
"Sayang, kamu cantik banget,Makin gemesin ih. Jadi pengen gigit Arya menguyel-nguyel pipi Riri yang semakin berisi,
Riri tengah duduk di depan meja rias nya, menyapukan makeup tipis di wajah nya, Terlihat sangat cantik dan Anggun, Bumil itu terlihat semkin hari semkin cantik dan sexy,
" Papi ih, jangan di uyel-uyel gitu, Entar pipi aku dower, " Riri menjauhkan wajah Arya yang masih menciumi pipi nya,
"Gemes sayang, Kamu makin hari makin cantik dan sexy," Bisik Arya sembari menggigit kecil Telinga Riri, Membuat Riri meremang, Bulu-bulu harus nya seketika berdiri, karena ulah sang suami,
" Mas jadi pengen anu, Yuk sebentar aja, Biar aja Papa nunggu bentar," Tukas Arya menaik turunkan kedua alis nya, Di susul dengan ringisan sebab Tangan Riri telah mencubit pinggang nya dengan sadis,
" Mesum, Ini udah jam 7, Acaranya jam 10, Kasian Papa nanti Pih," Riri menatap nya dengan galak,
" Astaga, Galak banget sih bumil ini, Mas kan jadi makin gemes liat ini," meremas dada Riri yang semakin montok, Dan Riri kembali memukul tangan suaminya itu,
" Abang mana?" Riri sudah selesai dengan berdandan nya, menoleh kepada Suaminya yang masih menggelayuti tubuh nya,
"Abang sudah siap, dia lagi liatin Nenek nya di makeup, " Arya kembali mengecup pipi Riri dengan gemas dan berpindah ke bibir penuh nya yang selalu menggoda,
" Sudah ih, berantakan lagi ini lipstik nya," Dumel Riri kembali berkaca dan mrmperbaiki lipstik nya, yang berantakan karena ulah suaminya,
Sedang sang pelaku hanya terkekeh-kekeh, Melihat wajah lucu istrinya,
Hari ini Mereka akan mengantarkan pengantin wanita yang akan melakukan Akad nya di sebuah masjid Agung di kawasan pusat kota,
Bi Nining memilih melakukan akad di salah satu masjid besar di kota itu, Itu adalah impian nya sejak muda dulu, Dan Tuan Wiguna menyetujui hal itu,
Baginya, Apapun itu yang penting itu sesuai keinginan wanita yang akan ia nikahi, Untuk menjadi teman di masa Tuanya, yang kesepian,
Dulu ia memilih Ranti, Dan berharap bisa bersama hingga maut memisahkan mereka, Tetapi, Ranti semakin tak terkendali, Saat Wiguna memanjakan nya, dengan kasih sayang dan memenuhi kebutuhan nya,
Sudah berulang kali Tuan Wiguna memperingati nya, Saat itu, Namun tak pernah di anggap oleh Ranti, sehingga puncak dari segalanya adalah,
Ketika Ranti melakukan hal yang membuat Tuan Wiguna tak bisa lagi memaafkan istri nya itu, Dan berujung dengan menceraikan nya,
.
Tuan Wiguna tengah mematut dirinya di cermin besar di dalam kamar nya, ia akan menikah lagi hari ini, Semoga pilihan ny klin ini bisa menemuinya hingga di ujung nyawa,
Dia tak sabar menunggu jam berputar sampi ke angka 10 nanti, Ia merasa
__ADS_1
berdebar-debar Saat ini,
" Ahh. uda mirip abege aja nih jantung," Gumam nya, Sambil tersenyum geli dengan dirinya sendiri,
Tok! tok! Tok!
