PERNIKAHAN MEMBAWA LARA

PERNIKAHAN MEMBAWA LARA
bab 113


__ADS_3

Beberapa jam yang lalu di Resto,


Arya merangkul bahu Istrinya dengan tangan kanan nya menggendong putra nya, memasuki loby Resto Ternama itu, Di samping Riri Bi Nining berjalan dengan ragu, 


Bi Nining yang tidak pernah sama sekali menginjakkan kaki nya di tempat-tempat mewah seperti itu, Terlihat sangat rikuh, dan sedikit tegang, 


Dirinya baru menginjak kan kakinya di Mall setelah Bersama Riri,  Riri juga sering mengajak nya makan di Restoran mahal namun tak se elite yang mereka datangi saat ini, 


Selama hidup nya Bi Nining banyak menghabiskan waktunya untuk berkerja, membantu sang Suami,


Dan juga untuk mengalihkan dirinya dari kesepian karena ketidak hadiran nya seorang anak,


Suaminya dulu sering sekali mrngatai dirinya mandul, wanita tidak berguna, Dan sebagai nya, Saat mereka bertikai, 


Bi Nining  selalu bersabar mengahadapi suaminya yang bermulut tajam itu, dia tetap berbakti dan melayani sang suami dengan baik,


Walaupun kerap di maki dan di hina oleh nya, Bi Nining tetap mendampingi suaminya itu sampai ajal menjemput sang suami, Untuk pergi meninggalkan nya selama nya, 


 Dirinya hidup sendiri dengan tetap berkerja sebagai tukang cuci di sebuah Rumah yang di upah harian yang hanya cukup untuk ia makan dan juga bayar kontrakan,


 


 


 


Setelah menyebutkan Nama dan juga Nama Papa nya Arya kembali membawa keluarga kecil nya menuju Ruangan VIP yang sudah di Reservasi oleh Sang Papa, Dengan mengikuti  Seorang pegawai Resto tersebut,


" Santai Bu, Jangan grogi begitu," 


Bisik Riri di telinga Bi Nining, Saat ia menyadari cengkraman di lengan nya sedikit menguat, saat memasuki Restoran itu, 


Bi Nining yang mendengar bisik kan Riri di telinga nya pun teryenyum, seraya menganguk kecil,


Dari kejauhan Arya sudah bisa melihat Papa nya yang sudah duduk menunggu kedatangan mereka, Dengan Stelan Jas yang rapih, Tak ketinggalan dasi kupu-kupu yang tersemat di bawah dagunya, membuat Opa dari Re itu terlihat sangat gagah di usia nya yang sudah setengah abad itu, 


Tuan Wiguna sudah menarik senyum yang sangat lebar saat melihat kedatangan mereka, 

__ADS_1


" Astaga.., Seperti nya Mas kalah pamor dari Aki-aki yang duduk di kursi sana," Arya berbisik di telinga Riri seraya menunjuk dengan dagu nya ke arah Sang Papa, Yang tak hentinya menebar senyum kepada Bi Nining sejak mereka memasuki area VIP itu,


" Ih Papi nih bisa aja," Riri terkekeh kecil mendengar perkatan Suaminya itu,


" Aku bukan pria romantis, Aku juga bukan pria sempurna, Tetapi Aku akan berusaha menjadi yang Terbaik untuk mu,"  Tuan Wiguna menjeda kalimat nya demi menarik nafas nya dengan panjang,


" Sri Wahyuningsih,   


Mau kah kamu menjadi Istriku, Menjadi teman di kala senjaku ini, Menemaniku di saat suka maupun duka, Kita menjalani hari-hari tua kita bersama dalam ikatan suci pernikahan?," 


Tuan Wiguna berucap seraya menekuk sebelah lutut nya berjongkok dengan sebuah Cincin berlian di tangan nya, Di hadapan Bi Nining yang sudah berkaca-kaca, menyaksikan persembahan Tuan Wiguna untuk nya, 


Riri pun juga demikian, dia telah menitihkan Air matanya, saat melihat Bi Nining dilamar seorang pria seromantis itu,


Di lubuk hatinya yang paling dalam, Riri berharap semoga Papa mertuanya itu bisa membahagiakan Wanita yang sudah ia anggap sebagai Ibu itu,


Arya yang menyaksikan Papa nya melamar seorang wanita yang akan menjadi Ibu sambung nya, Perasaan nya terbagi dua saat ini, Di satu sisi ia bahagia karena Papa nya tidak sendirian lagi, Sudah ada seseorang yang akan mengurus nya, Memperhatikan kesehatannya, Dan tidak kesepian lagi


