
💞Happy Reading💞
"Ayah.Yora boleh main di Play ground?" Tanya seorang gadis kecil yang berjalan di gandeng oleh Ayahnya,
" Tentu sayang. hari ini Ayah untuk Yora, Yora mau kemana dulu nih?"
"Yora mau main dulu,Mau main mandi bola,"
"Ya udah yuk kita kesana," Danish menggendong Putri nya menaiki Eskalator
Menuju lantai atas dimana arena bermain untuk anak-anak itu berada,
Saat ia melangkahkan kaki nya menuju Arena Play ground itu, Dari kejauhan ia melihat seorang wanita yang sedang duduk di bangku khusus untuk para orang tua yang menunggu anak-anak mereka bermain,
Sudah hampir lima tahun lama nya tidak bertemu dengan nya, Namun ia masih sangat mengenali nya, wanita cantik dan baik itu adalah mantan kekasih nya, Wanita itu pernah ia kejar cintanya, Tidak mudah meluluhkan hati nya kala itu, Sampai pada akhirnya dirinya berhasil mendapatkan cintanya,Namun pada akhirnya hubungan mereka kandas karena kebodohan nya sendiri,
Sampai saat ini ia masih menyimpan perasaan cinta nya untuk wanita itu,
Akibat kebodohan nya dan juga perbuatan Kirana dan Ibu nya, Dirinya kehilangan kekasih yang ia cintai,
"Yah..Ayah…," Yora menggoyangkan lengan Ayah nya karena panggilan nya tidak di sahuti,
"Ah..iya sayang, Maaf Yora ngomong apa tadi?," Danish tersadar dari lamunan nya tentang Riri,
Ya hari itu Danish mengajak putrinya berjalan-jalan ke Mall yang berada di pusat kota itu, Tanpa Kirana,
"Yora mau kaos kakinya warna pink," Jawab nya,
"Oh..Oke. " Jawab Danish sembari membayar karcis dan juga mengatakan kepada penjaga karcis itu jika Putri nya mau kaos kaki warna Pink, Setelah memastikan putri nya masuk ke arena mandi Bola nya di awasi oleh pengasuh nya,
Danish memberanikan diri mendekati tempat di mana Riri duduk dengan memainkan Ponsel nya, Yang terlihat sangat serius, Sampai-sampai tidak menyadari keberadaan seseorang yang telah duduk di samping nya,
Danish memperhatikan bentuk tubuh Wanita masa lalu nya itu secara detail, Danish bisa melihat jika wanita yang masih asik dengan Ponsel nya itu sedang Hamil,
Apakah Ini adalah kehamilan pertama nya? Seharusnya nya yang dia kandung itu adalah anak nya, Bukan anak pria lain, Batin nya,
"Hay..Apa kabar? Seperti nya kamu bahagia ya hidup bersama nya," Tukas Danish yang telah menduduk kan dirinya di samping Riri yang terkejut,
Riri terkejut saat suara familiar itu kembali terdengar di telinga nya, Sedetik berikut nya Riri menoleh ke samping di mana suara itu berada,
"Hay..apa kabar?," Ulang Danish mengulang sapaan nya, saat melihat Riri yang terlihat sedikit terkejut, Wajah datar Riri mengingatkan nya saat-saat pertama kali ia mendekati nya dulu,
Datar. judes dan galak, Tidak ada lagi pandangan lembut untuk nya di sorot mata datar itu, Danish semakin meyakini jika dirinya memang sudah kehilangan wanita nya itu,
" Baik, Sangat baik," Jawab Riri datar seperti biasa jika baru pertama kali mengenal orang,
"Sendirian?Kemana suami kamu?," Tanya nya lagi, Sebab ia tidak melihat keberadaan suami Dari mantan kekasih nya itu,
"Ada.,lagi beli cemilan buat anak-anak ku," Jawab nya singkat,
'Anak-anakku' Berarti ini Bukan kehamilan pertamanya, Batin Danish.
