Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#116 Bertemu keluarga kembali


__ADS_3

Bayuni langsung berlari ke depan teras ketika melihat mobil Winter berhenti. Sebelumnya Julian menelpon Summer yang sedang berada di mansion Winter, dia mengatakan kalau Yura masih hidup dan akan segera kembali ke mansion bersama Winter.


Bukan hanya Bayuni yang shock mendengar kabar itu, tapi keluarga De Willson juga. Mereka sempat berpikir kalau Julian hanya bercanda, tapi Julian mengirim foto Winter dan Yura yang sedang mengobrol di pantai, tepat ketika Yura menoleh ke samping ke arah suaminya.


Ketika pintu terbuka, Bayuni begitu terbelalak melihat perempuan di depannya. Dia yang tadinya sangat lemas sampai kemana-mana harus duduk di kursi roda seakan mendapat kekuatan seketika, kala mendengar putrinya masih hidup.


"Y-Yura ..." ucap Bayuni terbata.


"Yura ..." Benjamin tak kalah kaget.


Kemudian keluarga De Willson yang berdiri di belakang Bayuni dan Benjamin juga sangat terkejut melihat Winter pulang membawa istrinya. Laura memeluk lengan Nala.


"Nal, apa aku tidak salah lihat."


Nala menggeleng dengan raut wajah tak percaya menatap wajah Yura yang sedang tersenyum dengan mata berkaca-kaca menatap kedua orang tuanya.


"Mommy ..." panggil Yura memeluk Bayuni dengan terisak.


Milan menatap Maxime seakan ingin bertanya apa yang di lihat matanya itu tidak salah.


"Daddy Yula ya," ucap Reagan kepada Summer.


Summer mengangguk mengiyakan.


"Yula dah kual dali kuci," gumam Reagan sambil memegang tangan Summer menatap Yura yang sedang memeluk Ibunya.


"Mommy merindukanmu Yura ..." lirih Bayuni dengan terisak.


"Iya Mommy ... Yura juga."


Kemudian Yura beralih memeluk Benjamin. Benjamin memeluk erat putrinya seraya mencium puncak kepala gadis itu.


"Ini bukan mimpi kan ..."


Yura menggeleng.


Setelah itu Yura memeluk bergantian Milan dan Maxime lalu berjabat tangan dengan yang lain seperti, Nathan, Nala, Laura, Lalita, Intan dan Summer.


Summer tersenyum. "Kau memang di takdir kan untuk Winter, itu sebabnya kau bisa kembali lagi kesini Yura ..."

__ADS_1


Yura mengangguk setuju dengan ucapan Summer. Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


Kemudian Yura berjongkok mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Reagan.


"Hai ..." Yura memegang tangan kecil Reagan.


"Yula dah kual ya."


"Hah?" Yura menaikan satu alisnya tidak mengerti.


"Aku gosok ... gosok ... kuci ... Yula kual deh."


Yura menatap Summer dan Intan karena tidak mengerti dengan ucapan Reagan. Tapi justru mereka menggelengkan kepala, mereka juga mengerti.


"Dia menggosok guci setiap hari, dia berpikir kau terjebak di guci penyimpanan abu." Winter menjelaskan membuat mereka melebarkan mata lalu tertawa.


"Apa? serius, Reagan menggosok guci?" tanya Lalita tak percaya.


Winter mengangguk dengan tersenyum tipis.


"Hahahaha ... di pikir Yura jin tomang apa," ucap Nathan dengan tertawa terbahak-bahak.


Yura pun ikut tertawa mendengarnya seraya mengacak-ngacak gemas kepala Reagan yang sedang tersenyum malu karena semua orang menertawakan dirinya.


*


Yura pun menjelaskan kepada semua orang apa yang sebenarnya terjadi. Dia tinggal di spanyol dan di rawat oleh Magma, tiga tahun lebih melawan penyakit leukimia nya Yura baru di nyatakan sembuh total.


Sepanjang cerita hanya ekspresi terkejut yang di tunjukan semua orang. Mereka diam mendengarkan Yura bercerita dengan satu tangan nya di genggam oleh Winter.


Di tengah-tengah sedang bercerita, Julian datang dan bergabung bersama mereka. Dia sudah lebih dulu tahu cerita yang sebenarnya. Pria itu hanya duduk dengan topi di kepalanya dan masker yang ada di bawah dagu.


"Intinya Yura mati suri," ucap Julian. "Yura kau bisa lihat hantu sekarang. Orang mati suri biasanya seperti itu. Iya kan ..." Julian menatap yang lain berharap mereka setuju dengan ucapannya.


"Kenapa sih dia ini," pekik Nala menatap Julian.


"Iya, masih saja percaya hal-hal seperti itu," sambung Lalita.


"Lah memang benar. Coba Yura kau jawab, kau bisa lihat hantu atau tidak?"

__ADS_1


Yura menghela nafas kasar. "Ti-dak. Aku tidak bisa melihat hantu," ucap Yura dengan penuh penekanan. "Tapi aku bisa menjadi hantu ..." lanjut Yura dengan tersenyum sinis kepada Julian.


Julian mendengus kasar. "Sudahlah aku diam saja," gumam Julian karena mau membalas ucapan Yura dia sudah di tatap dingin oleh si pria musim dingin yang duduk di samping Yura.


*


Mobil Magma berhenti di depan teras mansion Winter. Dia baru saja sampai di Indonesia setelah perjalan panjang dari Spanyol, anak buah nya membukakan pintu untuk Magma.


Magma keluar dengan pakaian casual dan kaca mata hitam. Dia sangat rapih, berwibawa dan terlihat elegan, pria itu membenarkan dasinya terlebih dahulu lalu mengusap rambutnya yang sudah memakai minyak rambut mahal.


Dia bersikap seperti itu karena merasa orang-orang akan bertekuk lutut kepadanya sambil berterimakasih karena jasa Magma menyelamatkan Yura dan merawat gadis itu sampai sembuh.


Terimakasih ... terimakasih sudah merawat istriku. Aku berhutang budi kepadamu Magma ...


Magma menarik ujung bibirnya tersenyum ketika membayangkan Winter mencium punggung tangannya. Tapi yang sebenarnya terjadi malah.


PLUK


Telur pecah di kepala Magma. Magma melebarkan mata di balik kaca matanya. Ia perlahan mendongak dan melihat keluarga De Willson hendak melempari dirinya telur ayam di atas balkon.


"SEKARANG ..." teriak Julian.


Telur-telur itu di lempar seketika dengan tawa di wajah mereka, dua anak buah Magma mencoba melindungi Tuan nya. Magma bersembunyi di balik tubuh anak buahnya.


Reagan juga ikut melempar telur ayam dengan tertawa. Walaupun tangan kecilnya tidak bisa melempar jauh telur itu.


PLUK


PLUK


PLUK


Telur-telur itu pecah di tubuh anak buah Magma yang mencoba melindungi Tuan nya.


"S*al!! apa-apaan mereka itu!" geram Magma.


Mereka kesal karena Magma menyembunyikan Yura sendirian tanpa memberitahu siapapun. Ekspetasi Magma yang berpikir keluarga De Willson terutama Winter akan berterimakasih dan memuja-muja dirinya hilang seketika.


Ini seperti peribahasa air susu di balas air tuba. Magma benar-benar kesal dengan klan De Willson.

__ADS_1


Yura dan Winter tidak ikut melempar telur. Yura hanya menonton seraya tertawa dengan Winter yang memeluknya dari belakang sambil tersenyum.


Bersambung


__ADS_2