Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#100 Kenangan Yura


__ADS_3

"Siapa sih yang buat semangka ada bijinya, rumit sekali!"


"Hei musim dingin ..."


"Orang juga kalau makan salak tidak dengan kulitnya!"


Kenangan itu lagi-lagi terngiang-ngiang di kepala Winter. Suara Yura yang selalu ia dengar setiap harinya kini sudah satu bulan lamanya Winter tidak mendengarnya lagi, bahkan mungkin selamanya Winter tidak akan mendengar suara gadis itu.


Setelah kembali dari Italy, Winter pergi ke Rumah Sakit tempat dimana Yura di rawat. Ia masuk ke kamar tempat dimana Yura melakukan kemoterapi.


Winter duduk di ranjang dengan menyimpan guci di depannya. Hari itu ia menemani Yura kemoterapi kedua, tangan Winter ikut di infus untuk menemani istrinya.


Mereka bercanda sambil membuat burung bangau dari kertas origami.


Tuk tuk tuk.


Winter ingat hari dimana Yura mengatuk-ngatukan burung bangau ke hidungnya sambil tertawa. Hal indah yang tidak bisa di ulang lagi.


"Tidak mau buat burung bangau lagi, Yura?" tanya Winter dengan tatapan kosong mengelus guci di depannya.


Air mata lagi-lagi keluar dari ujung matanya. Keluarga De Willson membiarkan Winter sendirian untuk sementara waktu karena kalau di temani pun Winter menolak dan menyuruh mereka pergi. Ia ingin berdua bersama abu istrinya.


Sesak, itu yang Winter rasakan. Ia tidak bisa bernafas dengan leluasa sekarang karena sebagian nyawanya ada pada istrinya.


Sepanjang hari pria itu membuat ratusan burung bangau di kamar tersebut. Membuat kamar tersebut lagi-lagi seperti lautan burung bangau berwarna warni.


Entah kapan Winter berhenti, tidak ada rasa pegal di tangannya. Ia terus membuat burung bangau lalu melemparnya ke lantai dan mengambil kertas yang baru dengan air mata yang terus mengalir.


*


Satu minggu, dua minggu sampai satu bulan Winter masih saja ada di Rumah Sakit melati.

__ADS_1


Sudah dua bulan lamanya semenjak kepergian Yura, pria itu semakin berantakan. Lebih kurus dari dulu, tulang di tubuhnya saja hampir kelihatan karena Winter tidak makan dengan baik selain suntik vitamin beberapa kali.


Psikolog bergantian mencoba mengatasi mental pria itu tapi tidak sedikit yang menyerah karena Winter tidak mau berbicara sedikitpun.


Ia terus membuat burung bangau semenjak kepergian Yura. Nanti perawat yang akan membersihkan kamar tersebut dari lautan burung bangau, jika kertas origami di kamar itu habis Winter akan menelpon Lusi dan meminta perempuan itu membeli kertas origami yang baru.


Sikap Winter yang masih belum ikhlas juga mempengaruhi mental Milan sang Ibu. Melihat putranya semakin tidak terurus dan tidak mau makan, mental Milan pun ikut terguncang. Setiap hari ia menangis dan setiap hari juga Maxime berusaha menenangkan istrinya.


"Tolong ... paksa dia, aku tidak mau kehilangan Winter ... hiks." Milan menangis di pelukan suaminya.


"Sayang, akh sudah berusaha memaksanya dia tetap tidak mau makan."


"Karena dia berpikir dengan itu dia bisa menyusul Yura," sahut Milan. "Aku tidak mau kehilangan putraku ... hiks."


Maxime menghela nafas dengan memejamkan mata seraya mengelus puncak kepala istrinya. Entah siapa yang bisa membujuk Winter makan, Noah dan Kai pun tidak bisa.


*


Sore harinya Maxime masuk ke kamar, ia melihat Winter memalukan hal yang sama setiap hari. Membuat burung bangau yang memenuhi kamar.


Winter terdiam lalu mendongak perlahan dengan mata sayu nya.


"Kau boleh membuat burung bangau lagi setelah makan."


Winter menggeleng pelan, ia hendak mengambil kertas origami di kotak tapi Maxime menjauhkan kotak itu.


"Mommy mu menangis setiap hari memikiranmu, dia juga tidak mau makan. Makan demi Mommy mu, Winter ..."


Winter tidak menjawab, ia malah mengambil guci istrinya dan memeluknya sambil mengelus guci itu.


"Winter ..." panggil Maxime.

__ADS_1


Hening Winter tidak menjawab apapun.


"Winter-"


"Keluarlah Dad!"


"Winter pikirkan Mommy mu, dia sangat terpukul melihatmu seperti ini ..."


Suasana kembali hening, Maxime memercak pinggang sambil menghela nafas kasar.


"Winter, dengarkan Dad sebentar. Daddy mohon!"


"Tinggalkan aku sendiri!!"


"Winter Mommy mu--"


Winter menatap tajam Ayahnya membuat Maxime berhenti berbicara seketika.


"Dad tidak akan mengerti perasaanku, Dad tidak akan mengerti bagaimana hancurnya aku kehilangan Yura ... apa Dad ingat dari kecil apa permintaanku kepadamu Dad?"


"Dad tidak ingat kan ..."


"KARENA DARI KECIL AKU TIDAK PERNAH MEMINTA APAPUN KEPADAMU, DAD ... AKU HANYA MENDAPATKAN APA YANG SUMMER TOLAK KAU JUGA TAHU ITU ..." Nafas Winter menggebu-gebu dengan dada naik turun.


"Sekarang ..." Winter mencoba mengatur nafasnya, walaupun sulit ia bahkan berbicara dengan gemetar dan menangis.


"Sekarang ... aku ingin meminta sesuatu kepadamu Dad. U-untuk pertama kalinya aku minta sesuatu kepadamu ... tolong, t-tolong kembalikan Yura kepadaku ... tolong suruh dia pulang, aku rumah tempat dia kembali, aku rumah tempat dia pulang. Kenapa dia memilih Tuhan sebagai kepulangannya, Dad ... kenapa ... hiks."


Maxime langsung memeluk putranya, mencium puncak kepala putra pertamanya itu dengan dirinya yang juga ikut menangis.


"Suami adalah tempat pulang untuk istrinya, begitupula istri yang menjadi tempat pulang suami. Tapi semuanya akan kembali kepada Tuhan, Winter ... kalau kau tidak mau makan, itu sama saja kau bunuh diri. Sekalipun kau mati, kau tidak akan bertemu dengan Yura ..." Maxime memeluk erat tubuh Winter yang menangis tersedu-sedu. Ruangan itu penuh dengan tangisan Winter.

__ADS_1


"YURAAAAAA ..." teriak Winter meraung-raung sampai suaranya serak.


Bersambung


__ADS_2