
"Mas, Hari ini aku mau temenin Mama terapi, Mungkin agak siangan berangkat nya, Mas Makan siang di luar aja ya sama Mas Dimas," Riri menaruh cangkir kopi di hadapan Arya pagi itu,
Tak terasa Nyonya Ranti sudah lima bulan berada di Rumah Arya dan Riri, Selama itu pula Riri selalu cerewet soal kesehatan Nyonya Ranti,
Dua hujan lalu Nyonya Ranti telah rutin melakukan terapi ke rumah sakit, dengan Dokter terbaik yang di rekomendasikan oleh Dimas,
Semakin hari kesehatan Nyonya Ranti semakin membaik, Kaki dan tangan nya yang mati Rasa kini sudah mulai bisa ia gerakan, Setiap pagi Riri rajin menjemur Mama mertunya itu dengan matari pagi, mengajak nya berjalan selangkah dua langkah tanpa alas kaki, Menginjak benatuan yang sengaja di pasang Riri din halaman belakang Rumah nya, Untuk melatih Otot-otot kaki Nyonya Ranti
Arya, Jangan di tanya, Hatinya sangat bahagia dengan kedekatan Nyonya Ranti dengan Istri nya, Sifat keras kepala Mama nya itu, Tidak bisa melawan sifat Keras Dan cerewet nya Riri, Mama mya selalu tidak bisa berkutik jika Riri sudah bersuara, Beliau akan menurut tanpa membantah,
"Iya, Terima kasih ya, Kamu sudah mau membantu Mama, Merawat Mama Sekarang kondisi Mama jauh lebih sehat, dan lebih baik, Berkat kesabaran dan kebaikan hati kamu,"
Arya mengelus lengan Riri yang berdiri di samping nya, " Sama-sama Mas, Mama Mas Arya kan Mama aku juga, Pasti aku akan melakukan yang terbaik buat kesehatan dan kesembuhan Mama,
Riri tersenyum menatap Suaminya, Yang mendongak menatap nya juga, "Mas sangat beruntung mendapat kan istri sebaik kamu sayang,"
Arya menarik Riri untuk duduk di pangkuan nya, Dan mencium pipi nya dengan sayang,
" Aku juga beruntung mempunyai suami seperti Mas Arya, Mas sangat menyayangi kami, Dan selalu sabar dalam menghadapi sikap bawel aku," Ucap Riri menangkup kedua pipi suaminya dengan senyum mengembang, Yang sangat manis,
Membuat Arya semakin terpesona Akan kecantikan istri nya itu, Arya mendekat kan wajah nya ingin mengecup bibir menggoda istrinya itu, Wajah kedua nya sudah saling mendekat, Hanya tinggal beberapa inci saja, Bibir keduanya akan menyatu, Namun…,
"Papi…!" Teriak Re yang baru saja masuk kedapur usai menemani baby Eza dan Nyonya Ranti berjemur di halaman belakang,
"Astaga.., Selalu saja," Gumam Arya memejamkan matanya, Seketika bahunya ter turun layu,
Riri hanya terkekeh melihat wajah merana Suaminya itu,
"Papi ngapain pangku Mami? Nanti Mami jatuh, Kan kasian, Papi pangku Abang ajah,Turun Mih,"
Re menuntun Riri turun dari pangkuan Papi nya, Dan menyuruh Maminya duduk di kursi di sebelah Arya,
"Abang mau pangku Pih, "
Arya langsung mengangkat Tubuh Re dan memangku nya, Sembari menciumi kedua Pipi Tembem Putra nya itu,
" Anak Papi sudah gede ehh, Bentar lagi ulang tahun yang ke Tiga, Abang mau minta kado apa sama Papi?,"
__ADS_1
Arya bertanya dengan masih menciumi Pipi Putra sulung nya itu, Dengan gemas,
Re terlihat berpikir sejenak, sebelum mengutarakan Ke inginkan nya,
" Em Kata Opa, Re akan di belikan mainan apapun yang Re suka nanti sebagai kado ulang tahun dari Opa, Jadi…., Abang mau minta Adik lagi boleh?,"
"Uhuk! uhuk!,
Riri yang mendengar permintaan Putranya itupun langsung tersedak, Oleh air minum yang baru saja masuk ke tenggorokan nya,
" Pelan-pelan minum nya Mih, " Menepuk-nepuk punggung Maminya dengan Sayang,
" Mami kek Kadek Eza aja deh suka keselek,kalau minum, Padahal kan Mami sudah gede," Ucap Re polos, Tak tahu kah jika itu karena ucapan nya barusan, Re,Re, Ada-ada saja permintaan nya,
Sedang Arya langsung tersenyum lebar kepada Riri, Seraya menaik turunkan kedua alis nya,
Sementara Riri langsung mendelik kan mata nya, Kepada Suaminya itu, Semangat sekali kelihatanya,Kalau soal membuat anak,
.Betul nggak sie? ✌️
.
