PERNIKAHAN MEMBAWA LARA

PERNIKAHAN MEMBAWA LARA
Puncak dari segala yang terpendam 2


__ADS_3

Pagi ini Nisa berniat akan langsung ke Toko nya saja, setelah menyantap Sarapan nya,


Semalam Nisa terpaksa berbohong kepada kedua Orang Tua nya,


Jika dirinya sudah meminta Izin kepada Suami nya itu, Dan Arya mengizinkan nya menginap,


Nisa masih kecewa, hatinya sudah terlanjur Sakit, dan ingin Rasanya ia mengakhiri semua ini, ingin hidup Tenang bersama Anak nya kelak,


Namun apakah Niat nya itu akan di dukung oleh Orang Tua nya.., Entahlah Untuk saat ini yang dia butuhkan adalah ketenangan Jiwa dan pikiran,


Hari ini juga adalah Jadwal nya untuk memeriksakan Kehamilan nya,


Nisa sangat suka setiap kali mendengar detak jantung Bayi yang berada di dalam kandungan nya itu,


Terasa sangat menenangkan hatinya yang sedang gundah gulan seperti saat ini,


Riri yang memperhatikan gerak-gerik Sang Kakak hanya mampu terdiam tanpa bisa melakukan apapun,


Dia sangat mengerti akan suasana hati Kakak Tersayang nya itu, terlihat sekali dari raut wajah nya yang kurang tidur dan juga banyak pikiran,


Di Kediaman Wiguna.


Nyonya Ranti yang pagi itu tengah memperhatikan Koleksi Berlian nya, Namun yang membuat senyum nya yang terus tercetak Manis adalah,


2 Set Berlian yang baru saja ia beli kemarin bersama Restie,


kapan lagi dapat Discon yang wah gitu, dengan bentuk serta kualitas yang bagus menurut nya,


Sedang Tuan Wiguna hanya diam mengamati tingkah Sang Istri,


Entah sampai kapan keserakahan dan ketamakan sang Istri itu akan berubah,


Beliau masih berharap Wanita yang telah melahirkan seorang Putra untuk nya itu, wanita yang telah ia Nikahi beberapa puluh tahun Yang lalu itu bisa merubah Sikap nya yang kemaruk,


Serta sadar Dari mana dulu dia di pungut Dan di jadikan Istri oleh Pria mapan, Brama Wiguna, tanpa memandang kasta nya dan memberikan segala nya, memanjakan nya dengan harta serta kasih sayang,


mengayomi semua keluarganya


sehingga mereka bisa hidup berkecukupa hingga sekarang,


Tuan Wiguna berdiri menghampiri Sang Istri, yang masih asik mengelus Berlin yang ada di Tangan nya,


Tuan Wiguna perlahan melingkarkan Tangan nya di penggang emping sang istri, dengan membungkuk kan badan nya,


Sambil berkata.."Mah.., Mama tahu kan kalau Papa itu sangat mencintai Mama..?" Tanya nya sambil memandang pantulan mereka di Cermin lebar di depan mereka,


Nyonya membalas Tatapan Sang Suami,kemudian menggaguk kan kepalanya Sebagai jawaban Atas pertanyaan Sang Suami,


Kemudian Tuan Wiguna kembali menyambung perkataan nya,


"Dan Papa paling tidak suka Di bohongi atau di curangi, Sesayang apapun Papa kepsda Mama, Namun jika Mama masih mempertahan kan sifat keserakahan ini, Papa Akan tetap berlaku Tegas!," Lanjut nya lagi

__ADS_1


"Jadi Papa minta Tolong hentikan Sifat Serakah Mama.. sebelum kesabaran Papa habis, Jangan memakai atau mengambil yang bukan hak mu."


Ucap nya Seraya melepaskan pelukan nya dan mengambil Berlian yang ada di tangan Nyonya Ranti kemudia meletak kan nya di atas Nakas.


Kemudian berlalu dari sana hendak ke Ruang kerja nya, "Dan Orang yang kemaruk akan harta, Kuburan nya akan Sempit.!," Ucap nya sambil menutup pintu sedikit keras.


Sedang Sang Nyonya merasa tertohok dengan perkataan Suaminya itu,


Tangan nya sedikit gemetar, menyentuh dada nya yang berdetak kencang karena takut,


Sedang Tuan Wiguna kini sedang mengurut pelipis nya, pening Rasanya, Dengan Sifat jelek Istri nya itu, Hanya bisa berdoa semoga Istri nya itu cepat Sadar sebelum semuanya terlambat,


sebab kesabaran itu ada batas nya,


hanya Orang-orang yang beriman kuat yang


stok sabar nya tidak akan pernah habis.