Suara ketukan di pintu kamar nya membuat nya menyudahi acara berkaca nya, berjalan menuju pintu nya dan membuka nya,
" Maaf Tuan, Mobil sudah siap, Kita semua juga sudah siap,"
Tukas Bi Atun, sedikit menunduk kala menyampaikan hal itu, Bi Atun pun sudah rapi dengan pakaian terbaik nya, Untuk menghadiri pernikahan Majikan nya tersebut,
" Ok, Lima menit lagi kita berangkat," Ucap nya, Setelah Art nya itu,Tuan Wiguna segera merogoh saku celana nya,Dan mengeluarkan Ponsel nya, Dan menghubungi Arya,Putra sematawayang nya, itu, untuk
Bertanya posisi mereka saat ini,
" Halo Ar, Sudah sampai di mana? jangan sampi telat loh,"
" Ini sudah di jalan Pah, Tenang aja semua beres pokonya, Pastikan Papa nggak grogi nanti, Saat ngucap Ijab, Karena nggak ada yang nenangin Papa,
masa sudah Aki-aki masih grogi, Trus salah ngucap nama Kan mulu Pah,"
"Anak kurang ajar, Beraninya ya begitu sama orang tua," Tuan Wiguna bersungut-sungut,Seraya mematikan sambungan telpon nya,
Masih sempat ia mendengar Riri menegur perkataan Putra nya itu, Sebelum ia mematikan telpon nya,
.
" Pih, Jangan gitu ngomong sama Papa, nggak Sopan, Kasian Papa,"
Tegur Riri saat ia mendengar Suaminya itu menggoda Papa mertua nya, Riri kasian sama Opa nya Re itu, Sendirian, Seharusnya nya saat-saat seperti ini Arya mendampingi Sang Papa,
Tetapi jika Arya mendampingi Papa nya, lalu bagaimana dengan Dirinya, Selaku kelurga mempelai wanita, Arya juga tidak mengijinkan kan Riri untuk menyetir Mobil sendiri,
"Iya sayang, Maaf, Mas kelepasan tadi," Arya mencubit gemas Pipi istrinya yang
semakin berisi itu,
"Nenek, Nenek cantik sekali paket baju begini,"
Suara dari jok tengah, membuat Arya dan Riri terdiam menyimak perkataan Putra mereka, Yang sedang memuji Sang Nenek,
__ADS_1
" Terima kasih Sayang, Cucu Nenek juga udah ganteng sekali ini, Jawab Bi Nining, sembari mengelus kepala bocah Dua tahun lebih itu,
Dan seperti biasa, Re kembali menyapukan tangan nya, memperbaiki tatanan rambut nya, dengan gaya sok Cool,
" Astaga, Anakmu Pih," Riri terkekeh-kekeh, menyaksikan kelakuan Putra nya itu,
Sedang Arya hanya tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepala nya,
Bagaimana nanti kalau anak nya itu sudah dewasa,
.
" Saya terima nikah dan kawinnya, Sri Wahyuningsih Binti Muis Abdullah ALM, dengan mas kawin seperangkat alat Sholat di bayar Tunai,"
Sekali tarikan nafas Tuan Wiguna sukses melafalkan Ijab nya tanya salah sedikitpun,
"Bagaimana para saksi, Sah?"
"SAHHHH!!!!!," Kor para hadirin, Dan suara Arya dan Dimas yang paling nyaring terdengar,
" Alhamdulillah," Ucap Pak Penghulu, dan segera membaca doa,
Bi Nining, Dengan malu-malu mencium punggung tangan Tuan Wiguna yang sudah sah menjadi suaminya itu,
.
"Aaarrrgggg!!!!!, Kurang ajar kalian! Kalian berbahagia di atas penderitaan ku," Suara teriakan Ranti menggema di dalam kamar nya itu,
Prang!!!!, Bruk, Kedua art nya segera berlari dan mengetuk pintu kamar majikan mereka,
Tok! tok! tok!
"Nyonya?, Apa Nyonya baik-baik saja?"
Panggilan kedua art itu tak mendapat sahutan dari dalam kamar yang mendadak senyap,
.
.
Bersambung…
__ADS_1