
"Dimas.Tolong kamu handle semua pertemuan hari ini ya, Saya harus pulang Abang sakit, Barusan Riri telpon sambil nangis-nangis,"
"Baik Bos. Saya Anter Bos?,"
Dimas menawarkan diri untuk mengantar Bos nya yang terlihat sedang panik itu,
Arya terdiam sesaat, sebelum menjawab tawaran Dimas,
" Nggak usah, Kamu urus disini saja, saya masih bisa kok nyetir sendiri, "
"Tapi Anda..terlihat .."
" Tenang.. saya baik-baik saja, Saya pulang dulu,"
Arya segera berlalu dari ruangan nya dengan langkah lebar, Perkataan Riri terus saja terngiang-ngiang di kepalanya,
Ada apa dengan Putra nya, Selama ini dia tidak perna seperti itu,
Beberapa menit kemudian Arya telah memarkirkam mobil.nya di halaman rumah nya,
Dengan tergesah-gesah ia keluar dari mobil nya dan berlari kecil masuk kedalam rumah,
"Papi..! Papi..! Ndong.." Si bungsu menyambut nya dengan merentangkan kedua tangan nya,
"Uhh Putri Papi lagi apa?." Arya langsung membawa putrinya masuk kedalam pelukan nya, Dan menggendong nya, Matanya mengedar mencari keberadaan Istrinya,
" Mana Mami?," Tanya nya kemudian sembari berjalan mendekat di mana Kedua putra ny bermain, di temani Lili dan Sumi,
"Mami di Kamar Pih, Abang sakit, Demam kata Mami tadi,". Eza menjawab pertanyaan Papinya dengan raut murung,
Abang nya sakit, Membuat nya sedih, Begitupun dengan Andra, Kedunya terlihat kurang bersemangat,
hanya Echa yang selalu riang, Sebab belum begitu mengerti dengan apa yang terjadi,
"Echa turun dulu ya sayang main lagi sama Mas Dan kakak, Papi mau liat Abang dulu,"
Arya menurunkan Echa untuk kembali bermain bersama kedua kakak nya, Setelah balita cantik itu mengagguk,
Arya melangkah kan kaki nya menuju kamar Putra nya itu, Dari depan pintu yang tidak tertutup rapat itu ia mendengar suara tangisn Istrinya,
hatinya semakin khawatir saat mendengar suara Riri menangis, Dengan mendorong pelan daun pintu kamar itu ia bisa melihat dengan jelas
Riri yang menangis sembari memeluk Putra sulung nya,
__ADS_1
"Sayang.. Bagaimana, Masih panas badan nya?, " Tanya Arya mendekat ke arah tempat tidur, di mana Istri dan anak nya berada,
Riri dan Re spontan menoleh ke arah nya, Arya bisa melihat kesedihan dari mata sembab istrinya itu,
Namun ada yang lain dari sorot mata Re, Saat menatap nya, Arya bisa melihat sorot mata kekecewaan dari netra pekat putra nya itu,
'Ada apa dengan putraku, menggapa ia memandangku seperti itu, Apa yang terjadi dengan nya,'
"Papi..Demam nya udah mendingan, "
Jawab Riri masih memeluk Re, Sedang Re saat bertemu pandang dengan Papi nya, Putra sulung Arya itu langsung memalingkan muka nya,
Seolah engan menatap wajah Papi nya, Hatinya masih merasakan kecewa yang teramat dalam kepada Sang Papi,
"Mah..?," Arya menoleh Mama nya yang sejak tadi duduk di sofa yang ada di kamar Cucu sulung nya itu, Sorot mata Arya seolah bertanya, Apa yang terjadi?
