
" Ini yang Bapak minta, " Dewi meletakkan kotak P3K di atas meja dengan senyum simpul, Saat matanya bertemu pandang dengan Riri Dewi pun mengedipkan sebelah matanya menggoda dengan senyum di tahan,
Sedang Riri wajahnya sudah memerah karena malu luar biasa, dilihat dalam posisi yang seperti ini, Membuatnya khawatir jika Dewi berpikir yang tidak-tidak,
berbeda dengan Arya yang merasa senang luar biasa, Bisa sedekat ini dengan Riri membuat hati nya berbunga-bunga,
" Ok terima kasih," Seraya tangan nya meraih kotak obat tersebut, dan membukanya, tanpa memperdulikan tatapan jengkel Riri yang masih duduk di ata meda di depan nya,
" Saya perminsi Pak! " Dewi undur diri merasa tak enak jik terus berdiri di ruangan itu,
" Hem, " Hanya di jawab dengan deheman oleh Arya, Yang sekarang tengah membuka tutup obat merah dengannkapas di tangan nya,
" Udah ahh sini biar aku obatin sendiri ajah," Riri ingin meraih kapas yang sudah di totol dengan obat merah, Dari tangan Arya, Namun dengan gesit Arya menjauhkan tangan nya yang memegang kapas,
" Kamu diem aja, Duduk manis oke! "
Setelah mengatakan itu Arya kembali memberhentikan luka di lutut Riri Darahnya sudah mengering dan juga ada pasir yang menempel di sekeliling permukaan luka nya,
" Kamu tahan sedikit ya, mungkin akan sedikit perih, Aku bersihkan dulu banyak pasir yang nempel! "
Arya mengambil kapas lain dan membasahinya dengan Alkohol, 75% khusus untuk luka luar,
Mendengar kata Alkohol membuat wajah Riri semakin pias saja, masih teringat di benak nya dulu saat dia masih kelas 5 SD pernah jatuh dari sepeda lututnya luka, Dan Ayah nya yang gemes membersihkan luka nya dengan Alkohol yang luar biasa perih,
Karena Riri yang bandel, Di larang main Sepeda karena hari sudah senja, Akan tetapi tak di gubris Oleh Riri, Yang saat itu lagi semangat-semangatnya menaiki sepedah nya yang baru saja di belikan oleh Nisa,
Sebagai hadia Ulang tahun nya yang ke 11 Tahun, Dan berakhir dengan Riri jatuh dan hampir nyebur ke dalam parit yang ada di depan rumah nya, Jika saja sang Ayah tidak menagkap nya, Walau pun berakhir dengan lututnya yang tergeret di pinggiran beton kasar pembatas Parit yang biasa di gunakan untuk tempat duduk bagi Ibu-ibu yang tengah menunggu tukang sayur di pagi hari,
" Nggak!! " Pekik Riri seraya melompat dari duduk nya di atas meja,
Membuat Arya terkaget, " Kamu kenapa sih kok malah teriak gitu? Belum juga aku sentuh luka nya udah teriak duluan! "
" Nggak usah di bersihin! nanti juga sembuh sendiri, " Tukas Riri sambil kembali duduk di Sofa, dan meraih Phonsel nya memeriksa apakah ada pesan dari Danis atau tidak,
" Iya kenapa? ini nggak sakit kok! Paling cuma perih dikit aja! Sini lukanya, Nanti kalau nggak di obatin malah lama sembuh nya! "
__ADS_1
Arya kembali mendekat dengan kotak obat di tangan nya, Dan Riri kembali menggeser letak duduk nya agar berjauhan dengan Arya,
" Itu perih! Aku nggak mau di kasih itu! Langsung kasih obat aja nggak usah di bersihin dulu, " cetus nya sambil melirik horor Botol alkohol di tangan Arya,
" Astaga! Cuma dikit aja Riri sayang! Itu lukanya ada pasirnya, Entar kalo infeksi gimana? Sini, "
Arya menarik kaki Riri dan hendak menyapukan kapas yang sudah dia basahi dengan alkohol, Namun Riri kembali menarik Kaki nya,
