Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#68 Magma dan Winter


__ADS_3

"Winter ..." Yura berlari menghampiri suaminya dengan memeluk satu bantal dari sofa.


"Winter aku mau cerita." Yura memeluk lengan suaminya dengan mendongak menatap Winter.


Tapi mata Winter justru malah menatap Magma. Ia seperti pernah melihat pria yang berada di ranjang itu, ingatannya memutar waktu dimana ia memeluk uncle Nicholas yang tertembak, tepatnya lima tahun yang lalu.


Nicholas yang mati demi menyelamatkan nyawa dirinya.


"Winter ..."


Yura menggoyang-goyangkan lengan Winter di saat pria itu terdiam. Sementara Magma menarik ujung bibirnya tersenyum.


"Kau ..." Winter menggantung kalimatnya.


Yura menatap bergantian Winter dan Magma.


"Mengingat ku?" tanya Magma dengan terkekeh sinis.


Tangan Winter tiba-tiba mengepal dengan geram. Giginya menggertak marah, ia menghampiri Magma.


"Winter ..." panggil Yura.


Tapi langkah Winter terhenti ketika Magma menodongkan pistol tepat ke wajahnya. Yura membulatkan mata dan segera berdiri di depan Winter dengan melentangkan kedua tangannya.


"Turunkan atau aku kasih tau, Dad!!" hardik Yura.


"Cih, dasar anak Daddy!!" pekik Magma seraya menurunkan pistol nya dengan tersenyum.


Winter masih menatap tajam Magma.


"Berhenti menatapku seperti itu atau aku akan mengambil adikku darimu!!"


BUGH


Yura melempar bantal di tangannya tepat ke wajah Magma. Magma mendengus kasar melihat bantal itu tergeletak di lantai.


"Enak sekali kau bicara ya! aku saja tidak menganggapmu kakaku!!"


"Dia ... kakakmu?" tanya Winter.

__ADS_1


Yura kemudian berbalik menatap suaminya. "Kita bicara di tempat lain saja!"


Yura menarik tangan Winter keluar dari kamar, Winter dan Magma saling menatap sejenak sebelum Winter keluar dari kamar Yura.


*


Yura menceritakan semuanya kepada Winter tentang Magma. Magma yang tiba-tiba menjadi kakaknya, Magma yang akan tinggal bersama Benjamin dan Bayuni.


Dan Winter juga menceritakan tentang kematian uncle Nicholas yang terjadi akibat tembakan dari pistol Magma.


Yura terbelalak mendengar cerita itu sampai menutup mulutnya tak percaya.


"K-kau tidak bohong?" tanya Yura.


Winter menggeleng.


"Tapi kenapa Magma tidak di laporkan ke polisi?" tanya Yura.


"Dia mafia seperti Ayahku," sahut Winter.


"Oh, dia mafia belum taubat ya ... pantas saja punya pistol."


"Bertemu dia dimana?" tanya Winter kemudian.


Kemudian seseorang berdehem dengan memegang gelas doraemon berwarna biru. Magma duduk di depan mereka, Yura mengerutkan dahinya kesal dengan mulut setengah terbuka, karena gelas doraemon itu gelas kesayangannya.


Magma meneguk coffe di gelas tersebut lalu menyimpan gelasnya di meja.


"Itu gelasku!"


"Lalu?" tanya Magma.


"Kau tidak boleh memakai milik orang lain!"


"Ini hanya gelas!!"


"Tapi itu hadiah ulang tahun dari Mommy!"


"Cih, hadiah kok gelas," gumam Magma.

__ADS_1


Winter menarik diri dari duduknya hendak mengambil gelas tersebut di meja tapi Magma lebih dulu mengambilnya.


"Jangan ikut campur!" hardik Magma mendelik kepada Winter.


"Berikan kepadanya, itu hanya gelas!"


"Aku tau," sahut Magma kembali meneguk coffe nya.


"Yura ..." panggil Magma seraya kembali menyimpan gelasnya di meja.


"Hm?" Yura menjawab dengan tangan bersedekap dada.


"Lima tahun yang lalu, suamimu seharusnya mati."


"Aku sudah tau semuanya, berhenti membahas itu. Kalau kau berani mengusik keluarga De Willson aku akan melaporkanmu kepada Daddy ..."


"Daddy lagi Daddy lagi ..." ledek Magma.


"Kau kalau bertemu Daddy Maxime, kau mati di tangan dia tau!!"


"Oh iya?" Satu alis Magma terangkat naik. "Menjadi lawan Maxime lebih menyenangkan dari suamimu yang bukan penerus Yakuza ..." lanjut Magma menatap Winter.


"Merasa jadi orang hebat, tapi hidupmu menyedihkan," ledek Winter seraya memalingkan wajahnya ke arah lain seakan jijik dengan wajah Magma.


"Hahahaha ..." Yura tertawa. "Kau dengar, kau menyedihkan!"


Winter mengatakan demikian karena mendengar semua cerita soal Magma dari Yura.


"Kalau bukan karena Yura aku sudah membunuhmu," hardik Magma dengan geram.


"Kenapa lagi ini ..." Bayuni berjalan menghampiri mereka. Ia duduk di samping Magma, Bayuni bisa merasakan suasana yang cukup tegang antara Magma dan Winter.


"Kenapa Magma?" tanya Bayuni seraya menepuk paha Magma.


"Tidak nyonya," sahut Magma.


"Hei, panggil Mom dong," ucap Bayuni.


"Jangan-jangan ... sudah mengambil Daddy ku jangan ambil Mommy ku juga dong!" kesal Yura tidak terima.

__ADS_1


"Iya Mommy ..." ucap Magma menggoda Yura agar semakin kesal.


Bersambung


__ADS_2