PERNIKAHAN MEMBAWA LARA

PERNIKAHAN MEMBAWA LARA
bab 146


__ADS_3

Setelah sampai di Rumah tanpa kata bocah 7 tahun itu segera turun dari motor dan langsung berjalan masuk ke dalam rumah,


Setelah mengucapkan salam, Re berjalan menuju kamar nya, Tanpa menyapa Adik-adik nya yang tengah bermain,


"Mbang....! " Pekik Echa antusias saat melihat Abang nya melintas di ruang keluarga itu,


"Mbang...!," Echa berjalan dengan tertatih-tatih mendatangi Abang nya yang baru pulang sekolah itu,


Sedang Re yang hanya menoleh sekilas saja saat mendengar suara panggilan Adik bungsunya,


kemudian ia kembali selangkah menuju kamar nya,


"Abang nya ganti baju dulu ya Dek, Nanti kalau sudah Abang pasti kesini gendong Adek Echa,"


Lili menghibur Echa yang berwajah sedih, sebab ia merasa di abaikan oleh Abang kesayangan nya,


Riri yang masih mengamati gesture Putra sulung nya itupun semakin resah, Dan bertanya-tanya dalam hati,


Ada apa dengan Re. tidak biasanya dia seperti itu, Apa ada yang membulynya di sekolah.


"Ri..Kenapa itu kok tumben tidak seperti biasanya. Ceria menyapa Adik-adik nya,"


Rupanya Nyonya Ranti pun memperhatikan tingkah aneh Cucu sulung nya itu,


"Nggak tau Mah, Aku sampe sekolah dia udhara gitu, Aku juga bingung, Apa ada yang bully dia ya Mah? kok perasaan aku makin nggak enak."


Riri telah menduduk kan dirinya di sofa, Tepat di samping Mama mertua nya,


"Mungkin Abang hanya kelelahan kali Ri, Nggak usah terlalu di pikirin nanti kepalmu sakit lagi," Nasehat Nyonya Ranti,


"Nanti kalau dia sudah lebih tenang, Sudah mandi dan makan Nanti kamu tanya pelan-pelan, "


"Iya Mah.." Jawab Riri sedikit tenang walau masih ada sedikit rasa gelisah di hatinya,


.


Sementara Re yang sudah berada di kamar nya kini tengah duduk melamun, Mengingat perkataan pria yang mengaku sebagai teman baik Mama nya itu.


Awalnya Re merasa bingung, Sebab selama ini dirinya belum pernah bertemu dengan pria tersebut, Yang mengaku sebagai teman Mama nya,


Tak terasa air matanya menetes membasahi kedua pipinya. Apakah betul semua yang di katakan Teman Mama nya itu benar,


.


.


Beberapa jam yang lalu di sekolah


.


" Bagaimana kalau Om Anter pulang mau..?," Daniel sudah kehabisan akal untuk membujuk Re agar mau mengikutinya.


"Kamu nggak percaya kalau Om ini temen Mama kamu?,  "   Tanya Danile dengan menatap bola mata Re dengan lekat,


" Om nggak bohong.., Kalau kamu.Masih ragu dengan perkataan Om, 


Om bisa bukti kan."  Lanjut Daniel memancing reaksi Re,


" Dengan apa?. Dengan apa Om bisa bukti kan kalau Om nggak bohong?," 


"Banyak, salah satu nya Om tahu kalau Mamamu yang sekarang ini bukan Mama kandung kamu kan?,"  


Tukas Daniel dengan hati bersorak puas kala melihat perubahan wajah bocah di hadapan nya itu,


" Mama kandung kamu sudah… ehem..sudah meninggal kan?,"   ia sengaja mengucapkan hal itu, Ia ingin keluarga Arya yang bahagia itu hancur,


"Nggak…! Om pasti bohong, Mami aku ngga meninggal,Mami aku ada di rumah bersama Adik-adik ku, Om jangan ngomong sembarangan, " 


Tukas Re membantah semua yang di ucapkan Daniel kepadanya, 


Tidak.tidak mungkin jika dirinya tidak di lahir kan pada ibu yang sama dengan adik-adik nya, 


"Loh Om nggak bohong. Om kira Re Sudah tahu kalau Re itu bukan Anak kandung Mama mu yang sekarang," 


