
"Abang..,Nanti pulang jam berapa? Bareng Echa nggak?,"
" Nggak Dek, Abang pulang nya lebih lama dari pada Echa, Abang kan sekarang sudah SMP, Pelajaran nya juga semakin banyak dan susah-susah, "
Re mengelus rambut adik bungsu kesayangan nya itu dengan sayang, Dirinya selalu sabar melayani dan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan sang adik bungsu nya itu,
" Emm.. gitu ya, Terus kalau Echa kangen Abang gimana," Tanya Echa yang masih setia memeluk lengan Abang nya,
"Ya kan Abang nanti pulang Cha, Nggak nginep di sekolah, Lebay banget deh Adek ini, Kek Abang mau pergi sekolah ke luar degri aja"
Sahut Eza dari jok belakang yang duduk bersama Andra, Gemas dengan kecerewetan adik nya itu,"
"Mas ini.selalu aja rese ih, Abang...," Rengek Echa, dengan semakin memeluk lengan Re dengan wajah cemberut,
"Eza..sudah jangan usil, "Tegur Re menoleh ke jok belakang di mana ke dua adik nya berada,
"Iya bang, maaf," Sahut Eza patuh kepada Abang nya,
"Abang. Echa udh cantik belom?, " Echa bertanya kepada Re tentang penampilan nya, Sebelum ia turun dari mobil bersama kedua Kaka nya dan juga Lili yang akan menunggui nya sampai pulang sekolah nanti,
"Udah cantik, Adik Abang sangat cantik," Jawab Re, sembari mencubit pipi bulat adik nya itu,
Membuat cuping hidung Echa mengembang saat mendapat pujian dari sang Abang,
"Hilih, Dari subuh udah dandan masih ragu juga dengan hasil nya," Usil Eza,
"Eza," Tegur Re sebelum si bungsu ngambek karena ulah nya,
Eza yang mendapat teguran Abang nya itupun segera mengatur kn mulut nya, Kemudian menyalin tangan Papi nya dan juga Abang nya, Di susul oleh Andra dan juga Echa,
Ya pagi itu Riri tidak ikut mengantarkan anak bungsunya ke sekolah untuk pertama kalinya, Dirinya harus menemani Mama mertuanya untuk jadwal rutin cek up ke dokter,
Rencana nya ia akan mampir ke sekolah Echa setelah pulang dari Rumah sakit, Sekalian menjemput nya nanti,
Jadi pagi itu Arya yang mengantar kan semua anak-anaknya kesekolah, Setelah itu ia akan langsung ke kantor karena ada Rapat bulanan bersama para petinggi perusahaan,
__ADS_1
Sejak meninggal nya Tuan Wiguna, semua urusan kantor menjadi tanggung jawab nya sepenuh nya, Arya menjadi lebih sibuk setelah menduduki kursi direktur utama di perusahaan itu, Sedang Dimas selain menjadi asistenya di juga menjabat wakil direktur sekaligus,
kinerja Dimas memang tidak di ragukan lagi, Sangat cekatan dan loyalitas nya kepada perusaan tidak di ragukan lagi,
.................
" Mama mau makan sesuatu?, Ada yang di pengenin nggak? Kata dokter tadi semua nya normal Mama boleh makn daging tapi hanya sesekali saja, Nggak boleh terlalu sering juga ,"
Jelas Riri yang baru saja menghidupkan mesin mobil nya, sembari menoleh Mama mertuanya yng duduk di sebelahnya itu,
Nyonya Ranti berpikir sejenak, Memikirkan apa yang ingin ia mau sebelum menjawab,
"Sekarang Mama takut makan yang beresiko Nak, takut drop dan menyusahkan mu lagi, Sudah cukup Mama menyusahkan mu seperti ini, Mama_,"
"Mah...udah nggak usah ngomong gitu, Mama itu orang tua kami satu-satunya, Biarkan aku dan Mas Arya berbakti kepada Mama sebagai anak, Mama nggak boleh sampe ada perasaan seperti itu, Aku ikhlas tulus merawat Mama melayani Mama, Jadi aku nggak mau dengar lagi Mama ngomong kek gitu,
Tegas Riri tak bisa di bantah, Dan nyonya Ranti pun hanya bisa mengangguk kan kepalanya, Jika orang melihat nya mereka pasti mengira jika Riri baru aja memarahi mertua nya,
sebab wajah judes Riri dan suara nya yang tegas itu sering membuat anak-anak nya dan Mama mertuan nya tidak bisa berkutik, bahkan Arya pun jika salah tidak bisa melawan suara istrinya itu,
"Ya sudah Mama mau makan apa? kita beli atau singgahvmakan di tempat, Echa juga belum waktunya pulang, ini baru san Lili wa katanya Echa pulang jam 10, Masih ada waktu satu jam buat kita jalan-jalan, "
"Mama mau makan bubur ayam aja deh, Udah lama banget nggak makan itu, Terakhir makan itu dulu sama Papa, Waktu itu...."
