
Mobil Winter melaju pergi dari halaman hotel. Summer masih duduk di taman dengan perasaan hampa setelah Yura pergi meninggalkannya.
"Kenapa kau disini bersama Yura, Summer ..."
Summer menoleh ke belakang dan mendapati sang Ayah Maxime berdiri dengan tatapan dingin.
"Dad ..." Summer berdiri menatap Ayahnya.
"Sudah berapa kali Dad bilang jangan ganggu Yura lagi!"
"Aku hanya mengobrol."
"Di tempat sepi seperti ini? kenapa tidak di dalam saja."
"Dad--"
"Dad tidak suka ya Summer, kalau kau terus menganggu pernikahan kakakmu!" peringat Maxime.
Ketika Maxime pergi kini giliran Milan yang datang.
"Summer, belum pulang."
"Baru mau pulang, Mom."
"Kau tadi di sini bersama Yura?"
Summer mengangguk.
"Oh ..." Summer bisa melihat nada tidak suka yang keluar dari mulut Ibunya.
"Yasudah, pulang ya. Hati-hati di jalan."
"Iya Mom ..."
Milan pergi menyusul Maxime sementara Summer kembali duduk di kursi. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, Summer merasa terasingkan oleh keluarganya sendiri karena masalah dirinya dan Yura. Keluarganya terlihat lebih cuek kepadanya sekarang.
"Ini Bos ..."
Summer menoleh dan mendapati Julian menyodorkan minuman kaleng kepadanya. Summer mengambilnya, membuka minuman tersebut dan meneguknya dengan kasar.
Kemudian Summer tertawa. Tertawa miris untuk hidupnya sendiri membuat Julian menoleh bingung.
"Bos, kau kenapa?"
Summer menggelengkan kepala dengan menghela nafas lalu melempar minuman kaleng di tangannya dengan kasar.
__ADS_1
"Semua orang berpikir aku manusia yang paling hina karena mendekati kakak iparku sendiri, tapi tidak satupun orang yang bisa mengerti bagaimana rasanya mencari dan menunggu selama bertahun-tahun ..." lirihnya membuat Julian menatap tak tega bos nya.
"Bos, aku mengerti perasaanmu ..." Julian menepuk-nepuk pelan bahu Summer. Summer yang terlihat kacau malam ini.
*
Summer merasakan kesedihan malam ini, tapi berbeda dengan Winter yang justru sedang merasakan bahagia bersama Yura di dalam kamar.
Pria itu menc*um lembut bibir istrinya dengan mengelus kepala Yura. Winter mendorong tubuh Yura ke dinding dan membuka perlahan gaun yang di kenakan gadis itu.
Pria itu menggendong istrinya yang hanya memakai pakaian dalam ke ranjang. Menidurkannya dengan lembut dan pria itu pun membuka kancing bajunya satu persatu lalu kembali menc*um istrinya dengan berada di atas tubuh Yura.
Yura mengg*liat saat tangan Winter bergeria di tubuhnya, mengelus setiap inci tubuh gadis itu.
Winter melepas cium*n nya. "Kau tidak kelelahan Yura?" tanya nya. Winter takut Yura kelelahan karena pesta tadi dan sekarang harus lanjut olahraga malam bersamanya.
Yura menggeleng pelan dan Winter kembali menc*umi gadis itu. Menghujani wajahnya dengan kecupan lalu turun ke leher, kemudian membuka pakaian dalam Yura.
Ia menciumi setiap inci tubuh gadis itu membuat Yura menggeliat seraya memejamkan mata.
Sampai akhirnya kedua tubuh mereka menyatu. Winter melakukan nya dengan sangat pelan.
*
Yura tertidur di pelukan suaminya dengan tanpa memakai baju dengan Winter yang terus mengelus punggung gadis itu.
Winter merunduk. "Hm?"
"Apa aku tidak akan hamil?" tanya nya. Yura tahu Winter selalu memakai pengaman ketika melakukan hubungan.
"Di masa depan kita akan punya anak, Yura ..."
Yura mengangguk.
"Tidurlah, sudah malam ..."
Winter mengeratkan pelukannya.
"Winter ..." panggil Yura kembali.
"Hm?"
"Kau punya teman kecil tidak?"
"Tidak tau."
__ADS_1
"Kenapa tidak tau?"
"Tidak ingat."
"Kenapa tidak ingat?" tanya Yura kembali membuat Winter menghela nafas.
"Tidak penting, Yura ..."
"Huh, sepertinya kau banyak tidak ingat tentang masa kecilmu."
"Yura, kalau masih bersuara aku akan membekap mulutmu!"
"Berani memang?" goda Yura.
Dan Winter pun langsung menc*um gadis itu. Ia membekap mulut Yura dengan mulutnya sendiri.
*
Winter sedang memakai dasi di depan cermin. Sementara Yura baru saja membuka matanya.
"Mau kemana?" tanya Yura dengan suara baru bangun tidurnya.
"Ke kantor," sahut Winter membalikan badan dan berjalan menghampiri istrinya.
"Lemas?" tanya Winter seraya duduk di sisi ranjang.
Yura menggeleng. "Tidak."
"Mau mandi?"
"Bentar lagi saja."
"Aku harus pergi ke kantor sekarang, Yura. Aku akan memandikanmu dulu ..."
"Tidak perlu, aku kan bilang tidak lemas. Aku bisa mandi sendiri ..." ucap Yura memeluk selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
Winter menarik ujung bibirnya tersenyum lalu mencubit gemas hidung istrinya.
"Pergi ke kamar mandi sekarang, aku akan menunggumu ..."
Yura mengangguk. "Kalau begitu, kau keluar dulu. Aku tidak pakai baju."
Pria itu bukan keluar tapi menggendong tubuh Yura lengkap dengan selimutnya dan membawanya ke kamar mandi lalu menidurkan gadis itu di bath up.
"Panggil aku kalau sudah ..."
__ADS_1
Winter tidak berani meninggalkan Yura lama di kamar mandi karena takut gadis itu tiba-tiba pingsan atau terjatuh akibat licin nya sabun di kamar mandi.
Bersambung