.
"Bang, jangan ganggu adek, Nanti nangis,"
Riri yang sedang menyetir Mobil itupun menegur si Sulung yang sejak tadi terus saja mencium dan mencubit pipi adik nya, yang di gendong Lili, di Jok tengah, Eza bahkan sudah meronta dan meliukkan bubuh montoknya kesana kemari demi menghindari ciuman sang kakak,
Eza yang sudah berusia 7 bulan itupun semakin montok, Dan semakin lincah, bila di gending Bayi itu tak pernah diam, Selalu meronta, Ingin menggapai apapun yang menarik perhatian nya,
Sedang Nyonya Ranti duduk di depan di samping Riri, Yang mengemudikan mobil kesayangan nya, Si merah yang gagah,
Sampai sekarang mobil itu masih menjadi mobil kesayangan Re Dan Riri, Pernah Arya menawarkan Riri untuk memakai Salah satu dari koleksi mobil nya,
Namun Riri menolak, Baginya Mobil pemberian Almarhum Sang Kakak lebih nyaman ketimbang mobil mahal manapun,
__ADS_1
Begitupun Dengan Re, Anak itu sangat menyayangi mobil nya, Sehingga tidak mengizinkan siapapun membawanya,
Bahkan Papi nya saja tidak ia izinkan, yang bisa menyetir mobil itu hanya Riri saja,Tidak dengan yang lain, Jika mereka bepergian sekeluarga, Maka Re akan mendatangi mobil nya dan memeluk nya sambil berkata,
Baik-baik ya di rumah, abang mau jalan dulu, Besok kita jalan-jalan bertiga bareng Mami,
Terkadang Riri sampai menjatuhkan air matanya, Melihat Perkataan putra sulung nya itu,
" Kita makan siang dulu ya,Mama pengen makan di mana? Kata dokter udah bisa makan daging tapi nggak boleh banyak dsn terlalu sering, "
Tukas Riri tanpa menoleh kepada Mama mertuanya itu, Mereka batu saja keluar dari halaman Rumah sakit, Untuk Terapi Nyonya Ranti, Yang kesekian kali nya,
Jam sudah menunjuk kan pukul Satu siang itu, Sudah waktunya makan siang,
Riri sengaja menwarkan kepada Mama mertuanya, Siapa tahu Beliau ingin makan sesuatu,
" Di mana sajalah, Mama ngikut ajah, " Tukas nya pelan,
" Mami.. Abang mau makan ikan bakar sama cumi krispy," Request Re, Yang sudah melepaskan Adik nya, karena Bayi montok itu sudah tertidur, Dengan dot di mulut nya,
" Turutin saja Tuan muda itu Ri, Mama juga pengen makan Ikan bakar," Ucap Nyonya Ranti,
" Ya sudah, Kita mampir di Resto samping Mall di depan aja ya, Disitu Ikan bakar nya enak, " Ucap Riri sambil membelok kan Mobil nya masuk ke area Restoran yang lumayan Rame di jam makan siang itu,
" Ehh Jeng Ranti, Baru keliatan! Kemana aja Jeng? Ya ampun! Jeng Ranti sekarang lumpuh ya?, Uchh kasian,Nggak bisa lagi dong Ngumpul bareng geng sosialita kita,"
Ucap seorang Ibu-ibu dengan senyum meremehkan ke arah Nyonya Ranti.
Suara rempong nan cempreng itu, Membuat Konsentrasi Riri yang sedang memyuapi Re dengan Ikan bakar Nila, Kesukaan nya,
Mendengar Nada Sindiran serta kata-kata menggolok itu, membuat Kepala Riri Panas, Seakan telah mengeluarkan asap,
Bersambung…..
Jangan lupa like nya ya, guys, Sedekah nya bila berkenan 🤗🙏 Terima kasih 🙏
__ADS_1