
"Lain kali jangan menyuruhku datang dengan membawa kue-kue itu, Tahu sendiri Anak mu itu ngak bisa diam, " Riri berucap dengan bersungut-sungut, Sebab bahunya serasa mau lepas karena baby Re nggak mau diam, kaki dan tangan ny aktif bergerak, Jika ada yang di inginkan nya namun tidak tercapai,
"Kalau pengen makan kue ya ambil sendiri ke Toko, Ogah Aku bawa-bawa ribet, " Riri melemparkan tubuh nya ke sofa empuk yang berada di ruang kerja Arya, Rasa lelah berdiri beberapa menit lama nya dengan Re yang menggantung di gendongan nya, Membuat persendian nya linu semua,
Jika biasa nya Riri menggendong Re kemana-mana, Tahan hingga berjam-jam, Tapi tidak dengan hari ini, Re sangat aktif dan memberontak ingin mengacak-ngacak meja Resepsionis tadi membuat Riri kualahan,
"Iya.., Beres Pokok nya kamu tenang aja, Nggak akan Aku ulangi lagi "
Arya menjawab sambil menciumi pipi gembul Anak nya dengan gemas, Wangi khas bayi mencuat di indera penciuman nya, Segar dan menyenangkan hati, membuatnya betah berlama-lama mendekap bayi montok nya itu,
Yang tengah asik memainkan kancing kemeja nya, Dan menarik-narik nya agar terlepas?,
Sesekali terpekik kegelian di saat Arya mendusel-duselkan janggutnya ke leher nya,
Riri memperhatikan kedekatan Anak dan Papa itu dengan tatapan menerawang,
Andai Kakak nya masih hidup, Apa Kakak nya itu akan bahagia, dengan keluarga kecil nya,
Riri tersadar dari lamunan nya oleh getaran, yang di iringi dengan Suara dering Phonsel yang berada di saku nya,
Setelah mengambil Phonsel di saku nya, Dan Nama Danis lah yang tertera di layar benda pipih itu,
Dengan malas Riri menggeser tombol hijau yang ada di layar Phonsel nya,
" Halo.., Hem. Nggak bisa, Aku nggak bisa pergi!, Kamu tahu sendiri kan kalau Aku punya Anak..! "
Ya saat Ini ini Riri mencoba menjalin hubungan dengan. Kakak satu tingkat nya di Kampus, Semasa kuliah dulu, Mereka baru saja jadian 6 bulan lalu,
Danis memang sudah menaruh hati kepada nya sejak ia memasuki perkuliahan, Namun belum sempat menyatakan perasaan nya, hingga Riri yang hengkang dari kampus dengan alasan ingin merawat keponakan nya, Yang di tinggal meninggal oleh ibu nya,
Mereka hanya berkomunikasi lewat pesan untuk menayangkan kabar, Sampai akhir nya Danis memberanikan diri Untuk menyatakan perasaan nya 6 bulan lalu,
Dan Riri yang memang memiliki perasaan yang sama kepada Kakak satu tingkat nya itupun menerima pernyataan cinta nya,
Selama 6 bulan menjalani hubungan, Tak jarang mereka berantem hanya karena hal kecil, Namun di anggap serius oleh Riri,
Riri yang susah untuk di ajak jalan hanya berdua saja, Alasanya tidak tega jika meninggalkan baby Re lama-lama, Walaupun ada Bu Nining yang menjaga nya,
Danis yang mendambakan pacaran seperti anak muda pada umum nya pun harus rela, Jika malam Minggu dirinya hanya bisa mengapeli Riri di rumah nya dengan baby Re di antara mereka,
" Serasa memacari Janda tapi nggak bisa ngapa-ngapain, "
Keluh Danis pada saat itu, Dan hal itu di tanggapi lain oleh Riri,
Riri mengaggap jika Danis tidak menyukai keberadaan baby Re, Mereka ribut hanya karena Danis salah bicara, Dan berujung dengan Riri yang ngambek hingga mendiamkan Danis berhari-hari lama nya,
Arya yang mendengar jawaban Riri yang menyebut diri nya punya Anak pun semakin penasaran, Apa yang di katakan teman nya di sebrang sana,
"Apa Riri sudah memiliki kekasih? Kalau iya, Itu berarti predikat Mami Re selamanya, akan terancam baby!, ". Arya membatin dengan memandang muram putra nya,
"Aku kan udah bilang dari awal kalau Aku itu udah punya Anak! Jadi nggak bisa bepergian jauh-jauh gitu! Apa lagi nginep.., "
Riri berkata dengan raut jengel yang sangat kentara di wajah nya, Arya yang bermain dengan Putra nya pun semakin menajamkan pendengaran nya,
__ADS_1
Arya semakin mempertajam pendengaran nya,
" Ya udah gih terserah Kak Danis aja. mau nya gimana! bubar juga nggak apa-apa..! Aku capek, " Riri mematikan sambungan telpon nya dengan Danis, Sepihak, Malas meladeni Cowok yang banyak mau nya itu,
Riri yang belum pernah berpacaran sama sekali itupun, masih polos dan tidak peka dengan apa yang di inginkan Kekasih nya itu,
Yang menjadi prioritas nya adalah baby Re,
Setelah memutuskan sambungan telpon nya secara sepihak, Riri melempar punggung nya ke sandaran Sofa dan membaringkan diri nya yang lelah, Ngantuk juga, Semalam baby Re ngajakin begadang,. Tengah malam bangun Pup, Setelah itu ngak mau tidur lagi sampai jam 4 Shubuh baru tidur,
