PERNIKAHAN MEMBAWA LARA

PERNIKAHAN MEMBAWA LARA
Bab 165


__ADS_3

Malam hari setelah makan malam, Keluarga Arya selalu berkumpul di ruang keluarga, Berbagai cerita tentang kegiatan yang anak-anak lakukan sepanjang hari, Sebelum waktunya tidur, Riri sangat memperhatikan waktu tidur anak-anak nya,


Anak-anak nya sudah harus masuk kamar di jam 8 malam, Tidak ada bantahan, Riri melakukan semua itu agar anak-anak nya memiliki kualitas istirahat yang baik dan cukup, Agar ke esok kan harinya mereka bangun dengan tubuh yang fit,


Arya duduk di sofa panjang berhadapan dengan Nyonya Ranti, dengan satu tangan nya melingkar di pinggang istrinya, Tangan usil nya sesekali meremas gemas pinggang istrinya yang selalu membuat nya candu,


"Mas! jangan mulai deh, Nanti Echa liat, Entar ngambek lagi," Riri sedikit menepis tangan nakal suaminya itu, Namun bukan nya berhenti Arya malah semakin menjadi kelakuan nya,


Bahkan dengan sengaja berbisik di telinganya nya dengan mengigit gemas bahunya, Hingga ia merasa kegelian,


"Sayang.yuk masuk kamar, Mas mau..., "


"Papi...!, "


Lengkingan suara si bungsu membuat Arya tidak dapat meneruskan kata-katanya,


"Tuh kan apa ku bilang, " Ucap Riri sembari menahan senyum,


"Ya ampun sayang, " Rengek Arya kepada Riri, kemudian menoleh


si bungsu yang kini telah berjalan menghampiri mereka, meninggalkan mainan boneka barbie nya bersama Lili yang juga menahan senyum geli nya, Kala melihat Nona ceriwis nya itu menggangu kemesraan kedua majikan ya,


"Papi ngapain nempel-nempei gitu sama Mami Echa, Geser Pih, " Gadis bungsu Arya itu segera menyusupkan tubuh nya di antara kedua orang tua nya, Tanpa menunggu Papinya bergeser Kemudian menggelayut manja di lengan Maminya,


Membuat Arya dengan pasrah menggeser duduk nya kesamping dan memberikan tempat untuk putri ceriwis nya itu,


Nyonya Ranti yang menyaksikan itu tak kuasa menahan senyum, Saat melihat wajah pasrah putra nya, Nyonya Ranti melirik ketiga cucunya yang lain, Ketiga nya sedang Asik menyusun lego berbentuk menyerupai robot jika menyusun nya dengan benar,


Mainan itu baru saja di beli oleh Arya tadi sore, Arya memang sengaja membelikan mereka mainan seperti itu, Agar anak-anak nya tidak main gadged melulu,


Riri juga sangat membatasi anak-anak nya dalam menggunakan Gadged, Mereka boleh bermain Gadged hanya di hari libur saja,

__ADS_1


Termasuk Re yang sudah duduk di bangu SMP kelas 8,


"Dek.mau nggak kalau punya adik bayi, " Tanya Arya kepada putrinya, Dirinya sengaja bertanya seperti itu, Ia ingin menggoda putri nya itu,


Riri yang mendengar pertanyaan suaminya yang mustahil itu pun sontak menoleh memandang suaminya dengan memincing kan matanya, Sedang Arya hanya nyegir menanggapi polototan istrinya,


"Nggak!! Echa nggak mau punya adik bayi, Cukup Echa aja yang jadi bungsu terimut dan tercantik di keluarga ini, " Ucap nya dengan percaya diri, Jika dirinya adalah yang terimut dan tercantik,


" Emang Adek cantik dan imut gitu?, " Goda Arya lagi dengan sengaja,


"iya dong. kan Echa anak perempuan satu-sayunya di keluarga ini, Pastilah cantik dan imoet kan Mami?, " Ucap nya sembari meminta dukungan dari Maminya,


"Iya sayang Echa yang paling cantik dan imoet sejagad rumah ini, " Tukas Riri dengan mengelus rambut panjang putrinya,


Arya masih ingin menggoda putrinya, Namun isyarat Riri yang menggelengkan kepalanya, Tanda menyuruh nya berhenti itupun, Langsung di turuti oleh nya, Dan mengurungkan niat nya untuk menggoda putri bungsunya itu,


Tak terasa jam di dinding pun kini sudah menunjukkan pukul 8 malam, Sudah waktunya semua orang beristirahat, Re dan kedua adik nya sudah masuk kekamar mereka masing-masing,


