
🌼SELAMAT MEMBACA 🌼
Sudah sebulan lamanya Ibu dan Papa mertu nya pergi, Selama itupula kesedihan masih terus menyelimuti keluarga Arya dan Riri,
Riri yang masih suka melamun jika teringat akan Bu Nining yang sudah lama ia anggap sebagai ibu nya itu,
Sedih sekali rasanya, Saat orang yang kita sayangi pergi dengan cara tragis seperti itu,Apalagi itu semua karena ulah seseorang di masa lalu,
Terkadang Riri berpikir apakah pernikahan Kakak nya dengan Arya dulu adalah sebuah kesalahan?,
Sehingga pernikahan itu membawa lara sampai saat ini, Dahulu nyawa kakak nya yang terenggut karena tidak sanggup menahan beban yang ia jalani.
Dan sekarang nyawa kedua mertuanya melayang. Akibat dendam orang dari masalalu kakak nya dan juga suaminya,
Menggapa mereka semua tega, Merenggut nyawa orang-orang terkasih nya, Tega sekali orang-orang itu terhadap nya,
Riri menghapus lelehan air mata yang tak terasa sudah mengucur dari netra pekat nya,
seringkali air matanya jatuh begitu saja saat ia memikirkan hal itu,
Dari ambang pintu Arya memperhatikan istrinya yang menangis tertahan, bahun nya tergunjang akibat tangisan kesedihan yang tidak berkesudahan,
Arya berjalan perlahan, Setelah menutup pintu kamar mereka, Arya mendekati istrinya yang masih bersedih karena kehilangan lagi sosok Ibu yang begitu ia sayangi,
"Sayang, Jangan seperti ini.Mas nggak kuat ngeliat kamu terpuruk seperti ini, " Arya membawa Riri kedalam pelukan nya,
Dadanya sesak setiap kali melihat tangis kesedihan istrinya, Yang seringkali membuat dirinya mengutuk perbuatan nya di masa lalu,
Karena kebodohan nya di masalalu kini ia telah kehilangan seseorang yang ia cintai untuk yang kedua kali nya,
Dan menyaksikan kesedihan kedua wanita yang amat ia cintai dan ia kasihi, Riri istrinya dan Mama nya yang tidak jauh berbeda dengan keadaan Riri saat ini,
Bahkan Wanita tua itu kini sedang kurang sehat, Sejak menerima kabar jika mantan suaminya dan istrinya meninggal dalam laka lantas, Akibat perbuatan seseorang,
"Maaf kan aku Mas.. Aku terlalu menyayangi Ibu, Ibu sudah kuanggap seperti ini kandungku sendiri, Beliau yang membantuku merawat Abang dulu, mengajariku bagaimana cara merawat bayi dengan benar,"
__ADS_1
Riri kembali menumpahkan tangisan pilunya di dalam dekapan hangat suaminya, Sudah dua Minggu kepergian Kedua mertua nya, Namun kesedihannya belum usai juga,
Dirinya benar-benar tengah berada di titik terlemah dalam hidup nya,
"Kenapa ada orang sekejam itu mas, Apa salah Papa dan Ibu. Kenapa mereka yang nggak tahu apa-apa harus menjadi korban,"
Riri menangis tersedu-sedu di dada Arya yang dengan setia menenangkan nya sejak hari di mana kabar duka itu datang,
Walaupun dia sendiri pun juga sangat terpukul dengan kepergian Papanya, Namun dirinya berusaha kuat dan menahan semua perasaan sesak nya,
Arya berusah untuk tetap kuat, Untukenkafi sandaran kedua wanita yang sangat berarti di hidup nya itu,
"Iya sayang, Maafkan aku ya, Semua ini tak lepas dari kebidohanku di masa lalu,Aku memang buta saat itu, Aku di buta kan oleh cinta yang berselimut penghianatan,"
Arya berkata sembari mengeratkan pelukan nya kepada Riri dengan sesekali mengecupi puncak kepalanya dengan sayang,
"Maafkan aku yang secara tidak sengaja telah membuat kalian dalam kedukaan ini, Aku memang lelaki yang payah,Aku yang telah membuat kedua orang tua kita mengalami kenaasan ini, Dan juga Nisa, Aku berdosa kepada kalian semua, Maafkan aku sayang Maafkan aku,"
Arya memohon maaf kepada istrinya dengan sungguh-sungguh, Bahkan kini telahbmenitihkan air mata nya, Air mata penyesalan atas semua kesalahan yang telah ia lakukan,
Riri melepaskan pelukan nya kepada suaminya itu, kemudian mendongak dengan mata sembab nya, Menatap mata suminy yang kini sudah menitihkan air mata,
"Maafkan aku mas," Riri mengusap kedua sudut mata Arya yang mengeluarkan air mata itu dengan ibu jarinya,
"Aku nggak bermaksud seperti itu, Aku...,"
"Iya sayang, Aku paham, Hanya saja semua ini memang karena kesalahan ku dulu di masa lalu, "
Arya meraih kedua tangan Riri dan mencium nya, "Mas minta maaf ya sayang, tolong maafkan kekeliruan ku dulu, Maafkan..."
