
Sepeninggal Arya dan juga istrinya, Dea sang Sekretaris itu kini duduk di kursinya, Seraya mengelus dada nya yang masih deg-deg'an saat menyaksikan kemarahan istri dari atasan nya itu,
Tubuh nya bergidik ngeri saat mengingat Wakil Dirut PT Angkasa Jaya itu di dorong sampai mencium lantai oleh Riri, Dengan keadaan bermandikan Boba,
"Ya ampun ngeri nya," Gumam nya kemudian, Selama ini dirinya belum pernah melihat istri atasan nya itu marah, Setiap kali Riri berkunjung ke Kantor suaminya itu, Selalu nya membawa buah tangan untuk dirinya, Di balik wajah judes dan suaranya yang datar itu, Riri merupakan pribadi yang baik, Dirinya sering sekali kecipratan rezeki yang tak di sangka-sangka,
Seperti waktu itu. disaat dirinya dalam kebingungan Ibu nya sakit dan harus di operasi karena penyakit usus buntu, Sedang dirinya tidak cukup uang, Gajinya habis untuk biaya hidup dirinya dan juga ke dua adik nya yang masih bersekolah dan kebutuhan sehari-hari,
Dirinya menjadi tulang punggung keluarga setelah Ayah nya meninggal beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan saat pergi berkerja,
Saat itu adalah Ulang tahun Re Putra Sulung atasan nya, Dan dirinya tidak bisa ikut hadir karena sang ibu yang sakit, Dan tidak bisa di tinggal,
Keesokan harinya Istri Atasan nya itu datang ke rumah kontrakan sederhana nya untuk menjeguk Ibunya yang sakit, Dengan membawa empat buah parcel, Berikut aneka kue lainya,
Singkat cerita, Setelah istri atasan nya itu pamit pulang dari Rumah nya, Dirinya dan juga kedua adik nya dengan antusias langsung membuka parcel yang di bawakan Istri atasan nya tadi,
Di antara ke empat parcel tersebut, satu di antara nya bertuliskan Namanya, Dea, Tentu saja ia langsung membukanya, di antara susunan isi parcel yang enak-dan unik itu, Terselip amplop putih yang lumayan tebal, Dengan jantung deg-deg'an Dirinya membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya,
Betapa terkejut nya dirinya saat melihat Isi dari amplop tersebut, Berupa dua gepok uang warna merah yang masih bersegel, masing-masing 10 juta, Dengan note kecil yang bertuliskan 'Semoga bisa membantu biaya pengobatan Ibumu ya Mba Dea, mohon di terima, '. Membuat dengkul nya lemas detik itu juga, Bahkan Ibunya langsung memanjatkan doa untuk kelurga Atasan nya itu
Sedang bungkusan parcel lain nya pun sama kedua adik nya sudah jingkrak-jingkrak kegirangan saat menemukan Amplop di dalam parcel bagian mereka. Yang masing-masing berisi lima lembar pecahan 100 ribu,
Ibu dan juga dirinya tak henti-hentinya berdoa untuk kebahagiaan keluarga baik itu, Dea sangat menyukai Istri Atasan nya itu, Namun dirinya sedikit takut dan rikuh saat berhadapan dengan nya lebih tepat nya segan,
" Dea..,Kemana Pak Arya nya? Kok nggak ada di dalem,Sebentar lagi kan perwakilan dari PT Angkasa Jaya tiba," Dimas yang baru saja sampai di kantor setelah makan siang bersama istri dan anak nya itupun merasa heran kala tak mendapat Bos nya itu,
Biasanya Arya tidak akan kemana-mana jika memang ada janji temu, Entah itu di luar maupun di Kantor,