Sontak saja hal itu membuat sang Papi bersorak gembira dalam hati nya, Akhir nya kini ia mendapatkan kesempatan lagi untuk mengeksekusi istrinya dengan leluarsa, (bebas)


Dan setelah memastikan semua penghuni rumah itu sudah masuk kedalam kamar mereka, Tanpa di duga Arya langsung membopong tubuh langsing Istrinya, Membuat Riri sedikit terpekik karena kaget, Tiba-tiba di angkat begitu oleh Suaminya,


"Mas. turunkan aku, Biar aku jalan sendiri saja nanti ada yang lihat, " Ucap Riri dengan suara pelan, khawatir jika tetiba ada yang keluar dari kamar, Dan menyaksikan tindakan konyol mereka itu,


Tenang saja sayang, Mereka semua sudah masuk kamar dan tidur, Sekarang giliran kita ok!, Aku merindukan sentuhan mu sayang,"


Arya melangkah lebar menuju kamar nya dengan Riri dalam gendongan nya, Dirinya sudah tidak sabar ingin menikmati layanan istri tersayang nya itu, Malam panjang pun mereka lalui tanpa gangguan si ceriwis yang sedang mengungsi ke kamar Oma nya,


...............................


"Bagaimana?, Apa Nuna akan kembali ke negara Tuan Daniel?, "

__ADS_1


Belum ada jawaban dari bibir mungil itu, Nuna masih terdiam berpikir, Langkah apa yang akan ia ambil untuk hidup nya, Hidup nya yang malang,


"Maaf kan Mba ya Non, Sebetulnya nya Mba tidak ingin membuatmu bersedih dengan semua ini, Tapi Mba harus pulang ke desa. Ibu Mba sakit keras di sana, Dan..dan Mba harus pulang untuk merawat nya, "


Lanjut Dian dengan berat hati, Dian tidak tega kepada Nuna yang sudah ia anggap seperti adiknya


itu, Namun keadaan sang ibu di desa sudah sangat memprihatinkan, Dan Dian sebagai anak perempuan yang paling tua itupun harus kembali ke desa, Untuk berbakti kepada Ibu nya,


Dian mendapatkan kabar itu sebulan yang lalu, dari adik nya yang berada di desa, Namun karena Nuna yang akan menghadapi ujian kelulusan nya, Dian menunda nya dan tidak memberitahu Nuna, Hingga Nuna selesai ujian,


Dian tidak ingin Nuna terbebani pikiran nya saat mengikuti ujian kelulusan nya, Dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahu kan nya akan rencana kepulangan nya beberapa hari kedepan, Setelah Menyelesaikan tugas teraakhir nya mendampingi Nuna,


Dian juga sudah menghubungi Tuan Daniel beberapa hari yang lalu, Untuk memberi tahu nya, Namun tidak ada respon dari sang Tuan,


Bahkan pesan nya pun tak kunjung di balas hingga saat ini,


Nuna meneteskan setitik air matanya di kedua sudut matanya, Dirinya merasa bingung saat ini, Apa yang harus ia lakukan, Apakah tinggal seorang diri, Nuna masih takut untuk itu, Nuna masih membutuhkan teman, Nuna masih butuh seseorang seperti Dian untuk menemaninya, Apakah jika mencari pengasuh baru akan sama baik nya seperti Dian,


"Non, " Dian merasa sangat tidak enak hati dan iba, Saat melihat gadis kecil itu menitiskan air matanya,


"Mba Dian. Apakah... apakah Nuna bisa ikut mba Dian?, " Nuna mengusap air matanya dengan tisue yang ada di tangannya,


Dian sedikit terkejut saat mendengar ucapan Nuna barusan, Apakah yang di katakan nya itu sunguh-sungguh, Apakah gadis kecil di depan nya ini akan sanggup hidup di desa bersamanya,


"Apakah mba Dian mau membawaku serta pulang ke desa?, Nuna nggak punya siapa-siapa lagi di kota ini, Daddy juga semakin sibuk akhir-akhir ini sulit sekali menghubunginya, " Suara Nuna sangat pelan saat mengucapkan kata itu,


Membuat Dian semakin merasa iba dengan gadis kecil itu, Malang sekali nasib nya,


Bersambung...


Dua bab lagi akan tamat ya bestie, mohon maaf dengan keterlambatan up nya,

__ADS_1


Terima kasih yang sudah setia membaca novel receh ku ini 🙏


__ADS_2