
"Mami... Mami lagi buat apa..?, "
Echa langsung menubruk tubuh Mami nya yang berdiri di depan kompor, Tengah membuat fla untuk pelengkap puding yang di buat tadi,
"Ya pun sayang jangan lari-lari, Nanti kalau jatoh gimana?, Mami nggak bisa tangkap, " Omel Riri yang sedikit terkejut dengan kelakuan Putri bungsu nya itu,
"Heheh.maaf Mih, Em.. itu lagi buat apa?, " Tanya nya ulang,
"Mami lagu buat fla, Untuk pelengkap puding kesukaan Echa, Tadi mami buat kan tuh lagi di dingin kan di dalam kulkas, " Jelas Riri sembari mematikan api kompor nya dan berbalik badan menghadap sang putri yang masih memeluk nya,
"Bagaimana hari ini? Nggak ada masalah kan?, " Riri bertanya seraya menaikan satu alis nya,
Dari raut wajah yang di suguhkan Echa, Ia sudah bisa menebak jika ada sesuatu terjadi di sekolah,
"Em.... tapi Mami jangan marah ya," Ucap gadis kecil itu, mendongak menatap mata tajam sang Mami, dengan mata penuh permohonan sehingga membuat nya terlihat sangat lucu,
"He.. ini pasti ada udang di balik bakwan nih, Kalau sudah mode begini, " Riri mencubit gemes sebelah pipi bulat putri nya itu,
"Iya Mami nggak akan marah.yuk duduk di sana kemudian ceritakan sama Mami, " Riri menggiring putrinya menuju sebuah kursi dan mendudukan nya di sana,
Setelah itu ia meraih gelas dan menangkan air putih dan menyodorkan nya kepada putrinya,
"Minum air putih dulu. baru cerita sama Mami, "
"Makasih Mih, " Echa menerima gelas yang berisi air putih yang di sodorkan Mami nya itu, kemudian meminum nyan perlahan hingga air di gelas itu tandas,
Riri menerima ukuran gelas kosong itu kemudian menjauh nya di atas meja, Setelah itu ia kembali menghadap sang Putri yang akan memulai ceritanya,
"Nah sekarang ceritakan apa yang Echa lakukan selama di sekolah hari ini?, "
Ucap Riri sembari mengusap sedikit keringat di kening putrinya itu,
"Mami janji ya nggak marah kalau Echa ceritain?, " Echa kembali memandang Mami nya sembari menyodorkam jari kelingking nya,
__ADS_1
Gadis kecil itu sedikit khawatir jika sang Mami akan memarahinya setelah ia menceritakan ulah nya hari ini,
Baginya kemarahan sang Mami itu sangat menakut kan melebihi apapun yang ia takuti di dunia ini,
Riri mandang netral coklat Anak gadis nya itu, Sebelum menautkan jari kelingking nya,
Ia yakin jika kali ini putrinya itu tidak terlibat perkelahian dengan murid lain, Sebab tidak ada laporan dari wali kelas nya,
Entah apa yang di perbuat nya lagi sehingga begitu khawatir nya jika ia marah,
"Oke... Mami nggak akan marah, Sekarang ceritakan dengan detail apa yang Echa lakukan di sekalah hari ini hem., "
Kemudian Echa menceritakan tentang kejadian yang di perbuat nya hari ini di sekolah tanpa terlewat sedikit pun,
"Kakak nya baik banget Mih, Echa di kasih ini, " Nuna mengangkat tangan nya memperlihatkan sebuah gelang manik yang sangat cantik,
"Ini yang ngasih Kak Nuna, Katanya ia beli di luar negri dia ngasih untuk kenang-kengan jika nanti dia sudah lulus sekolah dan nggak bisa ketemu Echa lagi," Jelas Echa. masih dengan mengusap-usap gelang yang ada di pergelangan tangan nya,