Dea yang masih larut dalam lamunan tentang kebaikan istri atasan nya itupun sedikit terlonjak kaget saat Dimas sudah berdiri di depan meja nya,
"Anu. Pak Dimas, Tadi setelah Pak Dimas pergi ada perwakilan PT Angkasa Jaya datang kesini Bu Sesil, Dia masuk menemui Pak Arya, Dan….,"
Dea mencaritakan semua apa yang terjadi siang itu kepada Dimas, Termasuk keadaan wanita bernama Sesil itu, Dan juga kepanikan Arya dalam membujuk Istrinya, Arya bahkan meninggalkan Kantor tanpa membaw Kunci Mobil dan Phonsel nya yang masih ada di meja kerja nya,
Membuat Dimas melongo, Mendengar penjelasan dari Sekretaris Bos nya itu, Sudah pasti nasib sang Bos sedang tidak baik-baik saja saat ini, Apalagi ia tahu bagaimana sifat keras dan galak nya istri Bos nya itu,
"Hahh… Anda salah mencari lawan Bu Sesil, Masih syukur jika anda tidak babak belur" Gumam Dimas seraya berlalu menuju ruangan nya,
********
__ADS_1
"Ar..Arya.., Kenapa lagi Maminya Re? Kamu bikin masalah apa lagi sama dia?, "
Nyonya Ranti yang sedang duduk di sofa Ruang keluarga sembari mengelus-elus kepala Eza yang tertidur berbantal kan pangkuan nya,
Mencegat Anak nya yang ingin mengejar istrinya yang melangkah masuk dengan wajah datar nya,
" Itu Mah. Nanti Arya ceritain Ini lagi Urgent, Ok," Tukas Arya yang kembali melanjutkan langkah nya mengejar Istrinya, Yang sedang marah itu,
'Bi Marni…! Bi…!," Riri yang sudah berada di ruang makan itu kini telah duduk di kursi dan memanggil Art nya itu,
"Iya Non?," Bi Marni datang dari arah dapur dengan tergopoh-gopoh, Saat mendengar suara tak biasa Majikan nya itu,
"Bi tolong belikan kembang 7 rupa ya, sekarang ya Bi," Tukas Riri melirik Arya dengan ekor matanya,
"Sayang.. Kamu serius.mau mandiin aku paket kembang? Mami tega sama Papi begitu," Suara Arya sudah memelas dengan wajah murung, terlihat bagai seorang pesakitan yang di vonis hukuman mati,
Riri tidak menghiraukan sama sekali suaminya itu,Dirinya masih sangat kesal melihat suaminya di pegang-pegang oleh wanita lain, Dan hampir di cium pula, Apalagi saat wanita itu mengatainya kampungan dan juga kucel, Kepalanya serasa mau mendidih, Jika tidak mengingat dirinya tengah hamil, Mungkin sudah ia ajak gulat itu si wanita kurang ajar itu,
"Ada apa ini sebenar nya Ar, Kenapa Sampai Mami nya Re marah, Dan untuk apa kembang 7 rupa itu, Seperti mau ke kuburan aja," Tukas Nyonya Ranti yang menyusul anak dan menantunya setelah meminta Lili memindahkan Eza di kamar nya dengan kening mengkerut,
" Itu..itu..anu. Mah_," Suara Arya sudah tergagap-gagap,
Nyonya Ranti yang mendengar penjelasan menantunya itupun, Langsung mengalihkan pandangan nya kepada Arya yang berdiri di samping nya, Dengan wajah tertunduk layu,
" Sebentar.., Terkontaminasi bakteri..? Maksud nya._"
"Anak Mama ini sudah bermain api di belakang aku, Tadi aku mergokin dia, Dia hampir saja cipokan sama perempuan cantik dan sexy, Nggak kayak aku kucel dan gendut kampungan lagi," Jelas Riri sembari memandang Suaminya,
"Sayang, Kamu nggak kampungan, Kamu juga nggak kucel apalagi gendut nggak benar sama sekali, " bantah Arya,