Makanya Riri merasa matanya semakin berat saat merasakan empuk nya Sofa yang dia tiduri itu, Terbukti dalam beberapa detik saja Riri sudah terbang ke alam mimpi, Dengan memeluk bantal sofa di d dada nya,
Phonsel Riri yang berada di atas meja dekat Sofa tempat nya berbaring, terus saja berdering, Entah sudah yang keberapa kalinya,
Arya menoleh ke arah sofa di mana Riri berada, Dirinya tertegun saat pandangan nya tertaut dengan Wajah polos Riri, Yang tertidur lelap,
Meletak kan baby Re di lantai yang sudah di alasi Ambal bulu yang empuk, dan aman untuk Re merangkak kesana kemari, Arya berdiri menghampiri Riri yang tengah tertidur lelap, Tanpa terganggu dengan dering Phonsel nya yang sudah berulang-ulang itu,
Sejenak Arya terpaku, Memperhatikan wajah cantik Mami nya Re itu, Tangan nya terulur merapihkan beberapa helai rambut yang menutupi sebagian wajah nya, "Riri cantik"
"Kamu pasti capek banget ya, Ngurus baby sendirian, " Arya berbicara sendiri, Sembari mengelus Pipi Riri dengan punggung tangan nya,
Sedang Riri yang kelelahan tidak menyadari, Jika Papi nya Re itu telah mengelus pipi nya yang lembut,
Arya tersadar dengan apa yang dia lakukan, Merlirik Phonsel Riri yang sedari tadi terus berbunyi,
"Siapa sih giat banget Nelponya dari tadi juga," Arya melongok kan kepala nya, Dan melihat Nama Danis yang tertera di layar Benda pipih itu,
" Sayang jangan marah dong! Angkat telpon aku!, "
Entah menggapa Arya sangat tidak suka dengan kalimat pesan yang ia lihat itu,
Serasa tidak rela jika Riri akan dimiliki pria lain,
Bayangan Re akan memanggil Papi ke pria lain. Kini menari-nari di kepala Arya,
Terasa nyeri sampai ke ulu hati,
Arya memegang dada nya yang terasa nyeri
Kenapa, Kenapa dirinya merasa sakit kala mengetahui Jika Riri telah mempunyai kekasih,
" Nggak.., Nggak boleh pokonya bagaimanapun cara nya Riri harus menjadi Istri nya, Menjadi Mami nya Re dan adik-adiknya nanti, "
Sangat Egois memang, Namun semua itu demi kebahagiaan Putra nya, Dan Riri yang sangat menyayangi Re pasti akan melakukan apapun untuk Re,
" Dimas... keruanganku sekarang, Urgent.."
Arya menelpon Dimas agar keruangan nya,
Ada tugas yang harus ia jalan kan sekarang,
" Baby.., baby mau kan Jika Mami bersama kita selamanya, " Arya mengajak bayi nya berbicara. seperti mengajak orang dewasa mengobrol saja,
__ADS_1
" Mi...ami..! " Re yang mendengar sebutan Maminpun langsung merangkak dengan lincah menuju Sofa di mana Mami nya tertidur karena kelelahan, Karena ulah bayi gembul itu,
" Bos, Anda memanggil saya?, "
Dimas melonggok kan kepala nya di pintu,
Sekilas dirinya melihat Riri yang tertidur di Sofa,
" Astaga kok sampe ketiduran gitu, keliatan lelah banget lagi, Nggak mungkin kan bos berbuat yang aneh -aneh, kan ada baby ., "
Dimas yang masih terdiam dengan menelisik, Wajah lelah Riri, Yang membuat otak nya Trefeling kemana-mana,
Tuk!! " Aduhh sakit bos!,. " Dimas mengelus kepalnya yang di jitak oleh Arya,
" Mikir apa kamu..? Jangan aneh-aneh, Otak mu ini perlu di londry kek nya biar bersih dari pikiran-pikiran kotor, "
Arya mendegus Kesal demi menyadari pemikiran nyeleneh Asistennya itu, "Dasar Dimas semprul, "
" Nih beliin makanan di Resto depan aja, Seperti biasa 2 porsi, Buruan..,! "
" Baik bos, Siap, "
Dimas berlalu setelah menutup pintu ruangan Aray,
Re menepuk-nepuk pipi Riri beberapa kali, " Mi..Ami.." Re mbangunkan Mami nya, Dengan menciumi pipi Riri, sesekali menggigit nya pelan,
Membuat Riri menggeliatkan Tubuh nya, dan perlahan membuka matanya
Wajah pertma yang dia lihat adalah Re, Yang langsung nyegir memamerkan gigi nya yang sudah 8 buah itu,
Lucu sekali bayi montok nya ini, " Baby sayang.. Maaf Mami ketiduran, " Riri berucap dengan suara nya yang serak, khas baru bangun tidur, Seraya membelai kepala Re dengan sayang,
Riri tidak tahu jika suara sexy nya itu sudah
membangkitkan sesuatu yang sudah lama tertidur,
.
Arya yang mendengar Suara serak Riri, merasakan darah nya berdesir, Bagaikan ada aliran listrik yang menjalari seluruh Tubuh nya dan membuat inti Tubuh nya berdenyut tak nyaman,
"Astaga Baru suaranya aja sudah membuat nya bangun, Ya ampun..!, " batin Arya menrana,
.
.
Bersambung....
makasih yang uda setia mendukung karya Othor ya bestie 🤗
jangan lupa like nya
Love you all 😘😘
__ADS_1