
Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh pasangan suami istri, Arya dan Riri,Setelah menunggu selama sembilan bulan, Dengan banyak perjuangan. Bagi keduanya,
Karena Riri yang mengalami mabok hingga susah makan, Hingga usia kehamilan nya sembilan bulan,
Dan Arya yang kesulitan mendekati istrinya, Lantaran bau badanya yang kadang tidak di sukai oleh sang istri, Sering membuat nya uring-uringan,Seperti kurang vitamin,
Ya, Walaupun sudah tidak se sensitif semasa awal kehamilan, Namun adalakan nya saat Riri masih tidak menyukai bau Suaminya itu,
Hari ini adalah hari kelahiran anak ketiga mereka, Kedua nya sengaja tidak ingin tahu jenis kelamin anak nya, Semasa dalam kandungan,
Biar menjadi kejutan, Begitu kata Riri saat itu, Dan Arya mendukung keputusan sang istri,
Arya sudah tidak sabar, ingin bertemu dengan anak nya itu, Sekligus penasaran Seperti apakah wujud anak ketiganya yang sudah memusuhinya sejak dalam kandungan itu,
"Selamat Bu,Pak bayi nya laki-laki,Yang sangat tampan, Sempurna semua ya,"
Ujar sang Dokter yang membantu Persalinan Riri itu kini meletakkan bayi merah itu di dada Ibunya,
Riri meneteskan air mata harunya, Hatinya di liputi rasa bahagia yang teramat sangat,
Arya pun demikian Bapak 3 anak itupun kini telah meneteskan air mata bahagia nya,
Tak menyangka Tuhan sangat berbaik hati pada nya, memberikan nya seorang istri yang baik, Dan mengaruniainya pula dengan tiga Anak yang tampan-tampan,
Sungguh hari tuanya ia dan istrinya tidak akan kesepian, Hari tuanya pasti akan sangat menyenangkan bermain bersama Cucu-cucu nya,.
" Mas Cowok lagi," Seru Riri setelah mengecup kepala anak nya, Sembari menghapus lelehan air mata bahagia nya itu,
" Nggak apa-apa sayang, Yang penting sehat, Nanti kita bikin lagi kali aja bisa dapet cewek," Kekeh Arya. Sembari mengecup kening Riri dan juga putra nya yang menggeliat mencari sumber kehidupa nya,
" Mas ih.. Yang ini aja belom selesai di jahit sudah mau baikin lagi, " Riri cemberut mendengar perkataan enteng suaminya itu,
Sedang dokter yang tengah memangai Riri itupun hanya tersenyum, Saat mendengar obrolan suami istri itu,
" Ibu nya mau langsung KB?, Kalau mau pasang IUD bisa langsung sekarang, Bisa biar sekalian," Tawar sang dokter,
"Nggak usah Dok makasih, Saya nggak cocok pakai Kontrasepsi,Suka banyak keluhan, Biar suami saya saja nanti yang berpikir bagaimana," Jawab Riri cepat,
Jangan kan mau di pasangin IUD, Membayang kan nya saja sudah membuat Riri merinding, Ririn Penakut kalau soal yang begituan,
Tetapi kalau soal nggak Cocok tak sepenuh nya ia berbohong, Pasal nya saat Usia Eza Dua bulan, Riri sempat meminum Pil KB, Namun tubuh nya malah gatel-gatel tak karuan, Sampai ia menggantinya dengan merek lain, Gatalnya hilang, Namun dirinya malah Mual di malam hari, Makan tak enak, seperti orang ngidam,
Akhirnya Riri memutuskan untuk tidak memakai KB lagi saat usia Eza 5 bulan,
Berganti Dengan Arya yang memakai sarung, Dan berujung kebobolan karena Arya yang kelupaan memakai sarung nya pada saat itu,
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, Ini bayinya kita ambil dulu ya, mau di bersihkan dan ditimbang berat badan nya," Tukas Sang dokter, Kemudian Bayi tampan tersebut di angkat oleh seorang bidan untuk tindakan selanjut nya,
"Siapa nama Cucuku Ar," Tanya Tuan Wiguna sembari mencium kening bayi laki-laki dalam gendongan nya itu,
Hatinya diliputi kebahagiaan tiada tara saat ini, Di usianya yang sudah tua itu Tuhan memberinya Cucu yang banyak,
Kini mereka telah berada di Ruangan VIP, Riri baru saja di pindahkan dua jam yang lalu,
" Kami belum memberinya Nama Pah, Apa ada rekomendasi dari kalian?," Tanya Arya serata memandang ketiga orang tuanya yang duduk di sofa Ruan inap Riri itu,
Dan ketiga orang tua tersebut kini saling pandang,
"Aku serahkan ke kalian saja," Tukas Nyonya Ranti, Bukan dia tidak ingin memberikan nama kepada Cucu ketiganya itu, Tetapi memang tidak ada sama sekali Nama yang menurut nya pas dan cocok dengan Sang Cucu,
" Baiklah, Opa akan memberimu nama,
Namamu adalah…, TRIANDRA DWIGUNA, Bagaimana?," Tanya Tuan Wiguna memandang semua orang yang ada di ruangan itu,
" Bagus Pah, Aku suka namanya, Nanti di panggil Andra," Ucap Riri yang sedang di suapi makan oleh Arya,
Dua Tahun berlalu,
" Mami.., Coba Abang tes dulu, Udah pas belom, Nanti kalau ada yang kurang kan bisa di baikin gitu Mih,"
Riri menaikkan satu alisnya memandang Putra sulung nya itu,Yang kini tengah memonyongkan bibir nya, Seraya mengelus-elus Seragam TK nya yang akan ia kenakkan besok,
Sudah berulang kali seragam TK nya di coba, berikut sepatu dan juga Tas nya, Sejak seminggu yang lalu,Saat mereka baru saja menyelesaikan pendaftaran TK, Dan menerima Seragam, Alasan nya?
