
" Sayang, hari ini masih libur kan?," Arya yang baru saja keluar dari kamar mandi itu kini mendekati sang istri yang sedang menyiapkan pakaian untuk ia kenak kan hari ini, Dan memeluk nya dari belakang,
" Iya, Aku masih libur sampai lusa, Kenapa Pih?,". Riri menjawab dan balik bertanya, tanpa menghentikan kegiatan nya itu,
" Ikut kekantor ya, temenin Mas kerja, " Arya berkata sambil menjilati leher Riri yang putih mulus, yang selalu membuatnya tak tahan ingin menggigit nya,
" hentikan Pih, geli ih, Sana pake baju aku mau mandi dulu, masih bau ini," Riri melepas kan tangan Arya yang melingkar di perut nya, dan berlari kekamar mandi
Arya hanya terkekeh melihat tingkah istri kecilnya itu, ia pun segera mengenak kan pakaian nya bersiap untuk ke kantor,
.
15 menit kemudian Riri keluar dari kamar mandi hanya mengenak kan selembar handuk yang menutupi bagian pribadinya nya itu, dengan cepat berjalan menuju ruang ganti tanpa menoleh Arya yang sejak tadi terus memperhatikan nya,
Sebelum Riri menutup pintu ruang ganti itu, Dengan cepat langkah Arya menyusul dan ikut masuk kedalam menyertai Riri dengan senyum menyeringai,
" Astaga.! Papi, mau ngapain? Sana, Aku mau ganti baju! " Kaget Riri sambil mendorong tubuh suaminya yang benar-benar mesum pikir nya,
" Iya Aku tahu, Aku akan membantumu mbersiap-siap," jawab nya cengegesan,
" Hem.. membantuku?" Riri memincingkan matanya memandang Arya penuh curiga,
" Yaa, sekalian mas cuma mau mastiin aja, apa itunya udah sembuh, Ini aku belikan salep nya biar sakit nya cepat sembuh, kilah nya,
Sebab semalaman Arya, tersiksa karena Riri berkata jika Area sensitif nya masih perih dan Arya tidak tega kala melihat sang istri kesakitan seperti itu,
Dan pagi ini melihat Riri melewatinya dengan hanya mengenak kan selembar handuk yang memperlihatkan kaki jenjang serta paha nya yang mulus, Membuat adik kecil nya itu menggeliat sesak, karena telah berubah ukuran,
" Modus nih?," Riri menatap Arya curiga.
Sedang yang di tatap hanya tersenyum penuh arti, Tangan nya sudah terulur dan hendak melepaskan belitan handuk di tubuh sang istri,
__ADS_1
" Aku malu ihh, Sini Salep nya biar aku kasih sendiri ajah, " Tolak Riri dengan memegang erat simpul handuk nya agar tak jatuh,
" biar Mas bantu ya, kalau kamu sendiri pasti susah karena nggak keliatan semua, " jawab nya, Pantang menyerah, Hidangan lezat yang sudah di depan mata tak akan ia sia-siakan.
Benar-benar pria modus yang licik,
"beneran Deh nggak usah, Aku malu, udah ngga terlalu perih kok. pasti besok udah sembuh ini," tolak Riri, masih mempertahan kan Handuk nya yang sudah melorot sehingga menampak kan Dada nya yang montok,
Membuat Arya kini susah menelan ludah nya, Demi pemandangan yang luar biasa di depan nya itu,
" Sayang, Nggak boleh bantah suami loh, Dosa, Ayo sini mas obatin," bujuk Arya lembut, dengan menuntun Riri agar duduk di Sofa panjang yang ada di ruang ganti tersebut,
" Tapi Aku malu, " Cicit nya, pelan Dirinya pasrah dengan apa yang akan di lakukan Suaminya itu,
" kenapa harus malu, Aku ini suamimu, Aku juga sudah melihat semua nya yang ada padamu kan," Ucap Arya dengan senyum mesum nya,
Riri hanya memonyongkan Bibir nya, mendengar perkataan Arya,
Arya menelusuri seluruh tubuh polos istrinya dengan tenggorokan serat, dengan perlahan mendudukan Riri di sofa itu, dan mengangkat kedua kaki nya menekuk, jakun Arya sudah naik turun kala melihat bagian inti istrinya itu, bagai bunga mekar yang segar, merekah dengan indah,
" Pih jangan liatin gitu ah, makin malu aku nya," Rengek Riri, malu bukan main diliatin seperti itu,
" Rilek sayang hem," tukas nya dengan suara serak,
Dari Suaranya Riri sudah bisa menebak jika Suami nya itu sudah terpantik gairah, modus nya aja mau ngobatin, tapi nyatanya..?
