
Yura hanya menatap bergantian Winter dan Summer yang sedang makan. Dirinya yang tadi makan bakso berubah menjadi salad atas perintah sang suami.
Sesekali Winter dan Summer saling mendelik membuat Yura menggelengkan kepala kemudian menyeruput jus miliknya.
Sampai akhirnya Julian datang dan duduk di samping Yura. Julian ikut memperhatikan pria dua musim tersebut lalu berbisik kepada Yura.
"Nona, kau pilih yang mana? Musim dingin atau musim panas. Atau ini ..." Julian menunjuk dirinya sendiri. "Musim geledek," lanjutnya dengan menahan tawa membuat Yura terkekeh.
Winte dan Summer sontak menatap Yura yang sedang tertawa. Yura pun menghentikan tawa nya lalu berdehem.
"Tuan dua musim, tidak baik bertengkar. Kemarin baru saja hari valentine," ucap Julian menasehati.
"Iya benar," sambung Yura. "Eh, aku dapat bunga dari Winter," lanjut Yura berbicara kepada Julian.
"Benarkah?" tanya Julian.
Yura mengangguk.
"Tuan Summer juga dapat bunga."
"Dari siapa?" tanya Yura penasaran.
"Dari aku," sahut Julian kemudian tertawa bersama Yura.
Summer berdecak kemudian kembali menyapa makanannya. Dia tidak mau mendengarkan Sekretaris sial*n nya itu.
*
Selama mereka berempat makan bersama. Julian dan Yura memberikan ide kepada Winter untuk membagikan beberapa bunga ke karyawan sebagai tanda kasih sayang atasan kepada bawahannya. Walaupun hari Valentine itu kemarin.
Di kantin itu tersisa Yura dan Julian yang sedang memesan beberapa bunga dan beberapa coklat. Sementara Winter kembali ke ruangannya dan Summer entah pergi kemana.
Intan sedang duduk di teras toko dengan membaca artikel di ponsel.
Keromantisan Winter L.DeWillson dengan Yura sang istri.
Itu judul dari artikel yang ia baca. Intan menghembuskan nafas.
"Beda sekali ya dia kalau dengan istrinya, di foto ini keliatan mudah tersenyum berbeda dengan aslinya," gumam Intan.
"Intan!"
__ADS_1
Intan menoleh ke belakang. "Apa, Yah?"
"Bantu Mama mu merangkai bunga di dalam," ucap Sang Ayah.
Intan berdecak. "Malas ah, biar Mama saja." Intan kembali menatap ponselnya.
"Astaga Intan ---"
Ting.
Notif masuk di ponsel Intan. Intan melebarkan mata dengan menahan nafasnya sejenak kemudian ia kembali mengambil nafas panjang menatap tak percaya notif di ponselnya.
"Kenapa Intan?" tanya Sang Ayah penasaran.
"Yah ..." Intan menoleh ke belakang. "Kita kaya Yah ..."
"Apa maksudmu?"
"Yah, Ayah ... kita kaya Yah ... Aaaaa ..." Intan menjerit histeris dan langsung memeluk Ayahnya.
"Kaya, Yah. Kita kaya, kita bisa beli mobil baru dan memperbaiki toko ... Aaaaaa ..."
"Kau ini kenapa Intan?"
"Dia juga minta coklat, Yah ... Di antar ke ..." Intan menyipitkan matanya menatap alamat seseorang yang memesan bunganya.
"Perusahaan De Willson ..." gumam Intan pelan kemudian menatap Ayahnya tak percaya.
"Yah ..." Intan menggantung kalimatnya.
"Perusahaan De Willson itu milik teman TK mu dulu kan," ucap Sang Ayah.
Intan pun mengangguk dengan masih wajah shock.
"I-itu benar Tuan Winter yang memesan, Intan?"
Intan mengangguk lagi. Kemudian sang Ayah langsung menjerit masuk ke dalam toko dengan memanggil istrinya.
"Sayang ... kita kaya!!"
*
__ADS_1
Siang harinya Intan mengantar sebagian bunganya yang sudah di rangkai indah. Ia datang dengan mobil pick up sendirian.
Dengan rambut di ikat satu dan topi di kepalanya ia keluar dari mobil menghampiri satpam di depan.
"Saya mau antar pesanan bunga," ucapnya.
"Yang pesan siapa ya Nona?" tanya satpam tersebut.
"Eumm ... saya tidak tau sih yang pesan siapa tapi alamatnya di perusahaan De Willson."
"Kalau begitu tunggu sebentar ya."
Satpam tersebut masuk ke dalam menghampiri resepsionis dan bertanya soal pesanan ratusan bunga kepada Intan.
Tak lama kemudian satpam tersebut kembali menghampiri Intan.
"Nyonya Yura yang pesan. Kalau begitu saya bantu masukin ke dalam ya bunga nya," ucap Satpam tersebut dengan ramah.
Kemudian mereka membawa beberapa buket bunga dari mobil ke perusahaan.
Ketika Intan dan satpam berdiri di depan lift khusus karyawan. Lift di sampingnya pun berbunyi.
"Tuan Summer," panggil Intan.
Summer menghentian langkahnya dan berbalik.
"Kau ..." Summer mengingat-ngingat wajah wanita di depannya.
"Kau penjual bunga itu kan?"
Intan mengangguk tersenyum.
"Ada apa?" tanya Summer.
"Saya mau antar pesanan bunga, Tuan ..."
Summer menatap buket bunga di tangan Intan dan satpam tersebut kemudian menganggukan kepala lalu pergi dari kantor.
"Ayo Nona ..." Ajak satpam ketika pintu lift khusus karyawan terbuka. Intan menatap kepergian Summer sejenak lalu masuk ke dalam lift.
***bersambung.
__ADS_1
_____________________________________________
Minal aidzin walfaidzin ya. Mohon maaf lahir dan batin. Maaf kalau author banyak salah di cerita ini. Mungkin ada typo di tulisan atau ceritanya kurang menarik. Mohon di maafkan 🙏🏻🙏🏻🙏🏻***