
Yura dan Lusi berjalan di koridor kantor mereka hendak pergi ke kantin di saat Winter sedang sibuk dengan kerjaannya.
"Maaf ya, aku pernah berpikiran jelek tentangmu, Lusi ..."
Lusi menoleh. "Tidak apa, Nona." Jawabnya dengan datar.
Yura pernah merasa cemburu dengan Lusi yang dekat dengan Winter. Padahal wajar saja, Lusi adalah sekretaris suaminya.
Mereka duduk di kantin dan memesan makanan. Seraya menunggu makanan datang mereka berbincang-bincang.
"Jadi anda sudah ingat kenapa anda bisa tinggal di sini, Nona?" tanya Lusi.
Yura mengangguk. "Ya, aku benar-benar tidak menyangka kalau alasanku saat kecil datang ke sini untuk mencari Summer. Tapi takdir terlalu mempermainkanku, aku malah berpisah dengan Ibu kandungku di sini dan berakhir di rawat oleh Daddy dan Mommy ..."
Mereka tidak tahu kalau ada Summer yang duduk di belakang meja Yura. Summer tersenyum getir mendengar itu kemudian beranjak dari duduknya.
*
Summer duduk di dermaga, membiarkan wajahnya di terpa angin pagi. Ucapan Yura terngiang-ngiang di kepalanya. Ya, benar kata Yura. Takdir mempermainkan nya.
Di sisi lain, Summer sudah berjanji kepada dirinya sendiri, kalau ia tidak akan merebut Yura lagi dari Winter.
Summer menghela nafas panjang kemudian seseorang duduk di samping Summer dan memberikan minuman kaleng.
Summer mengambilnya tanpa menoleh ke orang yang memberikan minuman itu.
__ADS_1
"Berhentilah mengikutiku!" pekik Summer sambil membuka minuman kaleng di tangannya. Summer hanya berpikir itu pasti Julian karena siapa lagi yang sering membuntuti dirinya selain Julian.
"M-maaf ... aku kesini hanya lewat saja."
Summer yang sedang minum sontak menoleh dan melebarkan mata ketika melihat Intan di sampingnya.
"Kau ..."
"Aku tidak berniat mengikutimu," sahut Intan pelan.
"Tidak, aku salah. Aku pikir kau Julian." Summer kembali meneguk minumannya.
"Sekretarismu itu?"
Summer mengangguk.
"Kau sedang apa di sini?" tanya Summer.
"Istirahat saja setelah mengantar bunga," sahut Intan.
"Kalau antar bunga ke rumah pelanggan suruh supirmu juga ikut turun. Bukan nunggu di mobil."
"Iya, tadi dia juga ikut turun. Sebelumnya memang dia menunggu di mobil saja."
Summer mengangguk.
__ADS_1
Suasana hening beberapa menit. Mereka sibuk dengan minumannya masing-masing seraya memandangi lautan di depannya.
Sampai akhirnya Intan mencairkan kembali suasana dengan membahas masa TK mereka. Ia ingin tahu, Summer ingat atau tidak.
"Kau ... Tk dimana?" tanya Yura.
"Melati," sahut Summer. "Kau?" Summer menoleh menatap Intan.
"Aku juga di sana," sahut Intan dengan tersenyum.
"Oh iya?" alis Summer terangkat naik.
Intan mengangguk.
"Oh, mungkin kita beda tahun."
"Sama," sahut Intan. "A-aku seumuran denganmu ..."
"Hah?" Summer mengernyit tak percaya pasalnya dari wajah Intan lebih mirip seumuran dengan Yura dari pada dirinya.
Intan mengangguk. "Kita satu tk, satu kelas."
Kemudian Intan berbicara pelan. "Kau ... yang lari dari kamar mandi tidak pakai celana kan." ucap Intan menahan kedutan di bibirnya agar tidak tertawa.
Summer menelan ludahnya susah payah karena malu. Sekarang ia percaya kalau Intan satu kelas dengan dirinya karena tidak ada yang tahu cerita itu selain keluarganya.
__ADS_1
"Aku ingat, Winter mengejarmu. Kau menyerut semua pensil milikmu lalu mau mengambil pensil milik Nala." Intan menceritakan dengan tersenyum sementara Summer masih melongo tak menyangka kalau perempuan di sampingnya teman Tk nya saat kecil.
Bersambung