
"Jadi…jadi sa..saya sakit apa Dok?"
Dokter wanita parubaya itupun sedang membaca hasil tes, Pasian nya seminggu yang lalu,
Dengan menghela Nafas berat, Sang Dokter itupun menatap Pasien nya dengan wajah senduh, Seakan ikut sedih dengan apa yang telah di alami sang pasien,
" Em.. Begini Nona, Dari hasil pemeriksaan kita minggu lalu, Saya dengan berat hati menyampaikan hal ini,"
Dokter tersebut menjeda kalimat nya sejenak, Demi kembali menarik nafas nya dengan berat,
Sedang sang Pasien yang sejak tadi mennti jawaban sang dokter pun, Berdoa dalam hati, Semoga penyakit nya tidak parah, Hanya itu harapan nya saat ini,
" Anda positif terkena kangker serviks, Stadium tiga,"
Deg!!
Jantung wanita itu seakan berhenti berdetak, Sepersekian detik, Di benak nya langsung terpampang wajah cantik nan ceria Putrinya, Putri semata wayang nya, Kesayangan nya, Hidup nya, Buah hatinya,
Perlahan wajah ceria itu berubah menjadi sedih, menangis memanggil Dirinya
Tak terasa, Air mata wanita itu jatuh menyusuri wajah kusam nya, Setelah sakit selama sebulan terakhir ini, Perubahan tubuh dan fisik nya sangat kontras sekali.
Jika dulu ia memiliki tubuh langsing ideal, dengan wajah mulus tanpa jerawat, Karena sapuan skin care mahal yang ia gunakan,
Kini tiada lagi, Semenjak karir nya hancur karena kebodohan nya, Di masa lalu, kini ia hanya memprioritaskan Putri nya, Aruna Daniela, Putri semata wayang nya,
Restie berjalan dengan pandangan kosong, Ia bukan khawatir tentang dirinya, Yang ia pikirkan adalah, Bagaimana nasib Putrinya jika ia mati nanti,
Dokter mengatakan, penyakit nya masih bisa sembuh, dengan kelakukan Operasi, dan kemo,
Restie tidak cukup uang untuk itu semua, Tabungan nya selama ini untuk sekolah putrinya, Ia ingin Putrinya bisa bersekolah, dengan layak, Jika ia gunakan untuk biaya Operasinya yang belum tentu akan berhasil,
Langkah nya berhenti di sebuah taman, Yang siang itu,Terlihat sangat sepi, hanya ada beberapa orang yang sedang duduk di bawah rimbunnya pohon,
Ada juga beberapa Anak kecil bersama orang tua mereka, sedang berlarian bermain gelembung,
Pandangan Restie mengabur karena air mata yang telah memenuhi kelopak matanya,
Dalam pandangan nya yang mengabur itu, Restie seperti melihat wajah anak nya yang berlarian di dekat kolam air mancur, dengan tertawa riang,
"Mommy!! Kejar Nuna..Ayo kejar Nuna Mommy!, "
__ADS_1
Restie berdiri dan kembali mrlanjutkn langkahnya, Dia ingin cepat pulngbke rumah, ingin cepat menemui putri kecil nya, Ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Putri kecil nya,
.
.
"Mami.. Nanti malam Abang mau tidur di kamar Mami,"
"Boleh sayang, Sekarang habiskan makanan ya, Mami mau ambil Ade Eza dulu,"
" Iya Mami,"
Riri tersenyum dengan tingkah Putra nya itu, Ia sudah bisa menebak, Malam ini akan seperti apa keributan yang akan dibuat oleh Suami dan anak nya itu,
" Bagaimana Mas, Mama mau di ajak kesini?" Tanya Riri seraya mengangsurkan segelas air putih kepada Arya yang baru saja membuka dasinya,
" Mama diam aja, Tapi nggak Nolak juga, Rencana nya Lusa Mama akan Mas bawa kesini, Sumi dan perawat nya juga ikut gimana sayang?,"
Arya menaruh gelas di atas nakas yang ada di depan nya, Beralih dengan menarik pinggang sang Isteri dan memeluk nya, Membenamkan wajah nya di perut Riri, Adalah sebuah kenyamanan baginya,
Setelah lelah berkerja seharian di luar sana, Pulang ke rumah waktunya bermanja-manja dengan istrinya yang sudah wangi di jam lima sore itu,
" Papi…! Mami… Buka..!"