Namun di lain sisi ia kasihan dengan Ibu kandung nya, Yang telah di cerai oleh sang Papa, Ibu nya yang angkuh itu kini hidup kesepian, Dan sebagai pelarian Beliau kerap bermain judi bersama teman-teman nya


Sudah berulang kali Arya mengingatkan dan juga menasehati Mama nya itu, Namun seperti biasa, Nyonya ranti selalu tak menghiraukan semua perkataan Arya,


"Ceh! Sok kecakapan betul, " Cibir Arya masih memandang Papa nya yang kini telah bangkit dari berlutut nya, Setelah Bi Nining menerima buket bunga tersebut dengan senyum malu-malu,


" Kenapa sih Pih, iri aja liat Papa romantis kek gitu," Tegur Riri kepada suaminya, Setelah mendengar cibiran Arya kepada Papa mertua nya,


Malam itu Tuan Wiguna telah Resmi meminta Bi Nining kepada Riri Menantunya untuk ia Nikahi seminggu lagi, 


Bi Nining menolak Resepsi, karena Sudah terlalu tua, Malu katanya, 


Bi Nining hanya menginginkan Akad yang sederhana, dengan Mas kawin seperangkat Alat Sholat, 


Pagi menjelang 


"Mami.., Nggak usah urusin Papi terus, Kelon  Abang aja sini," 


Re merajuk pagi itu, Sebab Mami kesayangan nya tengah di monopoli oleh Papi nya, Re cemburu melihat Papi nya sangat manja, Kepada Mami nya pagi itu,

__ADS_1


" Iya sayang sebentar ya, Mami pasangkan dasi Papi dulu, Papi sudah terlambat kekantor, Kasian Om Dimas sudah nungguin dari tadi," Tukas Riri tangan nya masih menyimpul dasi din leher Arya, 


" Pih, berdiri yang bener dong, jangan meluk-meluk dulu, Kasian itu si Abang udah monyong mulut nya," 


Riri memarahi Aryan karena sejak tadi tangan Suaminya itu terus saja memeluk pinggang nya, 


Dan Re yang menyaksikan kelakuan Papi nya itu Terus saja meminyongkan bibir nya, kesal, Sebab dia merasa Papi nya itu terlalu manja, Re tidak suka itu, 


Semenjak kehamilan Riri  Re semakin posesif keada Mami nya, Tak jarang Arya kena protes Putra nya itu jika melihat nya mendekati sang Mami.


" Udah dong jangan cemberut gitu, Abang kan ganteng, Masa gitu aja ngambek," Arya telah selesai bersiap, Dan kini tengah membujuk Putra nya yang duduk di Tepi ranjang, Masih memasang muka cemberut, 


" Yuk sarapan, Nanti siang Abang kekantor Papi sama Mami ya, Kita makan siang bareng di Mall," Rayu Arya kepada  Putra nya itu,


" Benar Pih?," Sahut Re cepat, Hilang sudah wajah yang terlipat tadi, berganti dengan wajah ceria, 


" Benar dong, kapan Sih Papi Bohong sama Putra Papi yang tampan ini," 


 


"Yeay!  Asik aku mau main seluncuran nanti ya Pi," Ucap bocah dua tahun itu, Yang segera melompat dari tepi ranjang ke bawah, 


" Ayo Mami kita sarapan, Kasian Papi nnti telat," 


Lanjut Re lagi seraya melangkah mendahului kedua orang tua nya yang terbengong menyaksikan perubahan suasana hati sang Anak,  Yang begitu cepat,


" Yuk Pih, buruan, Nanti telat,"  Ucap Riri yang hendak melangkah keluar kamar, Namun Arya segera menahan lengan sang istri, 


" Cium dulu sayang," Rengek Arya, Membuat Riri tak kuasa menolak keinginan Suaminya itu,


Dengan segera Arya menyeruput sarapan pagi nya, dengan terus ******* dan menggigit kecil Nya bibir penuh sang Istri yang selalu membuat nya Candu,


" Papi!! Buruan, Abang udah paper nih," 


Suara Re yang melengking dari ruang makan itu, Berhasil menyadar kan kedua orang dewasa yang tengah saling menyeruput itu.


Mohon maaf bila banyak typo🙏

__ADS_1


Karena sistem papan ketik yang error 🙏


Jangan lupa like nya ya bestie 🤗


__ADS_2