"Kamu sendiri disini ngapain? Anak kamu main disini juga, Istri kamu mana?," Tanya Riri tanpa memandang lawan bicaranya,
"Iya. Anakku lagi main di dalam," Menunjuk arena mandi bola, istriku nggak ikut, " Anak kamu berapa?, " Akhirnya Danish tidak bisa menahan rasa penasaran nya, Dan menanyakan hal itu kepada mantan kekasih nya itu,
__ADS_1
"Anak aku?...Anakku bakal empat," Jawab nya sembari mengelus perut buncit nya, Membuat Danish sedikit kaget, sebanyak itu?, Berarti kehidupan nya benar-benar bahagia,
Sangat berbeda sekali dengan nya, Hubungan nya dengan Kirana jauh dari kata harmonis, apalagi bahagia,
Dirinya yang selalu mengacuhkan sang Istri, Membuat Kirana menyerah pada akhirnya, Kirana Tidak lagi memohon perhatian kepadanya, Wanita itu kini cenderung pendiam,
Jika Tidak ada yang penting maka dia tidak akan bersuara,
"Anak Kamu udah berapa?," Tanya Riri masih seperti tadi tanpa menoleh,
"Anak aku cuma satu, Rumah tangga aku nggak sebahagia kamu Ri," Tukas Danish muram,
Riri yang mendengar perkataan Danish itupun menoleh memperhatikan wajah Danish, Pria itu terlihat banyak pikiran, Wajah nya keruh tidak bersemangat, Riri hanya bis menghela nafas,
"Hubunganku dengan nya nggak baik, Sejak aku tahu jika penyebab kandas nya hubungan kita karena ulah nya dan Ibuku," Ucap Danish menatap Riri yang juga menatap nya tanpa expresi,
"Aku mau minta maaf sama Kamu Ri, Tentang kesalahan aku dulu,Aku udah nuduh kamu yang Nggak-nggak, Aku beneran nyesal Ri, Berulang kali aku mencarimu di Toko tapi.kamu selalu nggak ada, Aku…,"
Kata-kata Danish di potong cepat oleh Riri,
"Aku sudah memaafkan mu, jauh sebelum kamu meminta maaf, bagiku tidak baik menyimpan sesuatu yang tidak pantas di hati kita, Karena itu akan membuat kita mengabaikan seseorang di sekitar kita yang sebenarnya nya tulus mencintai kita,
Namun karen keegoisan kita, Tanpa sadar kita telah menyakitinya, hanya karena rasa sesal dan tidak terima akan takdir yang telah Tuhan pilihkan untuk kita,
Sehingga membuat kita mengabaikan seseorang yang butuh perhatian kita, Yang butuh kasih dan cinta kita,"
Tukas Riri Tanpa menoleh Danish yang memperhatikan nya berbicara,
"Jika Kamu menyesal karena keputusanmu saat itu, Maka yakinlah dalam hatimu jika itu adalah yang terbaik buat kehidupan kita saat ini, Dan jika sudah tahu menyesal itu tiada guna maka perbaikilah apa yang kamu punya saat ini, Jangan sampai kamu menyesal untuk yang kedua kali nya, Bisa saja penyesalan kedua itu akan sangat menyakitkan dari yang pertama,"
Lanjut Riri lagi kali ini ia menatap lekat mata Danish, Meyakinkan Pria itu jika di hatinya tidak ada lagi yang tersisa dari kisah mereka, Mereka sudah usai, Saat Riri menerima lamaran Arya Ayah dari anak-anak nya, Suami yang ia cintai
Danish masih tekun mendengarkan setiap perkataan Riri padanya, Mencerna nya dengan baik,
"Saran ku, Setelah dari sini pulanglah minta maaf lah padanya, minta maaf lah kepada wanita yang telah mengandung dan melahirkan anak mu, Jangan kamu sia-siakan demi sesuatu yang tiada arti,"
Ucap Riri panjang lebar.
Tak lama terdengar suara panggilan dari Putra sulung nya, Membuat pembicaraan mereka berhenti dan sekian
"Mami.. Abang haus mau minum susu ada?," Re yang berlari dari dalam arena mandi bola itupun kini menghampiri Maminya, Re sudah tidak mengenali Danish lagi, Karena saat itu usianya masih satu tahun lebih, Dirinya sudah lupa, Dengan apa yang terjadi di masa lalu,
"Ini ada..Jangan lari-lari bang,ini keringatan nya sampe basa begini bajunya padahal AC ny dingin loh," Ucap Riri sembari menyodorkan Susu kemasan kotak kepada Putra Sulung nya itu, kemudian meraih beberapa lembar tissue dari dalam tas nya dan menyeka keringat yang ada di kening putra nya,
"Papi mana Mih? Kenapa Papi nggak jagain Mami?. Nanti kalau Mami menapa-napa gimana nggak ada yang liat," Re mengkerutkan kening nya saat menanyakan Keberadaan Papinya,
"Ada bang, Papi lagi beli burger buat Mami dan yang lain nya, Mami nggak kenapa-napa kok disini, Paling bentar lagi Papi balik," Ucap Riri, Putra nya ini memang sangat menjaga nya,
Sedang Danish hanya diam terpukau dengan kecerdasan Re, Bayi yang dulu sering ia gendong kesana kemari , Dan sekarang Bayi itu sudah menjelma menjadi seorang pria kecil yang sangat menjaga Ibunya,
