
SELAMAT MEMBACA
Riri melajukan motor kesayangan nya dengan pelan dan santai. Menikmati angin yang menerpa wajah nya, Tangan kirinya sesekali mengelus tangan kecil yang melingkar erat memeluk perut nya
Hatinya masih nyerih kala mengingat tangisan pilu putra sulung nya itu, Ingin rasnya ia mengumpat dan memaki seseorang yang telah tega melukai hati putra nya itu,
"Bang..kita makan dulu ya..?," Tanya Riri seraya menoleh kebelakang, Saat mereka berhenti di lampu merah,
"Mau Mih. Makan mie ayam boleh.?,"
"Hayuk.! Kita makan mie ayam di tempat langganan Mami waktu masih sekolah dulu ya, Abang pasti suka mie nya enak banget, "
Re menjawab nya dengan anggukan kepala, Putra sulung Arya itu masih belum membaik suasana hati nya,
Tak berselang lama Riri kini telah memarkirkan si gemoy di depan warung mie Ayam ayam langganan nya sejak masa sekolah dulu,
Warung mie ayam itu selalu rame oleh anak sekolahan, Yang mengisi perut mereka sebelum pulang kerumah mereka,
"Yuk, " Ajak Riri setelah membantu melepaskan helm di kepala Re dan mencantolkan nya di spion motor,
Kemudian merangkul Re memasuki warung yang lumayan rame itu,
,Bang dua porsi ya, yang satu ceker nya kasih lima.yang satunya lagi dua aja, Minum nya es jeruk sama air mineral,"
"Siap Neng, mohon di tunggu,"
Setelah menyebutkan pesanan nya Riri mengajak Renuntuk mencari tempat duduk,
Riri memilih duduk di dekat jendela dan dekat dengan kipas angin agar putra nya itu tidak kepanasan,
.
.
" Nah ini foto Bunda, Bunda nya Abang, kakak kesayangan Mami, Bunda Nisa adalah orang yang sangat baik. Bunda Nisa yang telah mengandung dan melahirkan Abang keduania ini, "
Riri mengusap selembar foto yang berada di pangkuan nya, Menoleh sekilas wajah Re yang kini tengah menatap foto bundanya itu,
__ADS_1
Riri pun menjelaskan kepada Re seperti apa sosok Bundanya itu, Bagaimana kebaikan hati Nisa, Kegigihan nya dan murah hatinya kepada siapa saja yang di temuinya,
Riri juga menceritakan bagaimana Nisa bekerja keras untuk membahagiakan keluarga nya, Hingga mampu menaikan Haji kedua orang tuanya,
"Kakek dan Nenek meninggal di tanah suci, Saat keduanya menunikan ibadah haji, Saat itu Abang masih di perut Bunda, Dan saat mendengar kabar meninggalnya Kakek dan Nenek , Bunda Nisa baru saja melahirkan Abang keduania ini, Bunda Nisa sangat terpukul dengan kabar itu dan Akhirnya Bunda pergi menyusul Kake dan Nenek,"
Riri sudah menyusut air matanya yang jatuh tanpa bisa di cegah, Seakan baru kemarin dirinya menimang-nimang bayi merah satu-satunya keluarga nya yang masih bersama nya,
Dan kini bayi merah itu sudah besar, sudah tujuh tahun yang lalu luka nya itu, Dan kini harus ia korek lagi karena seseorang yang tidak bertanggung jawab, Seseorang yang telah melukai dan menjatuhkan hati Putra nya,
" Bunda Nisa itu hebat.kuat selalu gigih dalam berusaha, Pantang menyerah, Bunda Nisa jug tidak pernah sombong, Mami bangga memiliki kakak seperti Bunda Nisa yang hebat,"
Ucap Riri berkat dengan semangat, Berusaha menyembunyikan rasa sedih dan rindu kepada sosok kakak perempuan nya itu,
" Ini adalah video yang di rekam Bunda Nisa saat Abang masih berada di dalam kandungan, " Riri memegang sebuah flashdisk yang berisi file kenangan Nisa saat hamil Re dulu, Dan keseruan lain nya saat Ulang tahun pernikahan kedua orang tua mereka,
