segera mendial sebuah nomor yang menurut nya bisa menyelamatkan nya malam ini,
Lama menunggu hingga Akhirnya telpo nya di angkat juga, Dengan suara khas orang ngantuk,
" Halo Bi.. maaf Arya ganggu waktu istirahat nya Malam-malam, " Tukas Arya yang ternyata menghubungi Bi Atun, yang berada di Kediaman Papa nya,
" Arya mau minta tolong sama Bi Atun, Arya jemput ya Bi, Ok, Makasih Bi, "
Setelah mematikan sambungan telpon nya Arya segera melajukan mobil nya menuju kediaman Papa nya, untuk menjemput Bi Atun
Yang katanya tahu di mana tukang sate yang masih buka jam 2 lewat Dini hari itu,
.
__ADS_1
" Kiri Den, Nah itu dia, Syukurlah masih buka, " tukas Bi Atun, Sembari membuka pintu mobil dan keluar,
" Sate nya masih ada mang?" Tanya Bi Atun pada Memang sate, Langganan nya Dulu bersama Nisa sewaktu Nisa ngidam tengah malam bahkan kadang jam 3 dini hari memang sate itu masih ada,
" Ehh Bi Atun lama nggak keliatan?" Tanya mang sate itu, Yang hanya di tanggapi senyuman oleh Bi Atun,
" Sedang Arya hanya berdiri mengamati interaksi Bi Atun dengan mang sate tersebut,
Dalam hati nya bertanya-tanya Kenal di mana Bi Atun dengan pedagang sate itu,
"Masih Bi, Masih banyak ini. Malam ini agak sepi, Tukas mang sate dengan tersenyum ramah kepada Bi Atun, " Mau pesan berapa tusuk Bi?" Tanya nya kemudian,
" Sebentar Mang," Bi Atun menoleh Arya yang masih berdiri memperhatikan nya, " Den Mau pesan berapa tusuk?" Tanya Bi Atun kepada Anak majikan nya itu,
Arya maju dua langkah kedepan, " Sayabmau pesan 50 tusuk mang, ayam semua ya bumbu nya di pisah, Terus lontong nya 10 biji utuh nggak usah di potong, " Tukas Arya, Setelah menyebutkan detail pesanan nya,
Arya menduduk kan dirinya di bangku plastik tanpa sandaran yang telah di sodorkan oleh Bi Atun kepadanya, " Makasih Bi," Ucap ny setelah menduduki bangku tersebut,
" Terima kasih ya Bi sudah mau di repotin sama Aku, Subuh-subuh begini," Arya memandang Art Papa nya itu itu tak enak, sebab telah mengganggu waktu istirahat nya,
" Nggak apa-apa Den, Santai Aja, Rasanya Bibi sudah sangat lama tidak pernah kesini lagi," pungkas Bi Atun, Sambil menerawang jauh, menggingat kebersamaan nya Dengan majikan kesayangan nya, Nisa, Yang selalu memperlakukan nya dengan baik layak nya saudara,
" Maaf Bi, Kalau boleh tahu, Bibi tahu darimana tempat ini?, Apa Bibi sering kesini? Sepertinya Bibi sudah sangat akrab sama penjual nya," Tanya Arya penasaran. Sebab setaunya Bi Atun itu jarang sekali keluar, Selalu nya di rumah Terus,
" Iya, sering Den, Dulu waktu Non Nisa ngidam, Bibi sering Di ajakin kesini makan sate tengah malam, mamang nya ini jualan sampai jam 3 subuh, Non Nisa sering nya ngidam Sate, dengan Bumbu kacang nya yang banyak, "
Tukas Bi Atun dengan semangat, Saat menceritakan pengalaman nya bersama Nisa saa berpetualang mencari makanan pada waktu tengah malam,
Arya yang mendengar penjelasan Bi Atun itu, Seakan ada pisau yang sangat tajam mengiris hatinya, Lelaki brengsek!! Itu adalah Dirinya,
.
Bersambung...
Jangan lupa like dan komen nya ya bestie 🤗
__ADS_1
Terima kasih banyak yang sudah mendukung karya Othor 🤗
Ramaikan juga karya Othor yang baru ya, Arum dan Azka🙏