
Setelah kelas memasak, Winter kembali ke mansion. Dengan hati senang, Yura menuruni anak tangga seraya berteriak.
"Musim dingin ..."
Gadis itu berhambur ke pelukan suaminya. Winter membalas pelukan Yura dengan sedikit mengangkat tubuhnya.
"Bagaimana kelas memasaknya?" tanya Yura setelah melepas pelukannya.
"Seru."
"Ada berapa banyak orang di sana?"
"Tidak tau, Yura."
"Kenapa tidak tau."
"Aku tidak menghitungnya." Winter mengenggam tangan Yura membawanya ke sofa lalu gadis itu duduk di pangkuan suaminya dengan masih membahas kelas memasak.
"Bisa-bisanya kau tidak tau ada berapa orang di sana huh."
"Aku di sana untuk belajar memasak, bukan melihat orang-orang."
Yura menyipitkan matanya. "Pasti banyak perempuan."
"Kalau ada mereka juga belajar memasak, Yura."
"Ada yang cantik tidak?" goda Yura.
"Tidak tau, tidak lihat wajahnya Yura."
"Ih kau ini!" Yura memukul pelan dada Winter membuat suaminya terkekeh.
__ADS_1
"Winter, coba panggil aku sayang." Yura menahan kedutan di bibirnya meminta hal demikian.
"Aku pernah memanggilmu itu, tapi hanya beberapa kali."
"Coba lagi, kau kan memanggilku sayang kalau aku sedang tidak sadar saja."
Winter tersenyum mengelus kepala istrinya yang duduk di pangkuannya. "Aku lebih suka namamu, Yura ..."
"Asal kau tau saja, nama asli ku Aletta bukan Yura wle ..." Yura menjulurkan lidahnya.
"Aletta itu teman Summer, Yura baru istriku."
"Tapi orangnya sama saja---Eh Winter stop!!" Yura langsung menahan tangan Winter yang hendak menyelusup ke dalam bajunya.
"Aku hanya ingin pegang saja, Yura ..."
"Kau ya ..." Mata Yura menyipit. "Aku kira kau tidak nafsu*an!!"
"Hanya kepadamu saja, tidak ada salahnya kan." satu alis Winter terangkat naik.
Belum selesai bicara Winter langsung menggendong tubuh Yura naik ke kamarnya. Yura terus menggerak-gerakan kakinya minta di turunkan tapi Winter langsung mengunci kamar nya. Olahraga siang terjadi di kamar.
*
Suara gedoran pintu membangunkan tidur siang mereka. Mereka mendengar suara Reagan, buru-buru mereka memakai pakaiannya yang tergeletak di lantai lalu berjalan membuka pintu.
"Hai Yula ..." Reagan melambaikan tangan dengan Summer di belakangnya.
"M-maaf menganggu ..." ucap Summer melihat wajah berantakan Yura dan Winter. Dia tahu mereka baru saja olahraga siang.
"T-tidak apa-apa, Summer." sahut Yura dengan canggung.
__ADS_1
"Anak ini, mau ke sini terus." Summer memegang kepala Reagan. "Aku sudah melarangnya tapi dia nangis terus."
"Kemari ..." titah Winter. Reagan pun berjalan menghampiri Daddy angkatnya.
"Kau pulang saja," ucap Winter kepada Summer.
Summer mengangguk kemudian menatap Reagan. "Jangan nginep di sini ya."
Reagan mengangguk cepat.
"Aku pergi dulu ..."
Winter dan Yura mengangguk. Setelah kepergian Summer, Yura langsung berjongkok mengajak Reagan berbicara.
"Kau yang mengeluarkanku dari guci itu ya?" tanya Yura.
Setelah kepergian Javier De Willson, Yura memang jarang bertemu dengan Reagan karena Reagan selalu ada di mansion utama bersama Sky dan Milan. Jadi dia belum bertanya perihal Reagan yang suka menggosok guci ketika dirinya di anggap meninggal oleh semua orang.
Reagan mengangguk. "Ya, Yula. Aku gosok ... gosok ... gosok ..." tangan kecilnya memperagakan saat Reagan menggosok guci.
"Yula kelual deh ..." teriak Reagan membuat Yura dan Winter sontak tertawa.
"Kau mau memanggilku apa?"
"Eummm ..." Reagan terlihat berpikir dengan mengetuk-ngetuk bibir mungilnya dengan jari telunjuk.
"Mommy Yula ..."
"Aaaa ... benarkah? kau mau memanggilku Mommy?" Yura terlihat begitu senang.
"Makasih ya sayang ..." Yura langsung memeluk Reagan. "Kita makan puding yuk."
__ADS_1
Yura langsung menggendong Reagan membawanya turun ke bawah, Winter tersenyum melihat itu.
Bersambung