
" Dengar Danis, Jika kamu masih mau melihat Ibu bernafas di dunia ini, Kamu harus mau Bertunangan dengan Kirana, Titik! "
Braak..! Bu Siska keluar dari kamar Putra nya dengan membanting kencang daun pintu malang tersebut,
Danis bergeming, mendengar penuturan Ibu nya, Pikiran nya kalut, Memikirkan Riri kekasih nya, Dan juga Ibu nya,
Dan semua ini penyebab nya adalah Wanita sialan itu, Kirana, " Arrggggh......,! "
Danis berteriak mengacak Rambut nya frutasi, Jika ia menolak pertunangan ini, Maka ibu nya akan murka kepadanya,
Namun jika menerima nya, Maka dirinya akan di Tinggalkan oleh Riri Kekasih yang di cintai nya, Kepalanya benar-benar mumet saat ini,
.
.
" Bagaimana Mah? Cantik nggak? "
Kirana berputar-putar di depan Mama nya, saat mencoba Gaun cantik nan elegan, Untuk di kenakan nya di hari pertunangan nya dengan Danis Kekasih masa kecil nya,
" Sangat Cantik sayang! Kamu memang Anak Mama yang tercantik di dunia, "
Mama Ria membingkai wajah Kirana Putri semata wayang nya, Mama Ria sangat menyayangi Kirana melebihi apapun,
Apapun keinginan Kiran, Sapaan akrab nya,
Selalu ia wujud kan, Termasuk pertunangan nya dengan Danis, Anak dari sahabat semasa sekolah dulu,
Danis harus mau menikah dengan Kiran, bagaimanapun cara nya, Akan dia lakukan demi Putri kesayangan nya,
" Danis pasti akan mengagumi kecantikan kamu sayang, " Ria membelai Rambut Kiran dengan sayang,
Kiran yang mendengar pujian dari Mama nya, merasa sangat bahagia, Apa lagi membayangkan Danis yang akan terhipnotis saat melihat dirinya dalam balutan gaun mewah nan indah itu,
Membayangkan hal itu membuat Perutnya seakan meledakkan ribuan kupu-kupu,
yang berterbangan,
Rasanya sudah tak sabar ingin hari itu cepat tiba, Dirinya akan bertunangan dengan Danis,
membayangkan nya saja sudah membuat pipi nya Merona merah,
.
__ADS_1
" Bagaimana Bu?, " Riri bertanya dengan nada khawatir, Sebab Re yang yang tiba-tiba rewel sedari pagi tadi, Dan terus memanggil-manggil Papi nya terus menerus, Hingga lelah dan tertidur,
Riri terpaksa meninggalkan Rendi rumah bersama Bi Nining, Karena hari ini briefing bersama seluruh Karyawan SDA,
Yang selalu di lakukan rutin setiap awal bulan,
Dan Riri harus hadir selaku Atasan para Karyawan nya, Dan Re yang merajuk hingga tertidur itu, Terpaksa Riri Tinggal bersama Bi Nining di rumah,
Jam masih pukul 11 siang, Riri merasa gelisah, perasaan nya tidak enak, Memikirkan Re, yang Rewel mencari Papi nya,
" Den Re masih tidur Nak belum Bagun dari tadi, Ibu pegang dahi nya agak hangat, Kalau sudah selesai lebih baik cepat pulang ya Nak, biar Den Re bangun Sudah ada Maminya di Rumah, "
Bi Nining berkata sehalus dan setenang mungkin, Agar Riri yang masih di SDA tidak panik,
" Re panas Bu?, Aku pulang sekarang, "
Riri mematikan sambungan telpon begitu saja, Dan bergegas keluar Ruangan,
" Bang Fikri.. Aku pulang Anak ku sakit Tolong urus semuanya ya, " Riri berlalu dengan tergesah setelah pamit kepada Fikri,
Fikri yang melihat Bos nya tergesa-gesa begitu, Dengan segera menggikutinya sampai di parkiran Mobil,
" Mba Riri..? Ada apa? " Fikri meraih kunci mobil yang ada di tangan Riri yang bergetar karena Panik,
Riri seger masuk dengan raut khawatir, Khawatir dengan keadaan Re,
" Ri, Kamu tenagin diri kamu dulu, Jangan nyetir dalam keadaan panik, Bahaya, "
Fikri masih menahan sisi pintu Mobil tersebut,menjadi Karyawan senior di SDA membuat nya, Tak sungkan untuk menasehati Riri yang sudah dia anggap seperti keluarga itu, Lebih tepat nya seorang Adik,
Riri yang lebih muda 4 tahun di bawah nya itupun tak keberatan jika Fikri menasehatinya, sebagai seorang Kakak,
" Sekarang tarik nafas pelan-pelan dan buang lewat mulut dengan perlahan, "
Fikri memberikan instruksi agar Riri mebih tenang,
" kalau sudah tenang baru kamu boleh pergi, percaya sama. bang Fikri, Big bos nggak akan kenapa-napa,. Oke! , "
Riri mengganguk di selah mengatur Nafas nya,. " Makasih Bang, Aku balik dulu ya. Aku udah lebih baik, "
Riri membunyikan klakson mobil nya saat meninggalkan halaman parkir Toko SDA itu, Di iringi dengan tatapan Fikri,
" Sesampainya Di rumah Riri langsung menuju kamar nya, Dan dari luar dirinya sudah mendegar tangisan Re, Yang masih mencari Papi nya,
__ADS_1
" Papi..hua.. Papi.. hick! "
Riri masuk dengan tergesa dan segera menuju kamar mandi untuk mencuci tangan nya, Sebelum mendatangi Anak nya,
" Sayang.. Sini Nak sama Mami, " Riri merentang kan tangan nya, Kepada Re yang masih menghentak-hentak kan kakinya dalam gendongan Bi Niningz
Mendegar Suara Mami nya Re segera menyambut uluran Tangan Riri dan memeluk leher nya, .
" Mi..., Papi., " Re kembali merengek, Dengan kepala nya yang terkulai lemas di bahu Riri,
Rengek kan Re, Terdengar memilukan, Seorang Anak yang tengah merindukan Papi nya, Walau bagaimanapun juga, ikatan batin tak bisa di pungkiri, Rasa rindu itu pasti ada,
apalagi Re masih sangat kecil, Sedang butuh-butuhnya kasih sayang ke dua Mami Papi nya,
Terbesit rasa bersalah di hati Riri, Keegoisan nya telah membuat Re, Sedih sampai rewel dan demam,
" Maafin Mami yang egois ini ya sayang,
Mami masih mengedepankan dendam ketimbang Perasaan mu sayang, "
Riri sudah mengeluarkan Air matanya, sejak tadi, Bu Nining mengelus sayang punggung Riri, yang bergetar karena tangis tanpa suara,
" Bagaiman ini Bu?, Kita kerumah sakit sekarang, Aku takut Re kenapa-napa!, "
Riri berkata seraya menagis,
" Paapi...! " Re kembali memanggil Papinya,
Dan hal itu semakin memuat Riri merasa bersalah,
" Re Sayang maafin Mami ya! " Kita telpon Papi ok!, Jangan Nagis lagi ya cup cup cup sayang nya Mami, "
Riri menimang Re, Seraya tangan nya mengukir layar Phonsel nya, dan mencari nama kontak Papi nya Re,
kemudian menelponya, masih dengan air mata, yang semakin deras jatuh di pipi nya,
bersambung....
jangan lupa like dan komen nya ya bestie 🤗
karena dukungan dari kalian itu adalah penyemangat buat Othor,
terima kasih 🙏
__ADS_1
love you all 🌹🌹🌹😘😘