Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#74 ingatan kembali ...


__ADS_3

Yura di paksa diam di kamarnya oleh Benjamin dan Bayuni, dia tidak boleh keluar mansion sama sekali, sekalipun keluar dia hanya boleh ke mansion Ayahnya atau ke mansion mertuanya. Dan itu pun harus di antar oleh Winter.


Yura hanya duduk di ranjang meluruskan kakinya dengan bosan, ini masih sore, Yura ingin jalan-jalan tapi kedua orang tuanya terus melarangnya. Gadis itu sesekali membaca novel, ketika sudah bosan dengan novel Yura menonton film, terus seperti itu sampai akhirnya Winter datang membawa semangka untuk Yura.


Winter duduk di sisi ranjang dan menyuapi Yura semangka menggunakan garpuh.


Ketika mengunyah semangka di mulutnya, ingatan Yura memutar kejadian tadi pagi, Winter menc*umnya, cium*n itu bukan sekedar kecupan biasa. Bahkan Yura ingat Winter hampir membuka kancing bajunya.


"Kenapa?" tanya Winter melihat Yura melamun.


"Yura ..."


"Eh, iya?" Yura mengerjap.


"Kenapa?" ulang Winter.


"T-tidak ..."


Winter kembali menyuapi semangka ke mulut Yura. Setelah selesai ia menyimpan piring nya di meja.


"Mau mandi?" tanya Winter yang di jawab anggukan dari Yura.


"Tapi bukan mandi di kasur," ucap Yura ketika melihat Winter beranjak dari duduknya.


Winter pun kembali duduk. "Baru transfusi darah, biar aku saja yang mengelap tubuhmu ..."


"Tapi aku---"


Belum selesai bicara Winter sudah lebih dulu masuk ke kamar mandi. Terdengar suara kran air, Winter sedang mengisi wadah dengan air hangat. Dan seperti biasa ia mengambil lap tubuh dan facial wash milik gadis itu kemudian keluar dari kamar mandi.


Melihat Winter berjalan ke arahnya, Yura langsung memalingkan wajahnya.


Kenapa aku deg-degan ya sekarang, bagaimana kalau dia mau melanjutkan yang tadi di Rumah Sakit.


Winter menarik dagu Yura pelan agar menatap ke arahnya lalu mengikat rambut Yura terlebih dahulu. Winter memberikan sikat gigi kepada gadis itu, Yura menyikat giginya lalu berkumur-kumur ke wadah yang lain.


Setelah itu Winter membasuh wajah Yura dengan lembut, menuangkan facial wash ke telapak tangannya dan memijat lembut wajah istrinya.


"Winter, kau cocok kerja di salon kecantikan," ucap Yura seraya terkekeh pelan.


"Kau satu-satunya pasienku," sahut Winter membuat senyum di wajah Yura semakin mengembang.


Setelah selesai dengan wajah istrinya. Tangan Winter pun hendak membuka kancing baju Yura tapi Yura menahannya.


"Diamlah ..." Winter menepis pelan tangan gadis itu.

__ADS_1


Kemudian pakaian atas Yura pun terbuka. Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri, walaupun ini bukan kali pertama Winter membasuh badannya tapi Yura tetap merasa malu.


Winter kembali menepis tangan Yura. Kali ini Yura tidak memberontak. Pria itu mengelap tubuh istrinya dengan lembut, Yura berdehem seraya memalingkan wajahnya ketika bu*h d*da nya di elus lembut oleh Winter.


Tapi Winter sendiri malah memasang wajah datar seakan memandikan istrinya di ranjang tidak membuat n*fsu nya naik.


Pria itu hendak menurunkan celana Yura untuk membersihkan bagian bawah tubuh istrinya. Lagi-lagi Yura sempat menolak dengan menggelengkan kepala dan menahan tangan Winter.


Winter menatapnya dengan menepis tangan Yura lalu kembali melepas celana gadis itu.


