Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#57


__ADS_3

Setelah transfusi darah mereka kembali pulang ke mansion. Dengan hati-hati Winter menidurkan istrinya di ranjang.


Kemudian seorang pelayan mengetuk pintu kamar. Mereka menoleh ke arah pintu.


"Tuan, ada tamu di bawah ..."


"Siapa?" tanya Winter karena ia heran biasanya bel berbunyi jika ada tamu.


"Saya tidak tahu Tuan ..."


"Aku ke bawah dulu ..." Yura mengangguk. Winter turun ke bawah setelah mengelus kepala gadis itu.


Yura mengambil novel di laci, ia kemudian duduk di ranjang sambil membaca novel. Sepuluh menit kemudian Winter masuk kamar.


"Siapa?" tanya Yura.


"Teman kantor," sahut Winter lalu duduk di samping gadis itu.


"Novel Nala?"


Yura mengangguk. "Iya, aku belum selesai membacanya ..."


Kemudian Winter mengalihkan pandangannya ke meja samping ranjang. Ada kotak obat di sana. Winter mengambilnya dan membuka kotak obat tersebut.


Ia memperhatikan satu persatu obat itu. Yura menoleh.


"Aku kan sudah minum obat tadi ..."


"Kapan?"


"Tadi pagi, kau yang memberikanku obat."


"Oh ..." Winter kembali memperhatikan obat di tangannya.


Yura hanya menatap heran pria di sampingnya ini. Kemudian Winter menatap plester di tangan kanan Yura. Plester bekas infusan tadi.


"Kau baik-baik saja?" tanya Yura ketika melihat Winter terus menatap tangannya.


Winter menoleh, tersenyum tipis seraya menganggukan kepala kemudian menyimpan kembali kotak obat di meja.


"Oh iya, waktu kecil kau punya kenangan tidak?" tanya Winter membuat Yura menaikan satu alisnya.


"Kenangan? tumben sekali kau menanyakan masa kecilku, seperti bukan Winter saja," sahut Yura seraya terkekeh pelan membuat Winter tersenyum tipis.


"Aku hanya ingin tau tentang istriku ..."


"Kenangan apa ya ..." Yura mencoba mengingat-ngingat.

__ADS_1


"Mungkin kenangan bersama Daddy dan Mommy waktu traveling, main dengan teman, sisanya tidak ada yang istimewa saat aku kecil ..."


"Benarkah?"


Yura mengangguk.


"Waktu kecil kau punya teman laki-laki tidak?" tanya Winter.


Yura menggeleng. "Dad posesif sekali, aku tidak boleh punya teman laki-laki. Harus perempuan."


"Nanti sore kita ke pantai ya."


"Pantai?"


Winter mengangguk. "Kita hitung matahari tenggelam sama-sama, sepertinya menyenangkan."


"Loh, tapi kan kau sendiri yang bilang aku tidak boleh ke pantai sore hari, harus pagi kalau mau."


"Tidak apa-apa. Sesekali ..."


Yura tersenyum lalu menganggukam kepala.


*


Mobil berhenti di pinggir pantai. Yura mengedarkan pandangannya, beberapa pohon terguncang angin, ia bisa melihat angin sore ini sangat kencang, di tambah ombak yang tinggi.


"Ayo Yura ..." ajak Winter.


Yura menoleh. "Aku di mobil saja."


"Loh, kenapa? kita kan mau hitung matahari tenggelam ..."


Kenapa Winter terus mengajakku menghitung matahari tenggelam. Tidak biasanya, aneh sekali ...


Yura menggeleng. "Aku di sini saja Winter. Aku tidak mau turun."


"Di dekat laut lebih menyenangkan, Yura."


"Tapi sepertinya mau hujan." Yura menengadah menatap langit.


"Tidak Yura ... hanya langitnya saja gelap."


Tiba-tiba petir menyambar membuat Yura menjerit seketika dengan menutup kedua telinganya. Nafas Yura memburu cepat, dadanya naik turun, wajahnya terlihat panik dengan tubuh yang gemetar.


"Kau baik-baik saja? hanya petir ..."


Yura kembali menatap ombak di depannya dengan pandangan ngeri. Kemudian bayangan itu kembali datang, Yura kecil yang terseret ombak tsunami.

__ADS_1


"Yura kau kenapa?" Winter meraup wajah gadis itu yang terlihat ketakutan.


"Mama ..." lirih Yura.


"Mama ..."


"Yura hei."


"Mama ayo lari ma ..." lirih gadis itu dengan menutup kedua telinganya dan menangis.


"Mama ... siapa yang kau panggil Yura?"


"Mama ..." Yura menggeleng dengan menangis.


Petir kembali menyambar membuat gadis itu kembali menjerit dan tiba-tiba hujan turun membasahi mobil mereka.


Winter pun segera menyalakan mesin mobil kembali, melihat gadis itu terlihat sangat ketakutan, ia putar balik mobil menuju mansion.


Di perjalanan Yura masih menangis dengan tubuh gemetar, menutup kedua telinganya dengan tangan.


Di tengah-tengah perjalanan Yura tak sadarkan diri. Ketika mobil berhenti di halaman mansion, Winter segera keluar dan menggendong gadis itu menuju kamarnya.


Ia menidurkan Yura di ranjang. "Yura ..." Winter menepuk-nepuk pipi gadis itu.


"Yura bangun ..."


Yura kembali merintih. "Mama ayo lari, Ma ... ombaknya besar ..."


"Yura ..." Winter terus berusaha membangunkan gadis itu.


Sampai akhirnya mata Yura terbuka tiba-tiba dengan nafas terengah-engah, wajahnya penuh dengan keringat dingin.


Yura mengalihkan pandangannya ke arah Winter di sampingnya.


"D-dingin ..." ucapnya dengan gemetar.


Gadis itu tiba-tiba memeluk dirinya sendiri ketika merasa tubuhnya mengigil.


Winter segera berbalik untuk mengambil obat dimeja. Yura berusaha untuk bangun, dengan posisi duduk ia menatap suaminya.


Winter punya tahi lalat di belakang telinganya.


Yura ingat ucapan Javier tentang tahi lalat di belakang telinga Winter tapi anehnya tahi lalat itu tidak ada di telinga suaminya.


"Kau bukan Winter."


Ucapan Yura membuat suaminya terdiam seketika.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2