'Abang ini kan masih dalam masa pertumbuhan Mih, Mana tahu pas Abang coba lagi kekecilan' Begitulah perkataan Putra sulung nya itu,
Riri menghela nafas nya dengan panjang, Putra nya ini memang selalu ingin tampil Perfeck, Bahkan rambut nya pun setiap saat di sisir, memastikan jika rambut nya tetap rapih,
Entahlah, Riri juga bingung Nurun siapa Sifat Perfeck Anak nya itu,Perasaan Nisa dan dirinya tidak seperti itu, Dan jika dilihat-lihat Arya juga tidak seperti itu,
Apa semua Anak memang seperti itu,
"Mami…Mas juga mau pake baju begitu,"
Kali ini Eza yang bersuara, Saat melihat Abang nya yang sangat gagah setelah memakai seragam TK nya itu,
Riri menoleh Putra keduanya itu,Kemudian pandangan nya beralih kepada Re yang telah memakai seragam sekolah nya itu, Anak itu sedang berkaca, memastikan kesempurnaan penampilan nya,
Seragam kemeja putih lengan panjang, Dengan rompi warna biru, Serta celana panjang senada dengan rompi nya itu memang sangat cocog di tubuh Putra nya, Umur Re sudah lima tahun lebih, tinggi nya sudah hampir se dada Riri, Dengan tubuh berisi dan padat, Kulit putih, Bola matanya hitam pekat, membuat aura ke tampanan Re semakin terlihat,
__ADS_1
Putra sulung nya itu memang sangat gagah, Kulit Re begitu mendominasi Sang Bunda, Yang berkulit putih bersih kemerahan,
Tidak berbeda jauh dari kedua Adik nya Eza dan Andra, Sama-sama memiliki kulit putih dengan bola mata hitam pekat, Sama seperti sang Mami,
Sedang Wajah, Eza lebih condong kepada sang Opa, Sedang Andra, Andra perpaduan antara-Riri dan Arya,
"Hahhh, Mas Eza belum bisa pake baju begituan, Itu gede.nggak muat sama Mas Eza, Nanti kalau sudah sekolah baru bisa pakai baju gitu," Jelas Riri, Sembari tangan nya mengelus pipi Putra keduanya itu.
Eza pun mengerti dengan penjelasan sang Mami dan segera berlalu mendatangi Oma nya yang duduk menonton Film kartun si kembar dari negri tetangga,
"Oma..,Kenapa dia nggak gede-gede ya, padahalkan kata Abang dia lebih dulu lahir dari pada Mas, Mas aja Udah tinggi gini Rambut Mas juga lebat, Dia kok masih tetap kecil dan nggak punya Rambut ya,"
Ucap Eza dengan tampang polos nya, Membuat Nyinya Ranti menghela Nafas ny dengan pelan, Cucu nya yang satu ini memang sangat kritis sekali,
" Em.. Kalau dia gede nanti nggak lucu lagi dong, Nanti anak-anak nggak ada yang mau nonton dia lagi," Ucap Nyonya Ranti dengan mengelus kepala Cucunya yng berbaring di pangkuan nya,
"Em.. Begitu, Mas Kira dia kena penyakit sampai nggak gede-gede," Sahut nya membuat Nyonya Ranti dan Riri asling pandang Sembari mengehla nafas pelan,
" Pak, Ayo..entar kita kemalaman Lagi, Bisa-bisa saat kita sampai sana Re dan adik-adik nya sudah tidur,Ibu sudah Membuat kan mereka Puding kesukaan mereka nih, keburu hilang dingin nya,Nanti nggak enak,"
"Sebentar Bu, Ini kok uban Bapak semakin mengkilat aja saat terkena cahaya Lampu, besok mau Bapak semir aja ini, Atau ku semir sekarang aja ya Bu?,"
Tuan Wiguna menoleh Istrinya yang sudah cantik, Berdiri di ambang pintu. tengah memperhatikan dirinya dengan Alis mengkerut,
"Kalau Bapak masih mau semiran, Ibu jalan sendiri aja deh, Kelamaan kalau nunggu Bapak, Bisa-bisa semua penghuni Rumah Riri sudah pada mimpi, Dan puding buatan ibu nggak laku," Ujar Bu Nining dengan sedikit kesal memandang suaminya itu,
Menyadari nada kesal dari sang istri Tuan Wiguna pun mengurungkan niat nya untuk menyemir rambut nya malam itu,
" Jangan Bu, Ya sudah Bapak ganti baju saja, Setelah itu kita langsung berangkat,
Baju yang ini terlalu gelap terlihat semakin berkelas kelip saja uban Bapak,"
Ucap nya dan segera menuju ruang ganti, Untuk mengganti baju nya yang semula adalah kaos berkerah warna hitam,
Bu Nining hanya menggelengkan kepalanya, " Ya gusti… mau heran tapi ya Suamiku," Gumam nya,
Bukan hanya sekali dua kali Tuan Wiguna seperti itu, Sering sekali mereka ribut kalau mau bepergian, Tuan Wiguna yang selalu lama berdandan, berganti-ganti baju dan celana, Pokonya semua-semua harus perfeck,
Bu Nining yang selalu sabar melayani Suaminya itupun, kadang teringat dengan salah satu Cucu nya, hampir memiliki kesamaan dengan sang Opa,
BERSAMBUNG…..
Jangan lupa like dan komen nya ya bestie,
Terima kasih 🙏
__ADS_1