" kalau Mami tidak salah ingat, Di dalam rekaman ini juga memperlihatkan perut Bunda yang bergerak-gerak karena Abang yang sedang menendang-nendng di dalam perut Bunda saat itu, Abang mau lihat? Mami sambung kan ke TV?, "
Re mangganggukan kepalanya, Sebagai jawaban atas pertanyaan Mami nya,. Ada binar bahagia di sorot mata Re, Saat Riri mengatkan dirinya menendang-nendng dalam perut Bunda,. Hal itu sedikit membuat Riri merasa lega,
"Ok.. sekarang kita nyalkn dulu TV nya yah,"
Riri berdiri dan menuju Bufet TV yang berada di kamar Nisa itu, Ya Kedunya kini tengah berada di rumah lama Riri tepatnya di kamar mendiang Nisa,
Rumah itu sekarang kosong, Hanya di huni seorang Art yang Riri pekerjakan untuk merawat rumah peninggalan kedua orang tuanya itu,
Rina sudah tidak tinggal rumah itu lagi, Setelah menikah dengan Dimas, Dimas memboyong semua kelurga Rina untuk pindah di rumah yang telah ia siapkan untuk istri dan juga keluarganya,
Kamar Nisa masih sama seperti dulu, Tidak ada yang berubah ranjang Queen size warna merah di lengkapi dengan satu set Sprey dan Bad cover warna merah dengan motif bunga mawar,
Bahkan hampir seluruh pernak-pernik Nisa di kamar itu kesemuanya berwarna merah,
"Mih..? Kenapa semua barang-barang di kamar ini kok merah semua kek nya,?"
Rupanya Re tidak bisa menahan rasa penasaran nya, karena hampir semua yang ada di kamar itu berwarna merah,
Membuat gerakan Riri yang sedang mengotak atik remot di tangan nya kini menoleh ke pada Re, kemudian mengarahkan pandangan nya keseluruh ruangan,
__ADS_1
"Hem.. iya warna merah adalah warna kesukaan Bunda Nisa, Itu si gemoy dan si merah kan Bunda Nisa yang beli, " Ucap Riri dengan tersenyum kecil,
Re pun terdiam saat Riri mengatakan hal itu,
ternyata rasa sayang nya kepada dua kendaraan itu karena itu adalah milik Bundanya,
Pantas saja selama ini ia merasa seperti ada perasaan haru dan bahagia setiap kali menaiki dua kendaraan tersebut,
Dan juga tidak mengizinkan siapapun bahkan Papinya sekalipun untuk menyetir Mobil kesayangan nya itu, Kalau si gemoy memang ia izinkan Papi nya mengendarai nya,
..................
.
"Hahahaha...! Aku puas sekali Jack bisa membuat Anak sulung Arya brwngsek itu syok, Dan sekarang pasti keluarg mereka sedang panik menenagkan Bocah sok dingin itu."
Jack hanya diam menyimak semua perkataan majikan nya itu, tanpa berani menyela atau menimpli nya dengan tawa,
"Jack.. Bayangkan bagaimana panik nya si brengsek itu, Saat mengetahui jika anak kesayangan nya telah mengetahui rahasia busuk nya, Hahahah,"
Daniel kembali tertawa dengan luapan bahagia, Namun suara nya terdegar sangat ironis. Sebab rasa iri ketika melihat orang yang telah menghancurkan hidup nya, hidup bahagia di kelilingi anak-anak banyak,
Jak masih tetap diam tanpa expresi, Masih setia mendengarkan setiap untaian kata yang keluar dari mulut majikan nya itu,
Terkadang ia juga merasa kasihan dengan nya,
Baru saja menemukan wanita yang di cintai nya, Namun harus kembali kehilangan nya untuk selamanya, Karena penyakit yang di alami wanita itu,
"Jack.. siapkan rencana selanjut nya, Jangan kasih kendur, Ini adalah waktu yang tepat untuk kembali mengguncang ketegangan keluarga Wiguna itu."
"Baik Tuan.."
.Bersambung
Jangan lupa like komen nya ya sayang-sayangku,
Terima kasih 🙏
__ADS_1