Pukul 3 Sore Nisa melesatkan si gemoy menuju Hunian nya bersama Arya, Rumah yang begitu Engan untuk dia jadikan tempat nya Pulang sebenar nya, Rumah yang menjadi saksi bisu akan perlakuan kasar Sang Suami dan juga Mama mertua nya,


Rumah yang dingin tanpa adanya kehangatan Cinta dari sang Suami, yang selalu memandang nya sebelah mata, serta Tatapan menghina dari sang Mertua, Selalu berhasil menggores luka batin nya


Entah sampai kapan ia bisa bertahan dengan semua ini, dengan semua tuduhan yang di tujukan pada nya, Tekanan dari Nyonya Ranti yang tiada henti,


Namun apa mau di kata, dengan keadaan nya yang seperti ini Tidak mungkin kan dia kembali kerumah Orang Tua nya,


Nisa tidak ingin membebani pikiran Ayah dan Ibu nya, dengan permasalahan nya saat ini,


Setelah beberapa Saat kini Nisa telah memarkirkan Si gemoy dengan manis,


di samping Mobil mewah Sang Suami,


"Tumben ada di rumah,biasanya juga kelayapan entah kemana,"Batinya,


Sambil berjalan menuju pintu masuk,


Beluman juga ia mengetuk pintu, Namun sudah ada yang membukan nya dari dalam,


Seraut wajah yang Terlihat amat geram kini menatap nya dengan tajam,


Nisa masuk setalah mengucap salam, Walau tidak mendapat balasan dari Sang Suami yang masih setia memandang nya dengan Tatapan Tajam,


Nisa melewati Arya begitu saja, tanpa berucap apapun,


berjalan Menuju Ruang keluarga demi menduduk kan Bokong nya di Sofa Nan empuk itu,


Sebab rasa pegal di betis nya sering kali Terasa jika terlalu lama berdiri atau mengendarai Motor,


Namun baru saja merasakan betapa nyaman dan empuk nya Sofa yang dia Duduki,


kini ketenangan nya terusik oleh Suara intimidasi Sang Suami.

__ADS_1


"Darimana Saja kamu.? kenapa Semalam ngak pulang?" Tanya nya dengan Nada Tinggi,


sembari mantap Tajam Nisa,


"Oh Aku nginap di Rumah Ayah," Jawab Nisa santai,


"Lalu kenapa Kamu ngak Izin dulu sama Aku,


Pergi dan pulang sesuka mu saja," geram nya dengan suara di tekan, menahan geram.


Membuat Nisa menoleh memandang Sang suami tak percaya, Sejak kapan Dia perduli dengan dirinya, dengan keadaan nya, mau pulang dan tidak pulang pun tak ada beda nya,


"begini ya Mas Arya, Apa pentingkah aku meminta Izin mu.?, selama ini kan Mas ngak pernah perduli dengan ku,e dengan kandungan ku!, Jadi ya Buat apa Aku minta izin padamu,"


Ucap Nisa dengan Nafas Naik turun, menahan segala rasa kesal yang telah lama bersarang di hati nya,


"Ya harus lah kamu itukan Seorang Istri, apa pantas seorang Istri meninggalkan Rumah tanpa Izin dari Suaminya..!" Teriak Arya


" Itu sama saja kamu tidak Menghargai Aku sebagai Suami mu," lanjut nya dengan berapai-api,


"Lalu Apa Mas Arya pernah mengaggap Aku sebagai Istri hah..? pernah kah Mas perduli dengan ku? Tidak kan..! diriku tak ubah nya hanya sebagai Pemuas Nafsu mu saja..!"


Teriak Nisa tak kalah nyaring dari Arya,


Biarlah dirinya di sebut Istri durhaka, sebab telah berani meninggikan Suara nya di hadapan Suaminya,


Nisa bahkan telah melupakan Wejangan Sang Ibu, tentang seorang Istri yang Nurut sama Suami, jangan meninggikan Suara terhadap Suami,


Nisa melupakan itu semua demi Rasa kecewa nya terhadap Arya,


"Ohh jadi kamu begitu menyadari Posisi mu di Rumah ini ya..?" Arya berucap dengan menaikan sebelah alis nya, denga tersenyum miring, memandang Nisa Rendah.


"Bukan kah itu kenyataan..?, dirimu memang Hanya ku Anggap sebagai pemuas Nafsuku saja tidak lebih, tetapi bukan berarti kamu bebas pergi dan pulang sesuka hati mu Tanpa izin dariku," Ucap Arya masih dengan intonasi Tinggi


Dan juga bukan kah memang itu Tujuan mu menikah denganku..? Ucap nya dengan ketus,


"Sedari awal aku sudah tahu Niat busuk mu dan keluargamu itu, kamu itu bagai seorang La cur.yang menjual Tubuhmu kepadaku hanya demi Uang..! Demi kemewahan.!"


Plak..


Tamparan keras Nan penuh emosi itu sukses mendarat di rahang kokoh milik Arya, Hingga wajah nya tertoleh ke kanan,


Bersambung....


jangan lupa like dan komen nya ya


maafkan bila banyak typo nya🙏


Terima kasih🌹


lope you all 😘😘

__ADS_1


__ADS_2