"Udah gih main lagi, Ini bawain susu juga buat adik-adik nya, Siapa tahu mereka haus juga, "
"Nanti aja Mih, Abang mau tunggu Papi, Kasian Mami sendirian disini,"
Re menduduk kan dirinya di antara Riri Dan Danish,mereka memang agak sedikit jauh duduk nya, di antara mereka masih bisa diduduki dua orang dewasa,
"Nah itu Papi sudah datang," Tunjuk Riri kepada Arya yang baru saja tiba di dekat mereka
__ADS_1
"Kenapa sayang, Abang mau ketoilet?," Tanya Arya setelah menaruh kantong belanjaan nya di bangku kosong yang ada di sebelah kiri Riri,
"Nggak Pih, Tadi Abang haus, Pas kesini ternyata Mami sendirian jadi nya Abang temenin dulu sampai Papi datang," Jawab Re,
"Oh..Gitu.Pinter Anak Papi," Puji Arya membuat cuping hudung Re mengembang karena bahagia mendapat pujian dari Papinya,
"Anak kamu pinter ya Ri.," Tukas Danish, Membuat Arya memutar kepalanya ke samping menoleh ke arah suara seseorang yang menyebut nama istri nya,
Riri hanya menanggapinya dengan tersenyum,
Sedikit terkejut Arya mendapati mantan rival nya itu sedang berada di sana,
"Apa kabar Pak Arya, Semakin sukses aja nih sekarang," Danish mengulurkan tangan nya kepada Arya, yang masih terdiam menelisik wajah Danish yang tersenyum kepadanya,
"Kabar yang sangat baik," Jawab Arya dengan menyambut uluran tangan Danish,
Sekilas ia menoleh istrinya yang berwajah datar itu, Yang sedang asik menggigit Burger jumbonya dengan lelehan mayones dan saus itu, terlihat sangat menikmati sekali tak memperdulikan situasi di sekitar nya,
"Ayah..Yora haus," Suara panggilan Yora menghentikan percakapan antara Arya dan juga Danish,
Gadis kecil itu kini mendatangi Ayah nya dengan keringat yang telah membuat sebagian rambut nya basah, Pengasuh nya pun sama berkeringat nya, Karena Yora yang tidak bisa diam di satu tempat,
Walaupun ber AC Namun tidak berlaku bagi sebagian anak-anak yang aktif saat berada di dalam sana.
"Iya sini, Yora mau minum apa? susu atau air mineral? ," Tanya Danish sembari menyeka kening putri nya dengan telapak tangan nya yang besar,
Umur Yora hampir sam dengan Eza, hanya beda 3 bulan di atas Eza,
" Mami..Mas juga mau..!," Suara Eza terdengar di susul pula dengan Adik.nya Andra
"Adek juga mau..!" Pekik Andra, Saat mereka melihat Maminya memakan burger,
"Sini-sini..Mami lap dulu tangan nya pake Tissue basah, Baru boleh pegang makanan, "
Dengan cekatan Riri melap tangan kedua putra nya, Yang sudah di duduk kan di bangku oleh Arya,
"Wah..Jagoan semua nih pasukan?, " Tukas Danish merasa takjup dengan anak-anak Riri yang kesemuanya Laki-laki itu, Terlihat sangat menyenangkan sekali bila memiliki anak sebanyak itu, Danish menjadi ingin juga banyak anak, Sejenak ia teringat dengan Istrinya,Yang telah ia abaikan selama bertahun-tahun ini,
" Iya, Jagoan semua, Semoga saja yang bungsu itu bisa menjadi penutup," Tukas Arya terkekeh, Walau hatinya sedikit Was-was dengan kehadiran Danish, Ia khawatir Jika. Pria itu punya tujuan yang kurang baik kepada istrinya,
"Mih Abang mau makan ajah laper nih," Ucap Re, Saat melihat kedua adik nya tengah memakan Burger yang di suapi oleh Tita dan Lili, Riri sudah menawarinya Burger sejak tadi, Namun Re menolak, Re memang kurang suka dengan makanan cepat saji itu,
" Mih ngomong apa aja dia?," Tanya Arya tak sabar, ingin mendengar jawaban istrinya itu,
"Nggak ada yang penting Pih, Dia cuma minta maaf karena udah nuduh aku yang nggak-nggak saat itu, " Ucap Riri, Apa adanya,
"Oh. Nggak ngomong macam-macam kan Mih," Tanya Arya lagi sembari fokus menyetir mobil nya,
Mereka baru saja meninggalkan Mall besar itu saat jam sudah menunjuk kn pukul tiga sore, Dengan tubuh lelah, Ketiga anak nya berikut Pengasuhnya sudah pada tepar di jok belakang karena kelelahan,
"Nggak Pih..Papi tenang saja, Mami ini nggak mungkin tergoda dengan lelaki lain, Papi saja sudah lebih dari cukup, Dan satu lagi jangan ragukan cinta dan kesetiaan ku, Ini buktinya dan di belakang sana," Tukas Riri sembari mengelus perut nya dan menunjuk ketiga anak nya yang telah tepar, karena kelelahan bermain,
"Iya Sayang, Iya.. Papi sangat mempercayai Mami, " Jawab Arya, dengan hati lega,
Bersambung....
jangan lupa like nya ya bestie. 🤗
__ADS_1
Terima kasih,🙏