PERNIKAHAN MEMBAWA LARA

PERNIKAHAN MEMBAWA LARA
bab 107


__ADS_3

" Aku kangen Kak Nisa Mas, Aku mau ngunjungin Kakak aku," Riri melepaskan pelukan nya dari tubuh Arya,


" Tentu sayang," saut Arya, Dengan mengusap kedua pipi mulus istrinya yang di kelehi air mata itu, Sedtik kemudian Arya telah mengajukan kembali kendaraan nya, Menuju TPU yang terletak tak jauh dari Rumah keluarga Riri,


Setelah berkendara sekitar 15 menit, Kini Arya sudah memarkirkan mobil nya di depan pagar TPU tersebut, Riri langsung keluar dari mobil, tampa menunggu Arya membukakan pintu,


Riri menghampiri penjual Kemang dan air yang biasa di jual di BBM luar pagar TPU itu, Setelah mendapatkan yang ia butuh kan Riri segera masuk kedalam tanpa menoleh ke belakang,


Sedang Arya yang memperhatikan Istri nya dari belakang itupun dengan sigap mengikuti langkah nya,


" Sayang, Tunggu Mas dong, masa Mas di tinggal begitu aja, Aku juga mau mengunjungi bunda nya Re," Arya menggandeng sebelah tangan Riri, Yang menoleh sesaat ke arah nya, Saat Arya berkata ingin mengunjungi juga Kakak nya,


Kemudian kembali melanjutkan langkah nya, tanpa menyaut perkataan Arya, Hati nya sedang merindukan Kakak nya saat ini, Dan ingin segera sampai di mana sang kakak tertidur untuk selamnya,


" Hay kak, Apa kabar hari ini?, Aku merindukanmu," Riri menghapus airmata yang meleleh di pipi nya, Sebelum terjatuh ketanah,


perlahan tangan nya mencabut satu persatu rumput yang tumbuh di atas makam sang Kakak,


" Kak..Kak Nisa Merindukan aku juga nggak, Kak Nisa pasti sudah berkumpul dengan Ayah dan Ibu kan?, Aku benar-benar merindukan kalian," Riri menghapus kembali air matanya yang terus saja menetes,


Sedang Arya hanya bungkam, Tak tahu harus mengatakan apa, kepada mendiang istri nya itu, Sejak tadi ia hanya mendengarkan untaian kata-kata kerinduan Sang istri kepada Kakak dan juga Ayah Ibu nya,


Arya sedang merangkai kata-kata yang tepat untuk mendiang Istri nya itu, Hatinya masih terasa nyeri kala mengingat Nisa dan juga dosa-dosa yang telah ia perbuat kepada Almarhum istrinya itu,


"Nisa.., Istriku sayang, Aku mohon maaf atas segala perlakuan kasar ku kepadamu sayang,


Ampuni aku, yang tak sempat membahagiakan mu, maafkan Aku yang telah menyakiti hatimu, Maafkan aku yang telah menyia-nyiakan mu, Maafkan segala Dosa yang telah aku lakukan kepada mu,


Iringilah kami dengan dengan doamu dari sana ya sayang, kamu adalah wanita hebat,wanita terbaik yang pernah aku miliki,

__ADS_1


Arya mengatakan sederet kata itu dalam hatinya, Setitik air telah jatuh di kedua sudut matanya dirinya benar-benar sangat merasa berdosa kepada almarhum istri nya itu, Nama Nisa masih tersimpan rapi di sudut hatinya yang paling dalam, Arya tidak akan melupakan Wanita baik dan hebat seperti nya,


Dirinya sekarang akan fokus kepada keluarga kecilnya, memperbaiki semua yang telah ia rusak, Berusaha menjadi suami dan Ayah yang baik bagi istri dan juga putra nya,


ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, masa lalu cukup untuk menjadi pengajaran untuk nya kedepan nya, Agar bisa lebih baik lagi,


Setelah menumpahkan keluh kesah nya kepada Kakak yang ia rindukan, Kini Riri dan Arya telah kembali berjalan keluar menuju gerbang TPU, Sesekali Riri menoleh ke belakang memandang makam sang kakak yang perlahan menjauh dan tak terlihat lagi oleh nya,


" Apa kita langsung pulang?," Tanya Arya, tanpa menoleh Riri yang duduk di sebelah nya, dengan satu tangan nya Menggenggam tangan Kanan Riri, sesekali mencium nya,


"Iya, Langsung pulang aja, eh.itu baby gimana? " Tanya Riri kemudian seolah baru ingat jika bayi kesayangan nya hari ini di ajak Opa nya jalan-jalan,


" Papa sudah di rumah, Tadi ngabarin, sebelum masuk ke makam," Saut Arya,


sambil fokus mengemudikan mobil nya,


.


