Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
# 141 Sea World


__ADS_3


"Mana lumba-lumbanya Yura? Ini hanya ikan kecil saja."


"Tidak ada Winter, petugasnya sudah bilang baru bisa mengeluarkan lumba-lumbanya besok pagi."


Winter mendengus. "Lalu untuk apa aku ke sini. Ke pantai saja bagaimana?" Winter menoleh menatap istrinya dengan mata memohon.


Yura menghela nafas lalu menggelengkan kepala. "Ini sudah malam."


Winter kembali menatap akuarium di depannya dengan kecewa. Hanya ikan-ikan kecil yang berenang.


"Aku mau buat sea world juga di mansion, aku akan memelihara lumba-lumba."


"Winter jangan gila."


"Kenapa?" Winter menoleh. "Daddy ku memelihara harimau dan macan. Aku mau lumba-lumba."


"Mereka lebih baik di hidup di lautan Winter."


"Petugas di sini juga tidak melepaskan lumba-lumba nya ke lautan, Yura. Lumba-lumba itu pintar, asal berteman baik dengan orang yang merawatnya dari kecil, dia pasti hidup dengan baik walaupun tidak di laut."


"Tapi perawatannya pasti mahal." Yura takut jika Winter tidak serius merawat lumba-lumba nya.

__ADS_1


"Aku tidak miskin, Yura. Aku bisa merawatnya."


Yura menghela nafas panjang menatap jengkel suaminya. Bagaimana kalau Winter tidak serius merawat lumba-lumba nya atau ini hanya keinginan sementara nya saja.


"Kau pasti akan menyuruh orang lain untuk merawatnya kan?"


"Tidak, Yura. Aku sendiri yang akan merawatnya, lumba-lumba tidak akan di jadikan pajangan saja di mansion ku."


Yura berdecak lalu kembali menatap akuarium di depannya dengan menggerutu. "Ayahnya suka hewan buas, anaknya suka hewan lucu. Bagus sih tapi kalau jadi hewan peliharaan bukan ide yang bagus ..."


"Bukan ide yang bagus bagaimana Yura? anak kita nanti pasti suka."


"Iya, tapi biaya yang di keluarkan sangat banyak Winter. Kau mau sea world seperti ini kan ..." Yura menunjuk akuarium.


"Kalau soal membersihkan aku akan menyuruh orang lain."


"Kau akan membuatnya dimana Winter?"


"Di belakang mansion, luas juga kan di sana."


Yura hanya bisa menggelengkan kepala. Ini kali pertama mereka berdebat panjang dan hal yang di debatkan soal lumba-lumba bukan pelakor atau yang lain.


Yura hanya bisa pasrah dan mengalah saja. Biasanya Winter tidak seperti ini, tapi dari sepanjang jalan menuju sea world, dia terus menerus membahas lumba-lumba membuat kuping Yura risih mendengarnya.

__ADS_1


*


Selama di akuarium, Yura hanya duduk sambil sesekali menguap menunggu suaminya yang mematung di depan akuarium memperhatikan Ikan berenang.


"Bahkan kalau dua puluh empat jam kau berdiri memperhatikan ikan-ikan itu, mereka tidak akan berubah menjadi ikan terbang, Winter ..."


Winter menoleh ke belakang, mengulas senyuman di wajahnya lalu kembali menonton ikan-ikan berenang. Membuat Yura kesal bukan main, gadis itu hanya berdecak menunggu suaminya.


Lumba-lumba tetap tidak bisa di keluarkan dari ruangan khusus dan baru bisa di keluarkan besok pagi oleh para petugas di sana.


"Jangan bilang kita di sini sampai besok pagi Winter ..."


Winter tidak menjawab. Yura pun mengelus perutnya.


"Daddy kalian kenapa sih, aneh sekali. Mommy ngantuk tau ... coba aja kalau kalian sudah di sini, bisa membujuk Daddy kalian untuk pulang, huh ..."


Winter membalik menatap istrinya. "Yura kau mau jadi putri duyung tidak?"


"Hah?" Yura mengernyit dan tercengang dengan pertanyaan Winter.


Kemudian gadis itu menggelengkan kepala. "Aku mau jadi peri saja Winter. Tidak mau berenang, takut bau amis." sahut Yura asal membuat Winter tertawa.


#Bersambung

__ADS_1


__ADS_2