PERNIKAHAN MEMBAWA LARA

PERNIKAHAN MEMBAWA LARA
Bab 166


__ADS_3

Setelah sarapan dan bersiap, Nuna dan Dian pun segera berangkat menuju tempat di mana akan di adakan nya acara Wisuda sekaligus perpisahan sekolah nya itu,


Dian melajukan motor matic nya dengan kecepatan sedang, Dengan Nuna duduk di boncengan sembari memeluk pinggang Dian dengan erat,


Menempelkan sebelah pipi nya di punggung Dian, Bagi Nuna Dian bagaikan Ibu kedua baginya, Dian selalu menyayangin dengan tulus, Hanya Dian lah yang masih sudi dan berbesar hati merawat nya, Dari ia baru di lahirkan oleh sang Mommy, Hingga saat ini, Dian masih sam seprti Dian yang dulu,


Sangat berat rasnaya jika harus berpisah dengan nya, Apalagi Nuna tidak memiliki kerabat satupun di ibu kota, Satu satunya yang ia miliki saat ini hanya Dian, Sedang Daddy nya kini sangat sulit di hubungi,


Tak berselang lama kini motor Dian telah terparkir di parkiran khusus pengunjung yang memiliki kendaraan roda dua, Kemudian Dian melepaskan helm nya dan mencantolkan nya di spion motor nya,


"Yuk kita masuk, Sepertinya semua temen-temen mu sudah pada datang, " Pungkas Dian sembari mengedarkan pandangan nya di area parkiran hotel tersebut,


"Iya. kita yang paling akhir kek nya Mba, "


Sahut Nuna. Matanya menyoroti semua kendaraan yang berjejer di hadapan nya, kesemuanya adalah mobil-mobil mewah dan juga berkelas, Kemudian ia menoleh pada motor matic Dian.


Sangat kontras sekali dengan kendaraan murid-murid lain, Nuna mengelus kepala motor matic tersebut dengan sayang, Motor sederhana yang telah banyak berjasa untuk nya, Setiap hari di gunakan Dian untuk membonceng nya berangkat dan pulang sekolah,


"Hem.motor kita yang paling jelek ya Non? " Ucap Dian yang sejak tadi memperhatikan tingkah Nuna,


"Hehehe. bagi Nuna tetap dia yang terbaik, Yang sudah berjasa membawa kita kemana saja yang kita mau, " Jawab Nuna dengan tertawa kecil,


Dian pun terkekeh kecil saat mendengar penuturan Anak majikan nya nya itu,


"Yuk masuk. Entar kita telat, Em.. bagaimana dandanan Mba. nggak berantakan kan?, " Tanya Dian sambil merapikan kebaya nya dan juga tatanan Rambut nya,


"Udah rapih Mba. pokonya Mba udah cantik. yuk kita masuk, " Ajak nya kepada Dian yang masih berkaca di spion motor nya,


Mereka pun berjalan beriringan memasuki loby Hotel, Dengan Nuna yang menggandeng lengan Dian,


................................


"Sayang. kenapa wajah nya di Tekuk begini?, Entar cantik nya hilang loh, " Arya mencolek colek pipi tembem putrinya yang sedari semalam sudah tak bagus mood nya itu,


Sedang Echa hanya diam tanpa berniat menjawab pertanyaan sang Papi, Gadis kecil itu masih setia memasang wajah tak enak nya,


.

__ADS_1


"Adek ngambek Pih. nggak di izinin sama Mami untuk pergi menghadiri perpisahan kakak kelas kita, " Eza menjawab pertanyaan Papi nya, Mewakili sang Adik yang sedang dalam mode ngambek ,


"Oh.. hari ini acara perpisahan kakak kelas kalian ya?, " Tanya Arya kepada putra kedua nya itu,


" Iya Pih. Adek pengen ikut, " Sahut Eza singkat sembari meminum susu dalam gelas nya hingga tandas,


"Hem.jadi princess nya Papi ini mau ikut juga begitu?, "


" Iya Pih. tapi nggak di bolehin Mami, Hu hu hu.., " Cicit Echa lirih, Gadis kecil itu kini berbalik badan dengan memeluk tubuh Papi nya dan menumpahkan air matanya, Ingin mencari peruntungan kepada pahlawan nya itu, Biasa hal itu selalu berhasil meluluhkan pertahanan sangat Papi,


" Em.. memang nya Princess mau ngapain kesana?. Kan semua yang hadir itu kakak kelas semua kan?, Apa adik kelas juga hadir?, "


"Nggak... Echa hanya ingin bertemu Kak Nuna di sana, mungkin Echa nggak akan bertemu lagi dengan nya setelah lulus, " Cicit Echa dengan suara yang sangat lirih,


Riri yang baru saja kembali dari dapur dengan nampan di tangan nya itu pun hanya menghela nafas berat, Ketika mendengar perkataan putri nya yang masih setia berada dalam pelukan suami nya itu,


" Sayang.. Kenapa nggak di turuti saja?, " Tanya Arya kepada Riri yang baru saja duduk di samping nya,