Tuan Wiguna yang sedang berbunga-bunga itu kini menggeser duduk nya mendekati Bi Nining yang tengah menunduk kan pandangan nya malu, Malu sebab Opa nya Re itu terus saja menggoda nya sejak tadi siang, saat tak sengaja Re menyuapkan ya kentang goreng bekas gigitan nya,


" Bapak disitu saja, nggak enak nanti ada yang lihat,"


Bi Nining tengah menoleh kesana kemari, demi mencari apakah ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka, Ia khawatir jika dilihat oleh Marni Art yang ada di rumah itu, yang umur nya tak jauh berbeda dengan dirinya, Pasti akan sangat malu rasanya, jika di pergoki oleh nya,


" Apa sih Bu, Kan nggak ngapa-ngapain ini, cuma duduk dekat aja," pungkas nya dengan tersenyum simpul, merasa sangat gemes saat melihat wajah was-was Bi Nining,


Wanita manis di samping nya ini telah menerima dirinya yang telah berulang kali menyatakan keinginan nya untuk saling mengenal satu sama lain,


Tuan Wiguna telah melamar nya untuk menjadi Istri dan juga teman hidup nya di masa tua, siang tadi saat mereka berada diatas biang Lala, Sangat Romantis bukan, Namun di tolak dengan halus oleh wanita itu, Dengan alasan jika Dirinya tidak pantas untuk seorang Tuan Wiguna,

__ADS_1


Dirinya hanya seorang wanita Miskin yang bernasib malang, yang di pungut oleh Riri yang berbaik hati menampung dan juga Merawat nya dengan kasih sayang, Sehingga ia bisa merasakan kebahagiaan di umur nya yang sudah hampir setengah abad itu,


Bi Nining merasa minder dan sadar diri, ia merasa sangat jauh dari kata pantas jika di sandingkan dengan Seorang Tuan Wiguna, Seorang pria gagah nan berwibawa,


Dengan harta dan tahta yang beliau miliki, di luar sana pasti masih banyak wanita-wanita muda yang masih seger, Yang bersedia menjadi pendamping nya,


"Jangan geser duduk lagi Bu, nanti kamu jatoh, itu sudah mentok loh di ujung," Tuang Wiguna terus saja melancarkan Aksi nya,


Wanita di samping nya ini sangat pemalu sekali, pikir nya, Saat di taman bermain tadi mereka bagaikan pasangan Abege yang sedang di mabuk cinta, Dan Re yang berada di antara mereka, Terus saja di manfaatkan oleh Sang Opa, untuk memodusi Nenek nya,


" Iya, Tapi saya malu kalau ada yang lihat kita duduk dekat seperti ini, Nggak enak nanti kalau Anak-anak liat,"


"Malu kenapa, kita kan lagi masa pedekate kalau kata anak-anak muda jaman sekarang ini, kenapa malah jauh-jauh han gitu," Kilah tuan Wiguna.


Bi Nining akan kembali menggeser letak duduk nya, Namun dengan sigap Tuan Wiguna mencegah nya dengan menagkap pergelangan tangan nya, Membuat Bi Nining terlonjak kaget dengan ulah Opa nya Re itu, Membuat kaki nya yang belum berpijak sempurna kelantai itu terplcok dan tubuh nya jatuh menimpa Tuan Wiguna,


Sesaat pandangan mereka saling bertemu, membuat Jantung kedua berpacu dengan kencang,


" Ya Ampun.. Maaf Pak.!" Bi Nining yang menyadari posisinya yang tidak baik untuk kesehatan jantung nya itu pun dengan segera ingin bangkit dari tubuh keras pria itu,. Namun lagi-lagi tangan Tuan Wiguna menahan nya,


" Kenapa? Takut di pergoki Anak-anak ya, Aku malah seneng kalau di pergoki Anak-anak, Kita bisa langsung di nikahkan saja," Tukas nya enteng, Dengan senyum di kulum,


" Aku nggak nyangka sayang, Kalau Opa nya Re itu ternyata benar-benar genit,"


Suara Arya yang baru saja memasuki Ruang keluarga itu, Terasa menggema di Ruangan itu, Dan membuat kedua manusia parubaya itu sedikit terlonjak,


.


Bersambung......

__ADS_1


jangan lupa jejak-jejak nya ya bestie


terima kasih 🙏🤗


__ADS_2