"Oya.. baik banget kakak nya itu, Coba sini Mami lihat, Sepertinya ini gelang Mahal, " Tukas Riri sembari memperhatikan gelang yang di kenakan putrinya itu,
"Nuna,"
Ucap Riri membaca tulisan yang ada di manik gelang itu,
"Wah ada nama nya kak Nuna..?!, " Pekik Echa senang,
"Mami.. Echa nggak ngasih apa-apa ke kak Nuna, Emm menurut Mami Echa bagus nya ngasih apa ya, Untuk kenang-kenagan nya?, "
Tanya Echa kepada sang Mami dengan mata di kedip-kedipkan dengan lucu,
"Hem.. bilang aja kalau Echa mau ngasih juga," Riri kembali mencubit pipi bulat putrinya itu, Yang di sambut tawa renyah sang putri,
"Ya sudah nanti Mami carikan yang cocok untuk Bestie nya Echa itu, Sekarang Echa ganti baju dulu gih, Setelah itu makan puding nya, "
__ADS_1
Riri mengelus rambut panjang putrinya yang sudah berantakan kemana-mana itu, Setiap hari selalu saja begitu,
Berangkat sekolah Rambut nya terkuncir dengan rapih. Tapi ketika pulang sekolah rambut yang rapih itu sudah nggak karuan bentuk nya, Seperti habis di terpa angin badai saja,
"Ok Mami makasih.. muahh, " Echa memcium pipi Riri sebelum berlari menuju kamar nya, Untuk berganti pakaian,
"Hati-hati sayang... jangan lari, Jalan aja. sampai juga kok!, " Riri menyenangkan kepalanya melihat kelakuan putri bungsu nya itu,
Ia jadi ingat dirinya dulu sewaktu masih SD, Bagaimanan pusing nya sang Ayah ketika melihatnya memanjat pohon mangga hampir setiap hari,
Dirinya bahkan pernah terjatuh dari sepeda dan hampir saja masuk ke dalam got jika saja saat itu sang Ayah tidak sigap menangkap nya,
"Hah... ya ampun apa aku sedang melihat diriku sewaktu kecil?, Maaf kan Riri ya Ayah Ibu, Kalian adalah orang tua terbaik yang Riri miliki, " Gumam Riri sembari menghapus setitik air mata yang tak sengaja terjatuh di sudut matanya, Kala mengingat Almarhum kedua orang tua nya,
............................. ...
"Mba Dian.. apa Daddy nggak ada nelfon?, " Tanya Nuna kepada pengasuh nya itu,
"Nggak ada Non, Mungkin Daddy nya lagi sibuk, " Jawab Dian merasa sangat kasihan melihat raut sedih yang selalu tergambar setiap kali Nuna menanyakan tentang Daddy nya,
"Hem.Daddy memang selalu sibuk sekarang, Mungkin juga sekarang Daddy sudah lupa dengan keberadaan Nuna, "
Gadis yang sebentar lagi akan genap berusia 12 tahun itu, Berkata dengan tatapan kosong memandang Rerumputan yang hijau, menghiasi lapangan bola yang berada tidak jauh dari tempat tinggal nya,
lapangan bola yang tidak terlalu luas itu sering sekali di gunakan warga setempat untuk melakukan kegiatan seperti bermain voli sepak bola ataupun juga berlatih karate,
Nuna sangat suka mengunjungi tempat itu, Hanya untuk menonton orang-orang yang sedang bermain Bola atau Voli,
Hanya itu yang bisa mengalihkan rasa kesepian dan kerinduan yang ada di hatinya, Rindu nya kepada sang Mommy dan juga Daddy nya,
Bersambung..
Segitu dulu ya, Ohtor lagi mode baper nih, kalau nulis tentang Nuna, 🥲
__ADS_1
Nanti kita lanjut lagi kalau Othor udah nggak baper lagi🤣🤣
jangan lupa like dan komen nya ya, kalo mo ngasih bunganya dan kopi juga boleh banget 🤣🙏