Nyonya Ranti yang mengerti akan maksud Putra nya itupun, Memanggil nya dengan isyarat untuk duduk di samping nya,
"Sebaik nya kita bicara di luar saja Ar, Dan biarkan dulu Re tenang, Jangan dulu kamu dekatin," Tukas Nyonya Ranti dengan suara pelan,
"Memangnya ada apa Mah? Kenapa dengan Re?,"
Arya semakin di Landa kebingungan saat ini, Tidak mengerti sama sekali masalah nya apa,
Nyonya Ranti pun berdiri dari duduk nya dan berjalan keluar pintu kamar Cucu nya itu,Arya yang masih bingung itupun segera mengikuti langkah Mama nya,
sebelum menutup pintu ia sempat menoleh ke arah istrinya dan saling bertemu pandang,
Riri mengangguk kan kepala tanda setuju jika dengan ajakan Mama nya itu,
Setelah Mertua dan juga Suaminya keluar, Riri menarik nafas nya dengan pelan, mengatur suasana hati nya agar tidak menangis saat menjelaskan semuanya kepada putra nya itu,
"Bang..? Abang percaya nggak sama Mami?,"
Riri memulai obrolan nya dengan bertanya dahulu, Ingin memastikan bagaimana kah posisi nya di hati putra nya itu, Setelah mengetahui kebenaran tentang dirinya,
"Abang percaya, Abang juga sayang sama Mami hick... Abang nggak mau kehilngan Mami, Mami Abang cuma satu ya itu Mami Riri hick...Abang nggak mau Mami yang lain nggak Mau Mih..."
Sekuat tenaga Riri menahan sesak di dada nya, Kini pertahanan nya tumpah juga, Saat mendengar perkataan pilu Putra nya itu,
"Sayang..."
"Abang nggak mau berbeda dengan adik-adik Mih..Abang .."
__ADS_1
"Sudah sayang cukup, Abang nggak berbeda dengan adik-adik, Abang anak Mami juga, Buah hati Mami,Putra sulung Mami dan Papi.. Dan cucu pertama keluarga Wiguna, Nggak akan ada yang bisa merubah itu hen."
Ucap Riri dengan menangkup wajah Re dan menatap nya dengan air mata yang berjatuhan,
" Tapi Mih.. orang itu bilang Abang beda Abang nggak punya Mama, Karena...hick karena Mama Abang udah meninggal. "
Suara tangisan pilu Re seperti mengoyak jantung Riri, Hatinya perih sakit, Siapa orang yang sudah meracuni pikiran putra nya itu,
" Nggak sayang. nggak seperti itu, " Riri bingung mau menjelaskan nya dari mana dulu,
Di luar pintu Arya sedang mengepalkan kedua tangan nya, Siapa yang telah berani melukai perasaan putra nya,
" Kamu dengar sendiri kan Ar, Bagaimana terpukul nya Re, Orang itu sangat berniat sekali ingin menghancurkan keluargamu,"
Nyonya Ranti menyusut air matanya dengan tissue yang sejak tadi ia genggam,
"Semua ini tidak lepas dari Perbuatan Mama dulu, Semua ini salah Mama, Salah Mama yang telah menyebabkan...,"
"Mah udah..Jangan mengungkit hal itu lagi, Riri nggak suka mendengar Mama terus saja menyalahkan diri Mama seperti ini, "
Arya menyugar rambut nya frutasi memikirkan Siapa orang yang telah bermain-main dengan keluarga nya,
Nyonya Rntipun kini berjalan kembali ke ruang keluarga, Untuk menemani ketiga Cucu nya,
"Halo Dimas..Setelah selesai urusan kantor kamu kerumah saya, Ada tugas buat kamu,"
['Baik Bos, Siap,' ]. Jawab Dimas di sebrang sana,
"lihat saja aku akan menemukan mu sialan, beraninya kau menggangu ketenangan keluarga ku. "
Arya mengeraskan Rahang nya dengan kedua tangan yang terkepal kuat,
"Abang....Abang mau nggak dengarin Mami?,". Riri menatap bola mata pekat Re. bola mata yang sama dengan milik nya,
"Mau Mih," Cicit Re,
"Mami akan menjelaskan semua nya kepada Abang, Tapi.. Abang nggak boleh memotong atau pun menyelah penjelasan Mami hem?."
"Iya Mami." Jawab Re sengau. Karena lama menangis, Masih dengan memeluk Maminya dengan erat,
Bersambung..
Jangan lupa like dan komen ya
__ADS_1
Terima kasih 🤗🤗