Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#138 Winter & Magma


__ADS_3

Jam enam pagi Magma sudah menekan bel mansion Winter. Winter menuruni anak tangga lalu membuka pintu, Yura masih tidur lelap di kamarnya.


Magma menghela nafas kasar ketika melihat wajah Winter di depannya.


"Aku sudah bilang kepada Yura, yang pantas di repotkan oleh si anak curut itu kau, bukan aku!!"


"Siapa yang kau maksud anak curut?" tanya Winter.


"Anakmu," jawab Magma seraya melengos masuk ke dalam mansion.


Pria itu langsung pergi ke dapur untuk membuat salad yang di inginkan Yura. Winter menghampiri Magma yang tengah melihat bahan-bahan di kulkas.


"Mana bahan-bahannya?" Magma berbalik bertanya kepada Winter.


"Itu tidak cukup?" Winter balik bertanya. Karena kulkas nya juga penuh dengan sayuran.


"Ada yang kurang," sahut Magma. "Kau pergi lah belanja. Aku tunggu di sini ..."


Magma berjalan menuju sofa.


"Aku tidak tau apa yang harus di beli," sahut Winter.


"Aku akan menelponmu setelah kau sampai di mall." Magma duduk sambil menyenderkan punggungnya di sofa.


Winter pun ikut duduk di sofa yang lain.


"Lebih baik kita berdua pergi saja," ajak Winter.


"Tidak, aku tidak mau!! haram satu mobil dengan keluarga De Willson!!"


"Adikmu sedang ngidam."

__ADS_1


"Kau yang harus menurutinya bukan aku!!"


"Dia ingin merepotkan kakaknya juga," sahut Winter membuat Magma menghela nafas.


"Yasudahlah!!"


Akhirnya Magma pun beranjak keluar menuju mobilnya. Sekeras-kerasnya Magma pasti kalah dengan adiknya.


Winter ke kamar sebentar untuk meminta izin kepada istrinya lalu kembali turun ke bawah.


"Bawa mobil sendiri!!" teriak Magma di jendela mobil.


Winter acuh, dia malah naik ke mobil Magma membuat Magma berdecak.


*


Sesampainya di mall, mereka belanja untuk kebutuhan membuat salad. Winter yang mendorong troli belanjaan dan Magma yang di depannya mengambil bahan-bahan masakan dan melemparnya ke troli.


"Diam bod*h, aku ingin cepat selesai. Lihat, orang-orang memperhatikan kita!! laki-laki kalau tidak belanja sendiri, ya dengan istrinya, kita malah belanja berdua, kau mau mereka berpikir kita gay!!" gerutu Magma sambil terus melempar beberapa sayuran ke troli.


Winter mengedarkan pandangannya, memang benar orang-orang tengah memperhatikan dirinya dan Magma.


*


Saat perjalanan menuju pulang, suasana di mobil hening. Sama seperti hendak berangkat tadi, mereka tidak terlalu dekat jadi tidak ada yang membuka obrolan terlebih dahulu.


Ponsel Magma bergetar, ia mengambil ponselnya di saku celana dan melihat nama di layar ponsel.


Laura.


Magma mendengus kasar lalu kembali mengantungi ponselnya, entah kenapa perempuan itu suka sekali menganggu dirinya.

__ADS_1


Hal itu membuat Magma bertanya kepada Winter.


"Kau dekat dengan Laura?" Tanya Magma tanpa menoleh ke arah Winter yang duduk di sampingnya. Mereka mengobrol sambil terus memperhatikan jalanan di depannya, menjijikan kalau mengobrol saling menatap muka satu sama lain. Itu yang ada di pikiran mereka.


"Tidak," sahut Winter.


"Tapi dia sepupumu kan."


"Iya," sahut Winter.


"Aku mau bernegosiasi denganmu, aku buatkan salad atau makanan yang lain ketika Yura sedang ngidam tapi kau harus membantuku agar Laura berhenti mengangguku. Bagaimana?"


"Alasan dia menganggumu?"


"Mana aku tau!!" pekik Magma.


"Dia menyukaimu ..."


"Aku tidak suka dengan perempuan manapun!! aku tidak perduli kalau dia menyukaiku, aku hanya ingin dia berhenti mengangguku!!" sahut Magma.


"Hal itu aku tidak bisa membantu ... datang saja kerumah Ayahnya, aku pikir Paman Arsen tidak akan merestui hubungan kalian karena dia tidak mau putrinya menikah dengan seorang mafia. Jadi hanya dia yang bisa membantumu ..."


Magma berdecak. "Haram untukku bertemu Ayahnya!!" ucap Magma yang sangat amat membenci Laura.


"Kalau begitu bicara saja dengan Nathan, dia yang paling dekat dengan Laura."


Bersambung


Cerita ini berhubungan sama kisah Magma ya. Judulnya M&L, sok di favoritin dulu atau di baca hehehe


__ADS_1


__ADS_2