"Sudah Mas.. aku sudah lama memafkan mu, aku nggak menyalahkan mu tentang semua ini, Aku hanya benar-benar terpukul dengan kepergian Ibu dan Papa mas,"
Riri kembalieluk suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu, Tempat ternyaman baginya untuk berkeluh kesah, menumpahkan segala sesk di hatinya, mengeluarkan segala uneg-uneg nya,
Ya mau susah sedih bahagia, Dada dan bahu suaminya adala tempat ternyaman baginya untuk mencurahkan segala isi hatinya,
__ADS_1
Dan Arya selalu meresponnya dengan positif, mendukung nya dan memberikan nya semangat serta pujian yang akan menyenangkan hati istrinya itu,
"Oma....Opa beneran nggak akan pulang lagi kesini ya?," Tanya Eza. dan Andra ikut mengagukkan kepalanya mendukung pertanyaan sang kakak,
Keduanya kini tengah duduk di samping kiri kanan Nyonya Ranti yang terlihat kurang bersemangat beberapa hari terakhir ini, Tepatnya setelah pemakaman mantan suami dan istrinya,
"Iya sayang.Opa nggak akan kembali lagi bersama kita, Opa sudah bahagia di surga bersama dengan Nenek, "
Jawab nyonya Ranti dengan menahan sesak di dada nya, Tenggorokan nya mendadak keluh saat mengingat kembali jika kedua kerabatnya telah tiada,
mereka telah kembali menghadap sang pencipta, Dan meninggalkan dirinya yang berlumur dosa sendirian.
"Emm.. Kita nggak bisa kesana?, " Kini Andra yang lanjut bertanya kepada Oma nya itu,
Membuat Nyonya Ranti kesulitan untuk menjawab nya, Jika saja ia tidak merasa bersalah mungkin akan sangat muda ia menjawab pertanya Cucunya itu,
Namun dalam keadaan dan kondisi nya yang sudah tua dan sakit-sakitan membuat nya sulit menjelaskan nya kepada sang Cucu,
"Kakak Andra.. Semu itu pasti bisa kesana, kata guru agama Abang di sekolah. semua manusia di dunia ini akan kembali ke Surga jika sudah tiba saat nya nanti, Paham kan adik Abang yang pinter ini?,"
Kedua adiknya itu mengangguk kan kepal nya kemudian kembali melanjutkan bermain nya di karpet yang berbahan lembut, Yang melapisi permukaan lantai rumah itu,
Nyonya Ranti bernafas lega saat Re menjawab pertanyaan adik nya itu,
"Makasih bang," Nyonya Ranti mengelus kepala Cucu sulung nya itu dengan sayang,
"Sama-sama Oma, " Re tersenyum menanggapinya, Dan itkut kmbermain bersama kedua Adik nya, Sedang si bungsu sedang tidur siang bersama Lili,
Nyonya Ranti kini merasa sangat bersalah, karena keegoisan nya dulu, Kini semua keluarga yang di sayanginya harus merasakan kesedihan yang dalam seperti ini
Bersambung
Jangan lupa like dan komen nya ya bestie 🙏
Terima kasih yang sudah mendukung othor 🙏🤗
__ADS_1