
Winter kembali ke kantor sore hari karena ia merasa tubuhnya sudah membaik. Tidak ada keluhan mual dan muntah seperti biasa.
Lusi sudah menyimpan beberapa map yang harus Winter tanda tangani selama pria itu cuti bekerja.
Suara ketukan pintu membuat mereka menoleh ke arah pintu. Lusi pun berjalan membuka nya.
"Ada makanan untuk Tuan Winter ..."
"Dari siapa?" tanya Lusi.
"Saya kurang tau ..."
Lusi pun mengambil kantung makanan tersebut, menutup pintu dan menyimpannya di atas meja.
"Ada yang mengirim makanan untuk anda Tuan."
Winter mengangguk, ia tahu itu pasti makanan dari Yura karena sebelum berangkat Yura mengatakan akan memasak sesuatu untuk Winter.
"Aku akan makan dulu, keluarlah ..."
Lusi mengangguk lalu keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Winter yang tampak lahap dengan makanan nya.
Sampai ketika makanan nya habis, ponselnya bergetar panjang. Winter mengambil ponselnya dari balik jas.
"Yura ..."
"Makanannya aku suruh pelayan yang antar ke kantormu. Habiskan ya ..."
"Hah?" Winter menautkan kedua alisnya lalu menatap makanan yang sudah habis di meja.
"Aku suruh pelayan mengantar makanannya Winter," ulang Yura.
"Kau ... belum mengirim makanannya?" tanya Winter.
__ADS_1
"Belum, aku baru selesai masak tau. Kenapa?"
"Tidak, yasudah aku tunggu ya ..."
"Oke ..." sahut Yura dengan semangat.
Panggilan pun berakhir. Winter buru-buru menelpon Lusi, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan tidak sampai lima menit Lusi kembali ke ruangan setelah mendapat info dari satpam di depan.
"Yang mengirim bernama Anaya Kinara, Tuan ..."
Winter menghela nafas dengan mengusap wajahnya gusar. Ternyata yang dia makan, makanan dari Anaya. Pantas saja rasanya sangat enak, Anaya seorang chef.
"Baiklah, jangan beritahu Yura soal ini ..."
"Baik Tuan ..."
Winter takut Yura yang sedang hamil akan marah kalau tahu dirinya makan makanan dari Anaya, ini juga tidak di sengaja.
Winter keluar dari kamar mandi setelah memuntahkan makanan dari Anaya, pria itu sampai harus mencolok tenggorokannya karena merasa benar-benar bersalah kepada istrinya.
"Hai Winter. Bagaimana makanannya apa enak? atau kurang sesuatu ..."
"Tidak!"
"Tidak apa?" tanya Anaya di telpon.
"Tidak enak!"
"Yakin? Daddy ku bilang itu makanan kesukaanmu, jadi aku memasaknya dan rasanya cukup enak ketika aku mencobanya. Yasudah nanti aku coba ---"
"Berhenti menggangguku!!" potong Winter.
"Aku hanya memasak makanan untukmu ..."
__ADS_1
"Aku akan membayarnya agar kau terlihat seperti seorang penjual yang layak di beri upah!!"
"Winter aku--"
Tut.
Winter langsung mematikan panggilannya. Ia mengirim sejumlah uang ke rekening Chef Joni lalu mengirim pesan kepada Chef Joni.
Tolong awasi putrimu!!
Setelah mengirim pesan tersebut, Winter keluar dari ruang kerjanya dan kembali ke mansion untuk menemui istrinya.
"Tuan ..."
Seorang pelayan mansion memanggil Winter tepat ketika pria itu hendak masuk mobil.
"Tuan, ini makanan dari Nyonya ..."
Winter mengangguk, mengambil makanan tersebut dan masuk ke mobilnya.
*
"Yura ..."
Yura yang sedang mencuci piring menoleh. "Loh ..."
Winter langsung memeluk istrinya dengan satu tangan memegang kantung makanan.
"Winter kenapa pulang? makanannya baru di antar ..."
Winter melepas pelukannya. "Ini makanan darimu. Ayo makan bersama saja ..."
Winter menarik tangan Yura menuju meja makan. Sebenarnya ia pulang karena rasa bersalahnya saja kepada istrinya.
__ADS_1
Makanan dari Anaya seperti dosa besar yang dia telan sampai-sampai rasa bersalah menjalar di tubuhnya.
Bersambung