
"Gosok ... gosok ... gosok ... wuahahah ... kelual Yula ..."
Kesekian kalinya, anak itu kembali menggosok guci Yura. Ia berpikir bertemunya Yura tadi siang karena kemarin ia menggosok guci gadis itu.
"Reagan ..." panggil Winter yang baru saja masuk kamar. "Mandi dulu."
Reagan menoleh. "Oke Dad." Anak itu masuk ke kamar mandi. Winter tersenyum melihat guci di atas meja yang di gosok putranya tadi.
Kemudian pria itu masuk ke kamar mandi dan memandikan Reagan dengan tertawa. Sesekali menyemprot badan anak itu dengan shower lalu memasukan Reagan ke bath up dengan mobil-mobilan miliknya.
Selesai memandikan Reagan, mereka makan bersama dengan Reagan yang sedang makan mangga. Mulutnya belepotan dan itu membuat Winter terkekeh pelan.
"Nanti malam tidur di mansion Daddy Summer dulu ya," ucap Winter.
"Gak ah," sahut Reagan sambil mengunyah mangga.
"Kenapa?"
"Mau sini aja," sahut Reagan kembali.
"Tidak mau bertemu dengan Mommy Intan?"
"Gak ah." Reagan menusuk-nusuk mangga di mangkuk.
"Reagan ..." peringat Winter yang merasa anak itu dari tadi asal menjawab.
Reagan mendongak menatap Winter. "Hehehe." Ia mengayun-ngayunkan kakinya yang tergantung
"A-ada ... ada Lea sama Mommy."
Reagan sudah tahu kalau Winter adalah pamannya yang seperti seorang Ayah. Dia tahu orang tua kandungnya adalah Summer dan Intan, bahkan ia tahu kalau dirinya berada di mansion Winter karena menemani pria itu yang sendirian. Dia cukup mudah di beri pengertian tapi anak itu lebih dekat dengan Winter dari pada Summer.
Pernah satu hari menginap di mansion Summer, tengah malam ia terbangun dan menangis histeris mencari Winter. Alhasil tengah malam Winter bangun dan pergi ke mansion Summer setelah di telpon.
*
Selesai makan mereka kembali ke kamar, Reagan duduk di atas karpet dengan mainan mengelilingi tubuhnya.
__ADS_1
Sementara Winter duduk di tepi ranjang lalu mengambil guci istrinya. Ia mengambil tissue dan membersihkan guci itu, walaupun sudah bersih ia hanya memastikan tidak ada sedikitpun debu yang menempel di sana.
Rindu itu selalu ada setiap harinya Yura ...
Reagan berdiri pergi ke balkon sambil menerbangkan pesawat mainan. Tapi ketika di balkon ia berhenti dan menatap perempuan yang berdiri di depan gerbang mansion. Perempuan itu melambaikan tangan ke arahnya.
Reagan langsung berbalik dan berlari memanggil Winter.
"Daddy ada Yula ..."
Winter menoleh lalu menyimpan guci itu di meja dan menghampiri putranya.
"Ada apa?"
"Ada Yula. Ayo ..." Reagan menarik jari telunjuk Winter ke balkon dengan kaki kecilnya yang berlari.
Tapi sayang, dia tidak melihat apapun di sana. Perempuan yang Reagan lihat tidak ada.
Reagan menghembuskan nafas kecewa. "Yaaahhh ... Dah pelgi, Yula ..."
"Yula dah keluar di kuci, Dad." (Yura udah keluar dari guci, Dad)
Winter tidak menjawab, ia hanya tersenyum seraya mengacak-ngacak gemas kepala Reagan.
*
Julian bersiul santai setelah keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil melilit di bagian bawah tubuhnya.
Tapi ketika ia membuka pintu kamar Julian melebarkan mata melihat perempuan memegang pisau berdarah di tangannya.
"Y-Yura ..."
Perempuan itu berjalan perlahan mendekati Julian. Julian menelan Saliva nya susah payah dengan keringat dingin yang mulai keluar dari pelipisnya, ia terus mundur dengan tubuh gemetar.
"Y-Yura ... kau masih hidup."
Perempuan itu mengangkat pisau di tangannya membuat mata Julian membulat sempurna lalu pria itu pun jatuh pingsan.
__ADS_1
*
"Sumpah bos, sumpah! aku melihatnya tadi!! dia di kamarku membawa pisau. Yura gentayangan bos!!"
PLETAK
Summer langsung menyentil kening Julian dengan keras membuat Julian menggosok keningnya yang terasa perih.
"Akhh!!"
"Kenapa tidak ada yang percaya denganku sih, kalau aku memberitahu Tuan Winter, dia juga pasti tidak akan percaya," gumam Julian sambil terus menggosok keningnya.
"Aku saja tidak percaya sial*n. Berani sekali kau mau memberitahu Winter dan bilang Yura gentayangan!!"
"Tapi aku serius bos!!"
"Sudah pergi sana, buang-buang waktu saja datang ke sini!!"
Summer pun beranjak dari duduknya naik ke kamarnya. Ia memilih bermain dengan Alea saja dari pada mengurusi sekretaris anehnya ini.
Julian menghembuskan nafas menatap kepergian bos nya. "Apa aku harus mencari dukun untuk mengusir Yura ..."
Summer masuk ke kamar dan langsung membawa Alea dari gendongan istrinya.
"Kenapa sayang?" tanya Intan
"Julian, dia sakit jiwa. Bilang Yura gentayangan," sahut Summer sambil menepuk-nepuk bayi perempuannya yang sedang tertidur.
"Astaga ..." Intan menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Sekretarismu itu emang aneh ya."
"Memang."
"Kau tahan punya sekretaris seperti dia," sahut Intan sambil terkekeh pelan.
"Tapi dia selalu ada untukku dari dulu. Sebelum aku menikah denganmu, sekarang saja kasihan sendirian di apartemen jadi sering berhalusinasi di ganggu Yura."
#Bersambung
__ADS_1