Nyonya Ranti yang mendengar penjelasan dari Riri itupun menoleh Arya yang juga tengah memandang nya, Dengan menggelengkan kepalanya,
" Sayang, Coba dengar dulu penjelasan aku, Aku nggak mungkin macam-macam sama kamu, Atau mengkhianati kamu,"
Tukas Arya dengan memelas,
" Mah, Arya nggak bohong, wanita itu yang kurang ajar, Arya nggak mungkin melakukan hal serendah itu," Arya pun menjelaskan semua nya dengan detail, "Sumpah sayang," Tukas Arya dengan putus asa,
Nyonya Ranti pun menghela nafas jya dengan panjang,
__ADS_1
"Hem, Jadi karena itu Arya mau di mandiin pake bunga kuburan?," Tanya Nyonya Ranti bergidik ngeri,
"Mami..Mami jangan marah-marah,Abang nggak mau liat Mami marah kek gini, Kasian Adik, Nanti dia terbangun, Abang juga nggak mau Papi di mandiin pake bunga kuburan," Tukas Re sedih,
Riri dan Nyonya Ranti sangat terkejut, Saat tiba-tiba Re sudah berada di antara mereka, Begitupun dengan Arya, Dirinya tak menyangka jika putra Sulung nya itu akan melihat keributan itu,
"Mami baikan ya sama Papi, Jangan berantem gitu, Abang sedih kalau Mami musuhan Sama Papi," Lanjut nya lagi, Dengan memeluk pinggang sang Papi dengan raut memelas,
Riri yang mendengar penjelasan dari Arya itupun, Sedikit mengendurkan keras hatinya, Terlebih lagi saat melihat wajah Re yang memelas,
"Jangan masuk kamar sebelum mandi sampai bersih. sebersih bersih nya kalau perlu Papi luluran sekalian Biar kinclong," Tukas Riri sebelum berlalu ke kamar nya,
"Bi Marni, nggak jadi beli kembang nya!, "
Arya dan nyonya Ranti menghela nafas lega, Saat melihat Riri yang sudah memgendurkan amarah nya,
Setelah punggung Maminya sudah tak terlihat lagi, Re segera melepaskan belitan tangan nya di pinggang papi nya,
"Pih, Sebaik nya Papi segera mandi, Bau Papi nggak enak, Benar kata Mami, Papi ini sudah terkena bakteri, Dan juga jangan mencari masalah sama Mami," Ucap Re enteng dengan wajah datar nya, wajah memelas nya tadi hilang Entah kemana, Setelah mengatakan hal itu bocah itu berlalu dari hadapan Arya dan juga Nyonya Ranti,
Arya dan Nyonya Ranti hanya melongo saling bertukar pandang, Mendengar perkataan Re,
"Ya ampun..Benar-benar Ibu dan anak, " Tukas Arya dengan pasrah,
"Lagian kamu juga sih Ar, Bikin masalah, Kenapa juga kamu cuma berdua saja di dalam ruangan itu,Kenapa kamu nggak minta di temenin sama Dea," Ucap Nyonya Ranti kesal,
"Riri itu pamit sama Mama mau makan siang sama kamu, Dari pagi dia sudah sibuk masak buat makan siang kamu, Ehh kamu nya malah cari perkara,
Masih untung Abang bisa meluluhkan hati Mami nya, Bayangkan saja jika tidak, Seorang CEO di rendam kembang tujuh rupa sama istrinya selama tujuh hari tujuh malam, Gara-gara ketahuan selingkuh,"
"Mama ini Aku nggak selingkuh Mah, Nggak kasian banget sama anak nya sendiri," Protes Arya dengan wajah cemberut,
" Udah mandi sana, Sebelum Riri berubah pikiran, Nggak usah cemberut. Malu sama anak sudah mau empat, Nggak cocok lagi ngambekan gitu," Nyonya Ranti berlalu dari ruang makan itu, meninggalkan Arya yang kini terlihat layu, Berjalan menuju Kamar Re untuk menumpang Mandi,
'Sabar ya Papi Arya, Namanya juga bumil'
Bersambung…
Jangan lupa like nya ya,🤗😍
__ADS_1