"Astaga, Anak ku, Nggak bisa betul biarin papi nya sebentar aja bermanja-manja sama Mami nya, Takut betul Maminya di habisin,"
Sungut Arya sembari berdiri berjalan ke arah pintu, Dan membuka nya,
Di depan Pintu wajah putra sulung nya itu sudah tak ramah memandang nya,
Sedang Riri hanya tertawa geli mekiht wajah merana Suaminya itu,
" Hay Putra Papi, Yang paling ganteng, Ada apa nih cari Mami?,"
Arya mengangkat tubuh anak nya dan menggendong nya, Sembari mencium pipi nya yang masih blepotan bedak bayi,
"Hem…, Abang wangi banget. Sih, Kalah nih Papi, Papi malah belum mandi,"
Arya memperhatikan raut wajah Re yang sedikit melunak, Saat ia memujinya,
" Mami.. Abang jadikan Bobo disini?" Tanya Re dengan wajah di buat se imut mungkin,
__ADS_1
" Tentu saja sayang, " Ucap Riri yang mendapat tatapan protes dari sang suami,
Riri hanya tersenyum memandang Suaminya, Yang memasang tampang memelas,
" Ngalah sedikit sama Anak Pih," Bisik Riri seraya berjalan keluar kamar untuk menyiapkan makan malam,
" Sayang..!" Protes Arya saat Riri meninggalkan nya,
"Boy, Kenapa mendadak ingin bobo di kamar Papi?," Tanya Arya penuh selidik kepada putra nya, Yang masih berada dalam gendongan nya,
" Papi nggak suka ya Kalau Abang ikut bobo di sini?," Tanya Re memandang Wajah Papi nya,
" Bu..bukan begitu sayang, Hanya saja.., Apa Abang nggak kasian Bantal Upin ipin nya di tinggal sendiri?, Entar nangis loh, Kan kasian,"
Ucap Arya memprovokasi putra nya sendiri,
" Iya kasian ya, Ya udah deh kalau gitu,Papi ajah yang bobo di kamar Re,
Membuat Arya hampir tersedak dengan liurnya sendiri, " Loh kok Papi, Kan itu kamar Abang, Papi ya disini sama Mami, Abang di kamar Sama temenin Upin pipinya," Tukas Arya,
Hening sejenak, Tak ada balasan dari Re, Bocah itu terlihat berpikir, Kemudian..
" Papi memang nggak sayang sama Abang," Re merosot kan tubuh nya, Minta di turun kan dari gendongan sang Papi,
" Mami…!! ich..ich.., Papi nggak sayang Abang..!" Re menangis berlari keluar kamar, mencari keberadaan sang Mami,
"Loh..loh? Kok gitu, Abang!, Astaga, Anak ku," Arya memijat kening nya, melihat Kelakuan Putra nya Itu,
Dengan Cepat ia pun menyusul Re yang pergi mendatangi Maminya Di dapur.
Benar saja, Anak pintar itu sedang mengadu kan nya pada sang Mami,
" Mih.., Papi Nakal, Papi suruh bobo di luar aja Mih, Nggak usah bobo sama kita," Ucap nya, sembari memeluk Riri yang sedang menata makanan di piring, kemudian di angkut ke ruang Makan oleh Art yang berkerja di rumah itu,
" kok gitu?, Memangnya Papi ngomong kek mana sama Abang?,"
.
Bersambung....
__ADS_1