" Nggak Ar! Itu sakit, Perih banget itu! " tolak nya, Bahkan wajah nya sudah semakin pucat,
" Ri dikit aja! Sini, " Rasanya Arya Seperti membujuk anak TK yang akan di suntik Rubela saja,
" Nggak mau! Udah ihh itu jauhin jangan dekat-dekat dengan luka Aku perih,"
" Ya ampun gadis ini! " Arya berpikir sejenak sambil Mandang Riri yang masih menjauhi nya,
Dan tercetus sebuah ide yang sangat menguntungkan Dirinya, Arya tersenyum smrik ketika memandang Riri yang sedang Asik memainkan Phonsel nya
Dengan cekatan Arya menyiapkan kapas yang sudah dia basahi dengan obat merah,
Dengan perlahan dia mendekati Riri, Dan dengan perhitungan yang tepat Arya mengangkat Tubuh Riri dan memngkunya menyerong,
Riri yang kaget karena ulah Arya yang mengangkat nya seperti anak kecil sehingga Phonsel di tangan nya terjatuh ke lantai,
" Astaga!! Ap,hmm! " Riri tidak bisa melanjutkan Kata-kata protes nya, Karena Arya telah membungkam bibir nya dengan ciuman, Yang membuat sekujur tubuh Riri membeku, kaget dan ada rasa yang lain yang susah di jelas kan dengan kata-kata, Rasa yang belum pernah dia Rasakan sebelum nya,
Arya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, Sekali mendayung dua pulau terlampaui, Tangan nya dengan gesit berkerja melap luka Riri dengan kapas yang sudah dia basahi dengan Alkohol tadi,
Sedang bibirnya tak kalah gesitnya dengan tangan nya, Arya menyapukan Lidah nya menelusuri setiap inci bibir Riri yang selalu membuatnya tidak bisa tidur,
mengabsen deretan gigi Riri yang rapih,
Setelah dirasanya cukup, Arya mengambil kapas yang telah dia totolkan obat merah sebelum nya lalu menempelkan nya ke lutut Riri yang luka,
Riri tak merasakan Perih sama sekali di lutut nya, Namun berganti dengan syok luar biasa,
__ADS_1
ingin memberontak namun badanya lemes seperti tak bertulang
Setelah selesai mengobati lutut Riri, Dan merasakan Nafas Riri yang tersengal-sengal Arya melepas tautan bibir mereka,
" Sudah selesai! Tidak sakit kan?," Arya tersenyum sambil melap bibir Riri yang basah karena ulah nya,
Sontak Riri bangikt dari pangkuan Arya dan menendang tulang kering Arya sekencang mungkin, " Kurang ajar!" Pekiknya Riri berlari dengan lunglai memasuki kamar di mana Re tertidur dengan nyenyak nya,Seperti nya batita montok itu sedang bersekongkol dengan Papi nya,
" Astaga gadis ini!! " Arya meringis sambil mengelus tulang kering nya yang nyeri,
Namun sedetik kemudian Bibirnya menarik senyum lebar, Spontan tangan nya mengelus Bibir nya
" Hem! Lezat bikin nagih, " Arya melempar tubuh nya di Sofa, dengan posisi tengkurap, Masih merasai betapa lembutnya Bibir Riri yang dia ***** tadi, Perasaan nya membuncah bahagia,
Arya merasa bagaikan mendapat Jackpot yang luar biasa,
Dari gesture Riri saat dia cium tadi sudah bisa di tebak, Jika Riri belum pernah berciuman sama sekali,
" Ahh Riri! Benar-benar menggemaskan, Tapi Bar-bar nya itu loh! Sakit banget tendangannya," Arya bergumam dengan senyum masih terukir di bibir nya,
Drrtt! drrtt! Getar Phonsel di sakunya membuat Arya bangkit dari berbaring nya
" Siapa sih yang menelpon! Mengganggu saja," Arya merogoh sakunya sambil menggerutu, dan melihat siapa yang telah berani mengganggu nya,
.
.
.
bersambung....
Lanjut besok lagi ya bestie 🤗
jangan lupa like dan komen nya ya
__ADS_1
biar Othor makin semangat up nya 😂