Dalam hatinya Daniel semakin bersorak penuh kemenangan, 


Dirinya telah berhasil mengusik ketenangan keluarga harmonis Arya, 

__ADS_1


'Tunggu saja Arya.. Ini belum seberapa baru hanya pembukaan saja, silahkan nikmati kekacauan keluarga yang kau bangga-banggabkn itu," 


"Ya sudah kalau kamu nggak percaya Sama Om, Tapi.. Ini Om punya buktinya. ini foto pernikahan Papamu dengan Mama kandungmu. "


Dengan seringai jahat nya Daniel memperlihatkan foto dalam Ponsel nya, yang ia dapatkan  entah dari mana itu,


 


"Bagaimana..? Om nggak bohong kan?, " 


Tanya Daniel lagi,


Sedang Re hanya membuang muka ke arah lain, 


Wajahnya datar namun jelas menampakan  kekecewaan yang mendalam di sana,


"Ok Om pergi duluan ya, Karena kamu kan nggak mau menerima tawaran baik dari Om, " 


Re tetap tak bergeming saat Daniel berpamitan padanya, 


Hatinya masih syok atas apa yang ia dengar barusan, 


Benarkah dirinya bukan anak kandung Mami  nya?   Apa ia harus bertanya kepada sang Mami untuk memastikan semua ini? 


Dari kejauhan ia sudah melihat Mami nya datang terburu-buru mengendarai motor kesayangan mereka berdua,


Dengan wajah khawatir Maminya mendekat kepadanya,  Hatinya semkin bertanya-tanya, 


Otak kecil nya berpikir keras, Apakah dirinya benar-benar bukan Anak Mami nya?  Mami kesayangan nya ini bukan Mama kandung nya begitu kah?


Re menghapus air matanya dengan puunggung tangan nya, Hatinya sedih Mami kesayangan nya ternyata bukan Mama kandung nya,


Dengan air mata yang masih menetes Re membaringkan tubuh nya di tempat tidur, 


Tak berselang lama Re pun tertidur masih dengan sisa-sisa air mata di kedua sudut matanya, 


"Mah..kok Abang belum keluar kamar juga ya, ini sudah waktunya makan siang," 


Riri yang sejak tadi merasa khawatir itupun kini tengah mondar-mandir di depan mertuanya,


"Aku merasa seperti ada sesuatu yang di sembunyikan nya Mah..Apa Abang di Bully di sekolah dan nggak ngomong?," Terkait Riri lagi, 


Membuat Riri melongo, mendengar pertanyaan Putra nya itu,


"Em bukan sayang itu bukan makanan, Bully itu ada mengolok teman dan itu nggak boleh, Ok, " Jelas Riri dan Andra pun mengangguk kan kepalanya mengerti 


Dengan penjelasan Maminya,


"Mungkin Abang ketiduran kali Ri, Coba kamu ke kamar nya aja liat Ri," Usul Nyonya Ranti, 


Tanpa menunggu lama Riri pun segera menuju kamar Putra sulung nya itu, 


Tok!


Tik!


Tok!


"Bang…Mami boleh masuk?," 


Tak ada sahutan dari dalam,  Riri pun kembali mengetuk pintu nya dan hasil nya tetap saja sama tidak ada sahutan dari dalam, 


Membuatnya semkin khawatir  Riri pun memutar hendel pintu dan ternyata tidak di kunci, hal itu sedikit membuat nya lega


Dengan perlahan Riri mendorong pintu kamar Putra nya itu, 


Dari ambang pintu ia bisa melihat ke arah tempat Tidur disana Re tengah tertidur lelap dengan memeluk guling, 


Riri mendekati ranjang anak nya, Memperhatikan wajahnputra nya itu,


Namun alangkah kaget nya ia saat melihat sudut Mata Re yang masih menyisakan lelehan air mata, 


"Ada apa denganmu sayang, Siapa yang telah menykitimu, sehingga saat  tidurpun Abang menangis seperti ini," Riri menghapus sisa air mata di kedua sudut mata putra nya itu, 


Dan semakin bertambah khawatir saat menyentuh pipi Re yang panas, Re demam,


"Ya Tuhan kamu demam sayang," 

__ADS_1


Riri panik bukan main, saat memeriksa  tubuh putra nya yang demam., 


"Mba Tita tolong ambilkan air hangat sama handak kecil ya, buat ngompres Abang, Abang demam, " Ucap Riri dengan wajah Panik nya, 