Nyonya Ranti tidak bisa melanjutkan perkataan nya, Saat air matanya jatuh dan membasahi pipi keriput nya,
"Sudah Mah. doakan saja Papa di sana, semoga Papa mendapat tempat yang terbaik di sisi Tuhan yang maha kuasa,
"Mama sedih Nak, gara-gara Mama Papa.."
"Nggak...nggak gitu Mah, semua ini udah takdir, Semua memang sudah jalan nya, Papa dan Ibu berpulang dengan cara seperti itu, Ini bukan salah Mama oke, "
Sebenar nya Riri pun masih sangat merasa kehilangan, Atas kepergian Tuan Wiguna dan juga Bu Nining untuk selamanya, Dirinya yangvbegitu dekat dengan Bu Nining begitu sedih hinggak saat ini, Namun dirinya selalu berusaha untuk ikhlas dan menerima semua nya dengan hati lapang,
Akhirnya pagi menjelang siang itu Riri membawa Mama mertuanya untuk makan bubur Ayam di tempat makan Favorit nya,
__ADS_1
Dan untuk pertama kalinya seorang Nyonya Ranti yang dulu sombong dan angkuh itu duduk makan di kedai sederhana pilihan Riri,
Nyonya Ranti sudah tidak lagi seperti yang dulu, Sekarang dirinya lebih banyak mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan padanya saat ini, Menantu yang baik, Yng selalu siaga merawat dan memperhatikan dirinya setiap saat, Dan juga Cucu-cucu yang tampan dan cantik,
Semua itu adalah kebahagiaan nyata, Yang Tuhan berikan kepadanya di usia tua nya,
kebahagiaan yang tidak bisa di beli dengan uang,
........................
"Mba Dian. mba Dian kangen nggak sama ibunya mba Dian kalau lagi bekerja seperti ini?,"
"Em.. kangen sih Non, Tapi kan Mba harus kerja demi membantu biaya sekolah adik-adik mba di kampung, "
Sahut Dian sembari tangan nya menjabuti rumput-rumput liar setinggi lutut yang memenuhi makam Restie,
"Memangnya kenapa Non Nuna bertanya seperti itu?, " Kini Dian yang kembali bertanya kepada gadis kecil nan malang itu,
Di sana sangat terlihat kesedihan yang begitu tergambar di mimik wajahnya,. Dua bulan sebum nya iya mendapatkan telpon dari mantan majikan nya yang berada di LN,
Yang mengabarkan jika Nuna akan kembali ke Indonesia dan dirinya di minta untuk menjaga dan mengasuh nya, Seperti dulu, Dian Pikir Nuna akan kembali bersama Daddy nya dan akan menetap kembali di indo,
Akan tetapi ternyat dugaan nya salah, sebulan yng lalu dirinya yang sudah menempati rumah yang telah lama ia tinggalkan itu, Merasa sedikit kaget ketika seseorang yang ia ketahui sebagai kepercayaan Daddy nya Nuna itu datang dan mengantarkan Nuna seorang diri,
Dirinya hanya di wanti-wanti agar menjaga dan mengurus semu keperluan Nuna, Dan juga sebuah kartu ATM untuk gaji dan juga keperluan Nuna sehari-hari,
Nuna yang dulu gemuk dan berisi kini telah kurus dan tidak terurus, Bagaikan kekurangan gizi,
Dian merasa sngatvkasihan terhadap Anak Majikan nya itu, kenapa Nuna seperti itu, apa gadis kecil itu mendapat siksaan selama berada di LN?,
Bersambung.....
mohon maaf ya up nya telat terus, Othor lagi kurang Fit, natap layar hp lama-lama pusing,
jadi up nya molor,🙏
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen nya ya 🙏
Terima kasih 🙏