
Yura berdiri di halaman mansion, menatap air mancur dengan ikan berenang di bawahnya. Ia masih berada di mansion Maxime De Willson, di teras depan ada Nathan dan Laura yang sedang main gitar dan bernyanyi.
Summer keluar berjalan melewati Nathan dan Laura untuk menghampiri Yura. Tapi belum juga sampai, Winter dari arah lain lebih dulu menghampiri istrinya itu membuat Summer menghentikan langkahnya dan menggeram kesal dengan tangan mengepal.
Laura menyikut Nathan. "Lihat, kenapa dia." Ia menunjuk Summer dengan dagu nya. Nathan mengikuti arah pandang Laura lalu mengangkat kedua bahunya.
"Sudahlah, jangan ikut campur!" pekik Nathan lalu kembali memetik senar gitar nya.
Summer sendiri berusaha untuk bisa bicara dengan Yura, karena ingin menanyakan perihal kalung yang ia berikan. Summer pun putar balik kembali masuk ke mansion.
Nathan dan Laura hanya menggelengkan kepala ketika Summer berjalan melewati mereka.
"Ayo masuk, disini dingin," ajak Winter menggenggam tangan istrinya.
Yura mengangguk. Ketika berjalan melewati Nathan dan Laura, Yura tersenyum kepada mereka. Mereka pun membalas dengan senyuman hangatnya.
*
Summer menaiki anak tangga, ketika membuka pintu kamar, ia terlonjak kaget melihat ada Winter dan Yura di kamar. Yura tidur di paha Winter dengan kepalanya di elus lembut oleh Winter.
"Summer ..." Yura langsung bangun dan duduk.
"Kenapa kalian di kamarku?" tanya Summer kemudian menghela nafas kasar.
"Ini juga kamarku," sahut Winter.
Karena kamar yang mereka tempati itu kamar milik Summer dan Winter saat kecil.
"Kalian bukannya tadi di bawah kenapa jadi di kamar?" tanya Summer.
"Yura kedinginan ..."
Tiba-tiba seseorang berbisik di telinga Summer dari belakang membuat pria itu terlonjak kaget. "Kedinginan terus di bawa ke kamar, menurutmu apa yang akan mereka lakukan bos?"
__ADS_1
Summer berbalik dan menggeplak kepala Julian.
"A-akkhh. Sakit bos!" Julian mengusap-ngusap kepalanya.
Winter dan Yura hanya diam menonton Tuan dan Asisten itu.
Dengan kesal Summer pun pergi dari kamar itu. Julian menarik knop pintu perlahan untuk menutup pintu kamar. "Maaf ya menganggu hehe ... silahkan di lanjutkan menanam bibitnya."
Pintu pun tertutup rapat, Yura dan Winter saling menoleh heran dengan sikap Bos dan sekretarisnya itu.
Lima belas menit Summer berdebat dengan Julian di salah satu ruangan, Julian berjanji akan mengenalkan Summer dengan perempuan cantik dan Sexy tapi Summer terus menolak.
"Ayolah bos ... lupakan saja Aletta atau kakak iparmu itu!"
"Aku harus memastikan kalau Yura itu Aletta!" Summer berbicara penuh penekanan.
"Bos, perempuan yang akan aku kenalkan itu body nya mirip dengan Ayu ting-ting. Kau pasti menyukainya."
Dengan kesal Summer keluar dari ruangan itu dan mengacuhkan teriakan Julian. Julian semakin geram dengan sikap bos nya yang satu ini.
Karena di rasa kepalanya terasa panas akibat berdebat dengan sekretarisnya sendiri, Summer mengambil minuman kaleng di kulkas dan berjalan menuju balkon.
Bahkan niat untuk mendinginkan kepalanya gagal sudah ketika Summer melihat Winter dan Yura berada di balkon, tertawa seraya memegang minuman kaleng yang sama dengan dirinya.
"Tadi di kamar, sekarang sudah di balkon saja," gumam Summer kesal.
"Mereka menginap di sini malam ini, bos!" bisik Julian yang lagi-lagi berbisik dari belakang.
Summer menoleh ke belakang "KAU!" kesal Summer membuat Winter dan Yura ikut menoleh.
"Loh, kalian dari kapan di situ?" tanya Yura.
"Eh, hehe maaf ya ... ini kita sedang berkeliling mencari Ayu ting-ting. Iya kan bos?" Julian langsung merangkul Summer.
__ADS_1
Summer menatap dingin mata Winter. Mereka saling menatap selama beberapa detik.
Sampai akhirnya Julian kembali berbisik. "Sadar bos, Ayahmu mafia bos, bisa-bisa kau di bantai kalau jadi pembinor!"
Summer dengan kesal menghempaskan tangan Julian dari pundaknya lalu berjalan pergi meninggalkan mereka. Winter menatap kepergian Summer.
"Hehe maaf ya menganggu lagi. Silahkan di lanjutkan minumnya ..."
Julian pun pergi menyusul tuan nya.
"Dia kenapa ya?" tanya Yura..
Winter menggeleng pelan. "Biarkan saja."
*
Summer menuruni anak tangga dengan langkah cepat dan kesal, Julian mengikutinya dari belakang.
Mereka sempat berpapasan dengan Javier, tapi Summer melewati begitu saja Kakeknya itu.
"Malam grandpa ..." Julian membungkukan badan ketika berpapasan dengan Javier lalu kembali mengejar Summer.
Javier menggelengkan kepala menatap kepergian mereka. "Pantas saja Ibunya berpikir mereka pacaran, kemana-mana berdua terus!" kesal Javier.
Summer masuk ke balik kemudi, Julian juga masuk dan duduk di sampingnya. Mesin mobil menyala, mobil keluar dari halaman mansion.
Dari balkon, Winter dan Yura menatap kepergian mobil Summer.
Summer benar-benar mengendarai mobilnya ugal-ugalan, beberapa kali hampir menabrak mobil orang lain, jantung Julian berdegup dengan cepat, wajahnya tiba-tiba pucat.
"Bos aku tidak mau mati ..." lirih Julian dengan gemetar dan menelan Saliva nya susah payah.
Bersambung
__ADS_1