Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#62 Mengingat masa kecil


__ADS_3

Semenjak kepergian Winter ke mansion Ayahnya. Yura hanya duduk di kamar memeluk lututnya sendiri dengan berusaha mencerna ucapan Summer.


Yura dengarkan aku, aku teman kecilmu. Kita berteman saat di Italy.


"Bagaimana bisa, aku saja belum pernah ke Italy," gumam Yura. "Daddy kan melarangku pergi ke Italy. Tapi kenapa ya, aku jadi penasaran."


Yura menghela nafas. "Summer kenapa sih, aneh sekali."


"Aku coba ingat-ingat dulu ..." Yura memejamkan mata dengan pikiran mencoba fokus mengingat-ngingat apa dia punya teman kecil laki-laki. Karena seingat Yura, saat kecil ia tidak punya teman laki-laki.


Yura mendengus dengan membuka mata. "Aku tidak ingat apapun ..."


Kemudian pintu kamar terbuka, terlihat Winter masuk ke kamar, duduk di samping Yura dengan menyenderkan punggungnya di sandaran kursi, ia membuka satu kancingnya yang terasa panas. Panas akibat bertengkar dengan Summer di mansion Ayahnya.


"K-kau, kau kenapa?" tanya Yura meneliti wajah suaminya.


Winter menoleh, tersenyum tipis lalu mengelus kepala Yura. "Aku baik-baik saja."


"Oh iya, Summer mengatakan dia teman kecilku saat di Italy, bukankah itu aneh, kau tau dia kenapa?"


Senyuman di wajah Winter memudar seketika. "Jangan pikirkan itu Yura!"


"Tapi aku penasaran Winter ..."


"Kau sedang sakit, jangan banyak pikiran."


"Terus kenapa Summer menyamar menjadi kau Winter? ada sesuatu yang kalian tutupi dari aku kan ..."


Hening. Winter tidak menjawab selain menatap iris mata istrinya.


"Jawab ..." Yura memelas dengan memegang tangan Winter.


"Dia terlalu memikirkan teman kecilnya dan berpikir kau teman kecilnya, Yura ..."


"Dia juga bilang seperti itu, tapi aku kan tidak pernah tinggal di Italy ..."


Ponsel Winter bergetar, pesan masuk dari Julian. Tapi yang mengirim pesan Summer karena nomor Summer masih di blokir Winter.


Jangan senang dulu, aku masih punya foto masa kecilku dengan Letta.


Winter mencengkram kuat ponselnya. Ia pikir bukti yang di kumpulkan Lusi sudah lengkap semua, ternyata bukan hanya Yura yang punya foto berdua dengan Summer saat kecil, tapi Summer sendiri juga punya.


"Winter ..." panggil Yura.

__ADS_1


"Hm?" Winter menoleh dengan tatapan melunak menatap istrinya.


"Kau kemana saat Summer di sini?"


Winter tidak mungkin menjawab kalau dia di sekap oleh Summer di gudang. Alhasil dia hanya menjawab.


"Ke mansion Daddy sebentar, jadi aku menyuruh Summer menjagamu di sini, tapi dia malah berani masuk ke kamar."


"Huh aneh ... masa dia pakai baju yang sebelumnya kau pakai."


Pakaian lah yang membuat Yura berpikir kalau siang itu benar-benar Winter bukan Summer. Karena ia tahu baju yang di pakai Winter saat menemaninya transfusi darah.


Winter sendiri tidak mungkin menjelaskan kalau dirinya pasti di telanjangi dulu oleh Julian dan Summer agar penyamaran Summer berhasil.


"Untung saja aku melihat belakang telinga Summer, tidak ada tahi lalat nya, jadi aku tau dia bukan suamiku ..."


Winter mengacak-ngacak gemas kepala Yura. "Tau darimana soal itu?"


"Dari grandpa Javier," sahut Yura dengan tersenyum seraya membereskan kembali rambutnya.


"Yura ..." panggil Winter.


"Kalau kau teman kecil Summer bagaimana?"


"Kan hanya teman kecil," sahut Yura enteng.


*


Pagi ini ketika hendak mau mandi, Yura merasa tubuhnya lagi-lagi sangat lemas sampai bangun dari ranjang pun rasanya sulit dan dia juga sedikit demam.


"Tidak perlu mandi ..."


"Tapi nanti aku bau," sahut Yura dengan cemberut.


Winter beranjak dari ranjang, pergi ke kamar mandi. Mengisi wadah dengan air hangat dan mengambil sabun serta lap badan. Ia juga mengambil facial wash milik gadis itu.


Winter menaruh wadah berisi air hangat itu di meja.


"Aku akan membersihkan tubuhmu ..."


"Di sini?" tanya Yura.


"Iya."

__ADS_1


Winter mengelap wajah Yura terlebih dahulu. Kemudian membantu gadis itu membersihkan mukanya dengan facial wash miliknya.


"Seperti main salon-salonan ya," ucap Yura seraya tertawa ketika Winter memijat wajahnya dengan lembut.


Winter tersenyum tipis.


Yura menahan tangan Winter yang hendak membuka kancing bajunya. "T-tidak perlu, wajah saja sudah cukup."


"Tidak ada niat apapun, aku hanya ingin membersihkan tubuhmu saja."


"Tapi--"


Winter segera melepas kancing baju Yura satu persatu. Ia juga membuka pakaian d*lam Yura membuat gadis itu menelan saliva nya susah payah, tapi anehnya mata Winter seperti biasa saja tidak ada na*su sedikitpun melihat tubuh Yura.


Pria itu dengan lembut membersihkan tubuh istrinya.


Dia ini punya hawa n*fsu tidak ya. Kok bisa-bisanya dia bersikap biasa saja, seperti sedang memandikan bayi.


Bahkan bagian bawah Yura pun di bersihkan oleh Winter. Sekalipun Yura tel*njang bulat tapi Yura melihat tatapan Winter tidak seperti pria biasanya yang akan tergoda dengan melihat tubuh wanita.


Dan hal itu malah membuat Yura sedih, ia berpikir Winter benar-benar merawatnya karena kasihan saja bukan karena cinta.


Sekarang Winter sedang mengambil baju Yura di lemari. Kemudian kembali mendekati ranjang setelah mendapatkan baju yang di pilih.


Pria itu kembali membantu istrinya mengenakan baju.


Setelah selesai, Winter berjalan ke meja rias. Mengambil beberapa skincare milik Yura.


"Kau tau cara pakai nya?" tanya Yura.


"Aku sering melihatmu," sahut Winter kemudian memakaikan skincare ke wajah gadis itu dengan urutan yang benar. Yura pikir Winter tidak bisa membedakan serum, pelembab dan tektek bengek soal skincare.


Yura menatap teduh pria di depannya yang sedang memijat lembut wajahnya.


"Winter ..."


"Hm?"


"Terimakasih ya ..."


Winter tersenyum. "Untuk apa?"


"Karena kau merawat ku dengan baik, maaf merepotkan mu ..."

__ADS_1


"Berhenti berbicara seperti itu Yura ..."


Bersambung


__ADS_2