Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#128 Kebersamaan mereka


__ADS_3

Yura menyuapi Reagan makan puding sambil menonton tv. Winter duduk di sofa yang lain memperhatikan, gadis itu sepertinya sudah siap menjadi seorang Ibu. Tapi belum ada tanda-tanda Yura hamil.


Reagan juga terlihat nyaman dengan Yura walaupun baru beberapa kali bertemu.


"Yula takut gak masuk kuci?" tanya nya sambil mengunyah puding coklat.


"Gak tuh, soalnya Yura tau, ada yang bisa mengeluarkan Yura dari guci ... eh tunggu, bukannya kau seharusnya memanggilku Mommy?" Yura mengerutkan dahinya menatap Reagan.


"Hehehe ... tapi aku suka nama Yula." Jawaban Reagan sama dengan Winter yang tidak mau memanggilnya sayang, Yura menghembuskan nafas mendengar itu. Apa yang membuat dua lelaki itu menyukai namanya.


"Benarkan? Daddy Benjamin sangat cocok memberimu nama Yura ..."


Yura hanya menggeleng pelan lalu kembali menyuapi Reagan puding.


"Dad, aku mau punya adik ah."


"Adikmu kan, Alea," sahut Yura.


"Iya. Adik lagi, dari Daddy Wintel."


Yura membulatkan mata dengan ucapan Reagan lalu melirik suaminya. Winter tersenyum.


"Adiknya ada di guci, harus di gosok-gosok dulu biar keluar."


"Yula nanti aku gosok-gosok lagi ya kucinya." Reagan menatap Yura dengan mata kecilnya.


"Hehe iya-iya ..."


*

__ADS_1


Selesai makan banyak hal yang mereka lakukan bersama. Reagan yang main kejar-kejaran bersama Yura dengan Winter yang hanya menonton di sofa dengan laptop di atas paha nya, lalu mereka memasak bersama. Mereka membuat dessert yang simpel untuk Reagan.


Sorenya Yura memandikan Reagan. Gadis itu menggosok tubuh Reagan dengan sabun sementara Winter hanya berdiri di ambang pintu memegang shower.


"Sudah, bersihkan Winter," titah Yura.


Shower di nyalakan, tapi bukan hanya tubuh Reagan yang di siram air shower, tapi Yura juga membuat Reagan tertawa.


"Hahahahah ..." Reagan tertawa melengking ketika melihat tubuh Yura basah.


"Winter stop!" teriak Yura sambil menghalangi wajahnya. Reagan masih tertawa.


"Kau ya ..." Winter mengarahkan air shower ke tubuh Reagan. Bukan minta berhenti, Reagan justru malah senang.


"Hahahaha lagi, Dad. Lagi ..."


"Astaga sudah ..." Yura menarik tubuh Reagan agar berdiri di belakang tubuhnya.


Yura membulatkan mata lalu senyuman di wajahnya perlahan merekah. "Cie manggil sayang ..."


"Hahahah cie ... cie ..." Reagan mengikuti cara bicara Yura.


Winter langsung menaruh shower dan keluar dari kamar mandi sambil menahan diri agar tidak tersenyum.


"Dia malu, Reagan." Kata Yura kepada anak itu.


"Kenapa Yula?" tanya Reagan.


"Tidak ah, kau tidak akan mengerti. Sini cepat ..."

__ADS_1


Yura mengambil shower dan menyiram tubuh Reagan sampai bersih.


*


Selesai mandi, Yura dan Reagan saling berpegangan tangan menuruni anak tangga, menghampiri Winter yang sedang membaca buku di sofa.


Yura duduk di samping Winter sementara Reagan duduk di samping Yura sambil memainkan robot-robotan. "Hai sayang ..." bisiknya menggoda Winter.


Winter menutup buku, menoleh mencubit hidung Yura dengan tersenyum. "Apa Yura?"


"Hai yang." Reagan mengikuti cara bicara Yura. Yura dan Winter sontak menoleh.


"Kau ya, mengikuti ucapan Yura terus. Sini ..." titah Winter.


Reagan pun tersenyum, turun dari sofa berjalan mendekati Winter. Winter langsung memangkunya dan mengangkat tubuh Reagan setinggi mungkin.


"Hei, awas jatuh!" Yura memukul paha Winter.


"Dia senang, Yura." Reagan malah tertawa renyah apalagi ketika Winter melempar tubuhnya ke atas lalu menangkapnya membuat jantung Yura seakan berhenti seketika melihat itu. Tapi anehnya Reagan malah meminta lagi.


"Lagi ... lagi ..."


"Huahahah ..."


Yura menahan nafas ketika Winter melempar tubuh Reagan, ia kemudian menghembuskan nafas lega ketika Winter berhasil menangkapnya.


"Hati-hati Winter, itu anak Summer ..."


"Anakku juga," sahut Winter dengan tersenyum sambil terus memainkan tubuh Reagan seperti pesawat yang terbang di udara.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2