Yura diam-diam mengigit bibir bawahnya dengan memalingkan wajah ketika ia merasa cara Winter mengusap pahanya berbeda dari biasanya. Menggelikan.


"S-sudah ... sudah ..." Yura merasa ada yang tidak beres dengan Winter. Ia segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Belum bersih," ucap Winter.


"Eum, sudah. Sudah bersih ..."


"Belum Yura ..." Winter hendak menarik kembali selimutnya.


"Tidak, jangan." Sergah Yura dengan menahan selimutnya.


Winter menghela nafas kemudian wajahnya mendekati wajah Yura. "Aku tidak punya penyakit kelamin Yura ..."


Yura melebarkan matanya dengan menelan salivanya susah payah kemudian Winter segera menc*um gadis itu.


"A-aku hanya bercanda tadi pagi Winter hehe. Jangan di anggap serius ya ..."


Apa dia tersinggung karena ucapanku tadi pagi soal dia punya penyakit kelamin jadi tidak mau menyentuhku. Tapi sekarang aku malah takut di sentuh olehnya.


"B-bisa ambilkan aku baju?" pinta Yura yang di jawab gelenggan dari Winter.


"Tapi aku kedinginan ..."


Bukan baju yang di dapatkan Yura melainkan cium*n lagi. Winter beralih menc*um leher Yura membuat gadis itu menahan diri untuk tidak mendes*h dengan mengigit bibir bawahnya.


Tangan Winter menyibakan selimut yang menutupi tubuh istrinya. Pria itu naik ke ranjang perlahan dan terus menc*umi Yura.


Yura hanya memejamkan mata dan pasrah dengan tubuhnya. Winter melakukannya dengan pelan dan hanya satu kali pelepasan, itupun memakai pengaman agar istrinya tidak hamil.


Mereka kini telanj*ng berdua di bawah selimut. Menatap langit-langit kamar dengan hening, Yura menoleh.


"Winter ..." panggilnya.


Winter langsung membalikkan tubuhnya menyamping memeluk istrinya. "Hm?" sahutnya dengan suara berat.

__ADS_1


"Kakiku sakit ..." ucap Yura pelan.


Winter menarik ujung bibirnya tersenyum diam-diam kemudian tangannya masuk ke dalam selimut dan memijit paha Yura di bawah sana.


"T-tidak ..." Yura menepis tangan Winter di dalam selimut.


"Kenapa?"


"Sudah tidak sakit," sahut Yura.


Pintar sekali cari kesempatan si musim dingin ini.


Disaat Winter mandi, Yura beranjak dari ranjang dan berjalan ke balkon kamarnya. Ini sudah hampir malam hari, terlihat senja berwarna kuning menghiasi langit, membuatnya indah dan cantik.


Yura berdiri memegang pagar balkon seraya tersenyum. Ia menghela nafas panjang, keindahan di depan mata seakan ingin Yura hirup masuk ke tubuhnya.


Sampai akhirnya gadis itu merasa kepalanya sakit. Ia memekik kesakitan dengan memegang kepalanya sendiri.


"Satu ..."


"Dua ... Ayo Letta ..."


"Tiga." Letta.


"Empat." Summer.


"Lima. Ayo cepat Summer sebentar lagi mataharinya tidur."


"Enam." Summer.


"Tujuh, sedikit lagi Summer!!"


"Delapan." Summer.


"Sembilan." Letta.


"Sepuluh ..." ucap Summer dan Lita bersamaan.


"Aku nanti sekolah di sini Letta ..."


"Ini, ikan untukmu dan keluargamu ..." Letta memberikan satu ikan ukuran sedang untuk Summer.


"Astaga Letta ... kok di kasih satu sih!" pekik Ayura.. "Yang banyak dong ..."


"Hehe iya, Ma ..."

__ADS_1


"Mama ..." Yura terbelalak ketika ada ingatan masuk ke dalam pikirannya.


bersambung


__ADS_2