Riri kembali menghembuskan nafas nya dengan kasar, Saat mendengar perkataan Suaminya itu, Yang selalu saja memanjakan anak anak nya berlebihan,


" Disana itu banyak orang Pih, Bagaimna kita mau mencari satu orang di antara ratusan murid?, Lagipula yang punya nama Nuna itu banyak, Adek di Tanya juga nggak inget nama lengkap nya siapa, "


"Echa nggak boleh ngambek begitu, Hanya karna tidak di turuti sekali kemauan nya, Disana itu rame sekali kita mau cari di mana teman Echa itu,


Tukas Riri dengan sedikit kesal, Membuat Nuna yang tadi nya masih menangis dalam dekapan Papi nya itu seketika diam, Saat mendengar suara Mami nya yang sedikit tinggi, Nyali nya langsung menciut jika sang Mami sudah meninggikan suaranya,


Andra dan Eza pun hanya saling pandang, Saat mendengar nada suara Mami nya sedikit tinggi, Keduanya kompak menoleh kepada sang adik yang semakin menciut di pelukan Papi mereka,


" Sayang jangan begitu sama anak kita dia masih kecil.., "


"Justru karna dia masih kecil harus di paham kan sejak dini, Jika tidak semua kemauan itu bisa di wujud kan, Harus belajar sabar nggak boleh suka ngambek kek gitu, "


Arya yang mendengar ucapan istri nya itupun hanya mengatup kan mulut nya, Tidak membantah karena memang Benar apa yang di katanya istrinya,


Di tenga keheningan di meja makan tersebut, Re dan Nyonya Ranti masuk dan bergabung untuk sarapan pagi, Ya pagi-pagi sekali Re menemani Oma nya berjalan-jalan di sekitar halaman Rumah mereka, Menghirup udara segar di pagi hari memang sangat bagus untuk kesehatan, Terutama sang Oma yang sudah sepuh,


"Abang.., "

__ADS_1


Suara Echa sangat kecil saat memanggil sang Abang untuk meminta perlindungan,


Dan tanpa bertanya pun Re sudah tahu jika adik kesayangan nya itu baru saja di nasehati oleh Mami nya, Re segera mendekati sang adik yang tidak berani menggerakan tubuh nya karna takut dengan Mami nya,


Begitu Re mendekat Echa langsung mengulurkan kedua tangan nya, Dan di sambut dengan Re yang memeluk sang adik,


"Kenapa lagi nak?, Apa lagi yang di inginkan nya?, " Tanya Nyonya Ranti yang baru saja duduk di kursinya, Dengan sigap Riri melayani Mama mertuanya itu, Mengambil kan nya sarapan dan juga menyodorkan segelas susu kalsium khusus untuk usia lanjut,


" Biasa Mah. masih yang semalam itu, Belum sembuh-sembuh juga ngambek nya, " Jawab Riri dengan suara khas nya,


Nyonya Ranti pun hanya menghela nafas nya dengan pelan, Kemudian meraih gelas yang berisi susu yang telah disiapkan oleh menantu kesayangan nya itu dan meminum nya dengan perlahan, Agar tidak tersedal, Maklum namanya juga sudah tua, minum pun harus pelan-pelan seperti anak balita,


"Sudah jangan ngambek lagi ya. Kenapa nggak ikut Mami aja ke Ruko, Sekalian Echa belajar bikin kue dan donat. Abang pengen makan donat buatan Echa nih, " Tukas Re mencoba menawarkan hal yang menarik untuk adik nya coba,


"Wahh benar juga. kenapa Echa nggak perna kepikiran soal itu ya bang, Em...Abang beneran mau mencoba donat buatan Echa?,"


Tanya Echa dengan melanggar kan pelukan nya, Dan mendongak memandang wajah tampan sang Abang, Abang yang begitu menyayangi nya,


"Hu'um.Abang pengen cobain, Pasti akan sangat enak donat buatan Echa, " Jawan Re dengan mengelus puncak kepala adik nya, Yang kini telah memancarkan senyum indah nya,


"Tapi... apa boleh sama Mami. Mami nggak marah lagi sama Echa. "


" Nggak. Mami nggak akan marah kalau Adik Abang yang cantik ini nggak ngambek lagi hum, "


"Iya... Echa nggak ngambek lagi bang,"


Riri hanya memperhatikan dari tempat duduk nya bagaimna Re bersikap kepada Adik nya, Abang yang selalu menyayangi adik-adik nya, Selalu bisa menjadi tempat berlindung untuk ketiga adik nya,


Riri sangat bangga dengan sifat dan kepribadian putra pertamanya itu, Yang selalu bisa ia andalkan.


Bersambung.......


jangan lupa like nya ya bestie.


Dan mohon maafkan Othor yang mager ini🥺


sehingga membuat kalian menunggu lama🙏

__ADS_1


Satu bab lagi akan End ya, mungkin lanti akan lanjut dengan kisah Re dewasa jika Othor nggak kumat mager nya🥺


__ADS_2