Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#157 Bermain dengan Glory


__ADS_3

Reagan melempar tulang mainan membuat Rosi si macan tutul berlari mengejar tulang tersebut di ikuti dua pawang nya dari belakang.


"Ayo Reagan lari ..." Maxime meyemangati Reagan yang mengejar Rosi dari belakang, ia berjalan dengan membungkuk menyemangati langkah kecil Reagan sambil bertepuk tangan.


Dua harimau mengaum keras berlari hendak mendekati Reagan dari belakang tubuh anak kecil itu. Maxime yang melihat Gery dan Glory berlari mendekat segera mengangkat tubuh Reagan untuk menghindari mereka menyerang Reagan.


Reagan tertawa keras ketika Glory mengendus-ngendus bokongnya. Maxime pun ikut tertawa.


Yura yang melihat itu dari luar kandang menghela nafas kasar. "Apa kau yakin itu aman?"


"Aman Yura," sahut Winter. "Ada Daddy ku ..."


"Astaga ... kelihatannya sangat berbahaya, Winter ..."


"Gooo Gely ..." lagi, Reagan yang berada di gendongan Maxime melempar tulang mainan membuat dua harimau dan satu macan tutul itu berebut tulang mainan tersebut.


"Yeaayyy ..." Reagan berteriak sambil bertepuk tangan ketika Gery berhasil mendapatkan tulang mainan itu.


"Glandpa, aku mau naik." Reagan menunjuk binatang peliharaan Maxime.


"Mereka bukan kuda. Tidak bisa naik ke punggung mereka," sahut Maxime.


"Aaaaa glandpa ..." Reagan merengek.


Maxime mendengus. Akhirnya satu pawang harimau melingkarkan tali ke leher Glory lalu dengan antusias Reagan naik ke punggung Glory dengan di pegang Maxime. Sebenarnya mereka bisa di katakan sudah jinak, tapi tetap saja harus hati-hati.

__ADS_1


Pawang itu berjalan membawa harimau dengan Reagan di punggungnya dan Maxime di sisi ranjang yang menggenggam tangan anak kecil itu.


Reagan tak henti-hentinya tertawa. Maxime beberapa kali menegur anak itu untuk duduk diam di punggung Glory karena sedari tadi Reagan yang antusias duduk sambil melompat-lompat kecil saking senangnya.


"Itu harimau Daddy yang ke berapa?" tanya Yura.


"Tidak tau, Yura. Aku tidak terlalu memperhatikan soal harimau, intinya setiap yang mati dan di ganti yang baru pasti namanya tetap sama. Glory dan Gery."


Yura memanggut-manggut. "Noah dan Kai pernah masuk ke sana?"


"Pernah, kalau nilai mereka jelek," sahut Winter membuat Yura tertawa.


Kemudian Winter mengelus perut Yura. "Semoga anak kita tidak ada yang suka binatang buas."


Yura mengangguk setuju. Setelah di pikir-pikir, menyukai ikan cup*ng seperti Winter tidak terlalu buruk dari pada menyukai harimau seperti mertuanya.


Beberapa kali Maxime harus mengejar Reagan ketika anak itu berlari mendekati harimau hanya untuk menarik ekor mereka. Reagan pernah menarik ekor kucing, jadi ia pikir ia ingin mencoba menarik ekor Glory dan Gery.


"Mereka bukan kucing Reagan. Kalau marah nanti Reagan di gigit ..." ucap Maxime sambil berjongkok memeluk cucunya dari belakang.


"Aku tidak takut, huh."


Maxime tertawa.


"Glandpa, dah besal aku mau kaya glandpa ah."

__ADS_1


"Mau apa?" tanya Maxime.


"Mau punya gloly sama gely ah."


"Jangan. Punya dogi aja ya."


"Gak mau ah, glandpa ..."


Maxime berdecak lalu mengacak-ngacak gemas rambut Reagan.


Setelah puas melihat Glory, Maxime membawa Reagan kembali masuk ke mansion.


"Mandi dulu sana ..."


Reagan mengangguk dan berlari ke arah Yura. Yura membawa Reagan ke kamar mandi sementara Maxime mengobrol dengan putranya Winter.


"Sudah bertemu dengan Grandma?" tanya Maxime lalu duduk di sofa.


Winter duduk di sampingnya. "Sudah, Dad."


"Seperti yang kau lihat, semenjak kematian grandpa mu, Grandma lebih banyak diam di kamar ..."


"Aku sudah menyuruh glandma untuk sesekali berjemur di luar, itu bagus untuk tubuhnya. Bagaimana kabar grandpa Han?"


"Dia tidak terlalu baik juga. syaraf di kaki nya tidak terlalu baik membuat grandpa Han tidak bisa berjalan sampai harus di kursi roda."

__ADS_1


Winter mengangguk-ngangguk. Saat di pemakaman kakeknya, Han sempat hadir tapi tidak lama.


Bersambung


__ADS_2