" Panas..? Abang demam nak..?,"  Tanya Nyonya Ranti seraya berdiri ingin melihat keadaan Cucu sulung nya itu,


" Iya Mah Abang demam, Pantes dari tadi di tungguin nggak keluar-keluar, dia tidur, pas kun pegang badan nya panas, Padahal tadi masih baik-baik aja, Dia juga nggak ada ngeluh," 


Jelas Riri sembari mengaduk isi tas nya yang ada diatas meja,Mencari Hp nya untuk menghubungi Arya,


"Mih Abang sakit..?," Tanya Eza mendekati Maminya, 


"Iya sayang, Abang demam, Eza jagani adik-adik dulu ya.Mami mau nelpon Papi dulu," 


Ucap Riri dengan menempatkan hp nya di telinga, menciba menghubungi Arya, 


Eza pun mengerti dan kembali mengajak kedua adik nya bermain di temani oleh Lili dan Sumi,


Di kamar Re,


Nyonya Ranti mendekati Cucu nya, Dengan duduk di tepi ranjang wanita tua itu mereka kening Cucu sulung nya itu,


"Ini air nya Nyonya," Tita meletakkan kan baskom kecil yang berisi air hangat dengan handak kecil du dalam nya, 


Nyonya Ranti menerima handak kecil yang telah di celup kedalam air hangat dan di peeas oleh Tita, Kemudian mengimpres kening Cucu nya,


"Om..Om bohong kan Mami Re nggak meninggal,Re Anak Mami Riri," 


Re mengigau karen Demam nya yang tinggi, 


Sontak saja Nyonya Ranti melebarkn kedua bola matanya, 


Dari mana Re tahu hal itu, Seingat nya Riri dan Arya belum mencaritakan yang sebenar nya kepada Re, dari mana Re mengetahui hal itu, Apa ada seseorang yang berniat buruk kepada keluarga nya,


" Tita..tolong kamu kompres dulu ya, Saya mau bicara dengan Mami nya dulu," 


Nyonya Ranti  beranjak dari duduk nya kemudian berjalan keluar kamar, Dari tempat nya berdiri ia melihat Riri  yang berbicara melalui sambungan telpon dengan Arya, 


Sembari menghapus  air matanya yang telah jatuh membasahi pipi nya, 


"Iya Pih. Aku tunggu.. Hati-hati di jalan ya.,"  Riri telah memungkasi sambungan telponya.  Dan kembali menyusui sisa air matanya, 


"Nak.." 


Riri menoleh ke samping di mana Mama mertua nya berdiri, 


 


"Iya Mah, Gimana? Abang sudah di kompres sama Tita? Bentar lagi Mas Arya pulang, Jika panas nya tidak turun-turun Mau di bawa ke rumah sakit, 


" Mama mau ngomong sama kamu, Di kamar Mama, Ini soal Re," Ucap Nyonya Ranti, 


Membuatnya Riri mengkerutkan kening nya bingung, Namun tak urung mengikuti langkah Mama mertuany itu,


.


" Seperti nya ada seseorang yang berniat jahat  kepada keluarga kita Nak, "


 Jelas Nyonya Ranti dengan perasaan bersalah yang begitu mendalam di hatinya, 


"Maksud Mam..?," Tanya Riri dirinya masih bingung kan arah  perkataan Mama mertua nya itu,


 "Tadi saat Mama di kamar Re mengigau, sambil terisak," Nyonya Ranti sudah menjatuhkan air matanya, tak kuasa mentahan sedih saat mengingat kesalahan nya di masa lalu, Dan sekarang berimbas kepada Cucu nya,


"Mengigau..? Abang mengigau apa.? Dan kenapa Mama nangis," Riri semakin bingung melihat Mama mertunya menangis,


"Abang nigau…."  Nhonya Ranti menjelaskan apa yang keluar dari mulut Cucunya itu. 


Riri membekap mulut nya syok saat mendengar penjelasan dari Mama.mertuanya itu    


Siapa? Siapa yang sudah berani menyakiti Putra kesayangan nya, Rasanya ingin sekali ia meremas mulut kurang ajar itu,


 


Bersambung...


jangan lupa like dan komen nya ya bestie 🤗

__ADS_1


Terima kasih


maaf bila banyak typonya,🙏


__ADS_2