Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#108 Jalan-jalan ke mall


__ADS_3

"Ini mau?" tanya Winter menunjukan baju yang ia pilih. Winter dan Reagan berada di mall sedang membeli baju baru.


"Gak ah."


Reagan berlari menunjukan baju pilihannya. "Ini Dad."


Winter berjalan menghampiri putranya setelah menyimpan kembali baju pilihannya yang di tolak Reagan.


"Boleh," ucap Winter. "Mana lagi?"


Reagan mengedarkan pandangannya lalu berlari mencari baju yang lain.


"Ini ... ini ... ini ..." Ia menunjuk asal baju-baju yang lain. Tapi Winter mengambil semua baju yang di tunjuk Reagan.


"Sepatu?" tanya Winter.


"Ini ... ini ... ini ..."


Winter tersenyum dan mengambil semua sepatu yang di tunjuk Reagan.


Selesai membayar mereka pergi ke tempat makan dengan Reagan yang sedang menjilati ice cream seraya menunggu pesanan makanan mereka datang.


Dua perempuan yang sedang duduk di dekat meja mereka saling berbisik melihat Winter dan Reagan.


"Itu adiknya ya?"


"Tidak mungkin sih, pria dewasa seperti dia masih punya adik masih kecil."


"Kalau begitu anaknya dong."


"Mana mama nya? mereka hanya berdua."


"Jangan-jangan ..." ucap dua perempuan itu bersamaan seraya saling menatap satu sama lain lalu senyum mereka perlahan mengembang.

__ADS_1


"Sugar Daddy ..." ucap mereka dengan pelan tapi begitu senangnya. Kebetulan dua perempuan itu bukan asli Indonesia, mereka tidak terlalu mengenal silsilah keluarga De Willson.


Satu perempuan berdehem beranjak dari duduknya seraya merapihkan rambut dan pakaiannya lalu duduk bergabung bersama Reagan dan Winter. .


"Hallo ..." sapa nya dengan tersenyum.


Antara Winter dan Reagan tidak ada satu pun yang menjawab atau menoleh. Reagan sibuk dengan ice cream nya dan Winter sibuk dengan ponselnya.


"Hei kamu lucu sekali ..." perempuan itu mencubit gemas pipi Reagan.


Reagan langsung menggosok pipinya seakan tangan perempuan tadi kotor dan menjijikan lalu ia kembali menjilati ice cream nya.


Perempuan itu menghela nafas melihat sikap Reagan seperti itu kemudian ia menoleh ke arah Winter.


"Dia lucu sekali, adikmu atau ..." perempuan itu menggantung kalimatnya berharap Winter menjawab pertanyaannya.


Teman si perempuan itu menahan tawa nya melihat sahabatnya gagal menggoda sugar daddy tersebut.


"Oh iya, aku ke sini untuk liburan bersama temanku. Kebetulan kami belum tahu tempat-tempat yang bagus untuk liburan di sini. Ya, kau tau lah perempuan seperti kami suka sekali foto-foto ..."


"Daddy ..." panggil Reagan sambil memonyongkan mulutnya yang kotor karena ice cream.


Winter pun mendongak menatap putranya lalu tersenyum. Ia mengambil tissue dan setengah berdiri untuk membersihkan mulut Reagan yang duduk di hadapannya.


Lagi, perempuan yang duduk di dekat Winter merasa benar-benar malu dan merasa tidak punya muka karena di acuhkan terus-menerus.


"Eum ... a-aku kembali ke tempat duduk ku. Kalau butuh teman ngobrol panggil saja. Permisi ..."


Bahkan ketika perempuan itu beranjak dari duduknya, Winter dan Reagan tidak perduli sama sekali.


"Hahaha ... PD banget sih jadi orang. Di cuekin kan!" ledek teman si perempuan.


"Diam kau!!"

__ADS_1


Pesanan datang, Reagan makan spageti sementara Winter memesan Lasagna.


Reagan mengunyah makanan di mulutnya seraya mata berkeliling menatap suasana restaurant. Ada perempuan dan laki-laki yang makan bersama, ada juga mereka yang makan bertiga dengan anaknya.


Reagan ingat Daddy Summer dan Mommy Intan makan bersama, terkadang membawa dirinya dan Alea.


Kemudian anak itu menatap Winter.


"Daddy ..."


Winter mendongak. "Hm?"


"Daddy mau mam beldua sama Yula aja ya?" tanya nya tiba-tiba karena Reagan tidak pernah melihat Winter makan dengan perempuan lain. Lebih sering makan dengan dirinya.


Winter diam sejenak kemudian menganggukan kepala perlahan dengan tersenyum getir. Mendengar nama Yura, pria itu selalu rindu dengan istrinya. Sudah lama tidak makan berdua lagi.


"Kalau Yula gak ada, Daddy mam ama sapa?"


"Sama Reagan."


"Kalau aku dah besal? aku mam sama teman aku, Dad mam sama sapa?"


"Sendiri saja."


Reagan tiba-tiba berkaca-kaca dengan memanyunkan bibirnya.


"Kenapa hm?" Winter mencubit gemas pipi Reagan.


"Aku gak mau ah Dad sendili ... nanti aku gosok-gosok kuci Yula, bial Yula kelual lagi."


Winter tertawa mendengarnya walaupun sebenarnya hatinya juga sedih membayangkan dirinya sampai tua sendirian tanpa istri dan anak. Karena dia hanya ingin Yura yang menjadi istrinya dan hanya ingin anak dari Yura.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2