Beberapa saat kemudian Riri memekik, dengan suara tertahan, mana kala merasakan panas nya lidah Arya yang menyapu area di bawah sana, lutut nya seketika lemas bagai tak bertulang, perut nya terasa di hinggapi ribuan kupu-kupu berterbangan, Rasa yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata.
tangan nya Reflek menjambak Rambut Arya yang masih setia menekuni kegiatan nya di bawah sana,
" Ahhh.. Sudah Pih.. a..aku mau pipis" Suara Riri terbata-bata kala, menahan ******* nya, takut jika suaranya membuat Re terbangun dan menangis, Hal itu tak akan baik buat mereka berdua,
__ADS_1
" Belum sayang..Tunggu Mas," Arya berdiri dari jongkok nya dan meraih Phonsel yang bergetar di saku jas nya, " Dim, Jemput aku satu jam lagi," Dan langsung mematikan sambungan telpon tersebut tanpa mendegar jawaban orang di sebrang sana, dan melempar Phonsel nya kesembarang arah, membuka pakaian nya dengan terburu-buru, dan tanpa menunggu lagi,
Arya segera meraup tubuh molek sang Istri dan memangku nya, keduanya memejamkan mata sesaat setelah penyatuan tubuh mereka, dengan Nafas yang menderu satu sama lain,
Sementra itu di luar Rumah Riri, Seorang pria tampan dengan Stelan formal, Serta rambut yang di sisir Rapih itu, kini tengah menggerutu di depan Phonsel nya, setela panggilan nya di putus begitu saja oleh Bos Kurang ajarnya itu,
Bagaimana tidak Dirinya sudah menunggu selama 15 menit. Namun Bos nya itu tak kunjung terlihat batang hidung nya, Sekalinya di telpon, malah menyuruh nya datang satu jam lagi, Ya Ampun,.Biasakah Dimas memaki Bos kurang ajar nya itu,
Dengan perasaan Dongkol Dimas membalikkan badan nya dan. Bruk..
" Aduh.." Suara seorang wanita yang terjatuh kala Ia tak sengaja menubruk nya karena berbalik secara tiba-tiba,
" Astaga, Sakit sekali," Rina berdiri sambil memegan lutut nya yang lecet,
" Eh mas! kalau jalan itu lihat-lihat, biar nggak membahayakan orang lain di sekitar nya, Sakit nih, " Ketus Rina menatap Dimas yang masih terpesona kepada Rina yang cantik bagai bidadari turun dari kayangan.
Bahkan suara ocehan Rina yang bernada ketus itu , seakan bagai nyanyian merdu di telinga Dimas,
" Ehh di bilangin malah bengong aja, Dasar Sedeng, " Kesal Rina sambil berlalu meninggalkan Dimas yang masih memandang nya sambil tersenyum,
Sedetik kemudian Dimas baru sadar jika gadis manis yang baru saja ia tabrak itu telah berlalu dari hadapan nya, Dan terlihat menuju pintu Rumah Riri tersebut, Dimas dengan langkah terburu-buru mengejar Rina,
" Hay, tunggu Nona, Dimas memegang tangan Rina, Dan langsung di tepis oleh pemilik nya,
" Aku minta maaf, Aku beneran nggak sengaja tadi, Astaga, lutut kamu berdarah, " Panik Dimas, Tanpa persetujuan Rina Dimas menarik lengan Rina dan menduduk kan nya di kursi teras,
Sedang Rina hanya terbengong melihat kepanikan pria tampan di hadapan nya itu,
.
udah dua bab ya, Sayang-sayang nya Othor 🤗
__ADS_1
jangan lupa like nya ya🤗 biar Othor makin semangat,