Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#44


__ADS_3

Summer dan Yura bermain di pantai, bercerita banyak hal atau berlarian mengejar ombak. Ombak nya tidak terlalu tinggi, tidak menyebabkan trauma Yura kembali kambuh.


Mereka saling melempar pasir dengan tertawa, pakaian mereka basah tapi mereka terhibur satu sama lain. Yura melupakan larangan Winter yang meminta gadis itu untuk tidak banyak aktivitas karena Yura akan mudah lemas tiba-tiba.


Efeknya belum terasa, gadis itu bermain bola bersama Summer sekarang. Bukan hanya berdua, ada beberapa anak kecil pemilik bola yang juga ikut bermain.


Tidak ada lawan dalam bermain bola, mereka hanya berlomba memperbanyak memasukan bola ke gawang yang di jaga salah satu anak kecil.


"Yeaayyyy ..." Yura meloncat-loncat senang ketika bola yang di tendang berhasil masuk gawang.


Summer tersenyum seraya memercak pinggang, pelipisnya penuh dengan keringat.


"Aku akan mengalahkan mu Yura, jangan bangga dulu!" Summer menunjuk wajah Yura dengan percaya diri.


"Coba saja kalau bisa wle." Yura menjulurkan lidahnya.


Beberapa anak itu memilih menjadi supporter, mereka menyemangati Summer dan Yura yang tengah berebut bola.


Sampai akhirnya, Summer juga berhasil memasukan bola ke gawang. Summer tersenyum bangga menatap Yura.


"Huh baru satu kali juga bangga!"


"Kau juga baru satu kali Yura!"


Mereka kembali bermain sampai di rasa tubuhnya benar-benar kelelahan, mereka membeli kelapa, meminumnya di bebatuan pinggir pantai.


"Kau berkeringat Yura." Summer mengusap kening Yura dengan punggung tangannya.


"Terimakasih," ucap Yura karena Summer menyeka keringatnya.


"Yura ..."


"Hmm?"


"Kita hitung senja bagaimana?"


"Oh iya. Aku lupa, aku juga mau mencoba itu. Kau tau aku mendapatkan pesan aneh dari seseorang."


"Oh iya? siapa?" tanya Summer pura-pura penasaran karena sebenarnya dirinya lah yang mengirim pesan itu.


"Sebentar." Yura menyimpan kelapa nya di batu. Ia merogoh ponsel di sakunya, tapi ternyata ia lupa, ponselnya ada di dalam tas di mobil Summer.


Yura menatap Summer. "Ah aku lupa ... hp ku di mobilmu. Intinya si pengirim itu menyuruhku menghitung matahari tenggelam, aneh bukan. Dia juga bilang jangan beritahu Winter."


"Yasudah, mumpung Winter belum ada. Kita hitung hari ini, kau tidak penasaran kenapa dia menyuruhmu melakukan itu ..."


"Iya sih, tapi kan senja masih lama. Empat jam lagi," ucap Yura setelah melihat arloji di pergelangan tangannya.


"Tidak apa-apa, kita tunggu di sini. Atau kita cari makan dulu."


Yura mengangguk kemudian kembali menyeruput air kelapa nya melalui sedotan.


Summer merogoh sesuatu di dalam saku celananya, kalung yang ia bawa dari Italy. Dulu kalung itu hendak di berikan kepada Letta, tapi Letta menolak karena kalung itu terlalu mewah


Dan kalungnya milik Milan, sang Ibu. Entah karena keluarganya terlalu kaya atau Milan terlalu baik, ketika Summer yang saat itu berusia sepuluh tahun meminta salah satu kalung milik Ibunya, tanpa basa-basi Milan malah memberikan kalung itu.


"Yura ..." panggil Summer.


Yura menoleh dan mendapati kalung menggantung di depan wajahnya. Kalung liontin yang begitu cantik.

__ADS_1


Kemudian gadis itu menatap Summer dengan satu alis terangkat.


"Kau, pernah melihat kalung ini tidak?"


Yura mencoba mengingat-ngingat dengan menatap kalung itu. Tapi ingatan tentang kalung itu tidak muncul sama sekali, seakan ini kali pertama Yura melihatnya.


Summer menghembuskan nafas ketika melihat Yura menggelengkan kepalanya.


"Yakin?" tanya Summer memastikan.


"Ya, aku tidak pernah melihatnya. Itu kalung yang sangat cantik, darimana kau mendapatkannya Summer?"


Summer kembali menyimpan kalung itu di saku celananya dengan kecewa karena Yura tidak ingat apapun, padahal Summer yakin Yura itu Letta. "Ini punya Ibuku."


Kalau punya Mommy Milan kenapa dia menunjukannya kepadaku.


"Yura kau yakin tidak pernah melihatnya?" Summer masih belum puas dengan jawaban Yura.


"Iya, aku yakin."


"Atau bagaimana ..." Summer kembali mengambil kalung nya dan memberikannya kepada Yura. "Ini, untukmu saja."


"Loh, kenapa jadi untukku?" Yura heran menatap bergantian kalung di tangannya dengan Summer.


"Simpan saja, siapa tau kau mengingat sesuatu nanti."


Yura terus menatap kalung di tangannya sampai ia merasa kepalanya sakit, sakitnya menjalar begitu cepat. Yura merintih kesakitan lalu memasukan kalung nya ke saku celananya.


"Yura, kau kenapa?" Summer memegang pundak gadis itu dengan khawatir.


Apa jangan-jangan dia mulai ingat sesuatu, kepalanya sakit setelah melihat kalung itu.


Yura menggeleng.


"Coba pelan-pelan, mungkin kau mengingatnya Yura."


Summer salah mengartikan sakit kepala gadis itu. Ia hanya berpikir itu proses dari Letta yang hilang ingatan agar ingatannya kembali muncul, padahal itu terjadi karena Yura kelelahan dan efek kemoterapi yang masih sering muncul.


"Yura kau pasti mengingatku, kau--"


"YURA!!" Teriak seseorang.


Winter berlari menghampiri Summer dan Yura. Wajahnya terlihat khawatir melihat Yura dari kejauhan terlihat kesakitan memegangi kepalanya.


"Yura ..." Winter langsung meraup wajah gadis itu yang pucat.


"Kenapa dia bersamamu?" Winter mendelik ke arah Summer.


"Aku bertemu dengannya di jalan tadi."


Winter langsung menggendong gadis itu, ternyata baju Yura juga basah. Summer mengikutinya dari belakang.


Ketika membawanya ke mobil, Yura langsung mengigil kedinginan dengan sedikit demam.


"Pulang saja!" ucap Winter setelah memasukan Yura ke dalam mobil.


"Tapi dia baik-baik saja kan?" tanya Summer.


Winter hanya menganggukan kepala lalu masuk ke balik kemudi, mobil pun melaju meninggalkan Summer sendirian.

__ADS_1


*


Di jalan Winter menyetir dengan menelpon Dokter Leon untuk datang ke mansionnya, jantungnya memburu cepat melihat Yura mengigil di sampingnya dengan memeluk tubuhnya sendiri.


Ketika sampai, Winter langsung menggendong Yura ke kamar dan menidurkannya di ranjang.


Winter membuka lemari dengan tergesa-gesa, mengambil satu set baju lalu kembali menghampiri Yura.


"Dingin ..." lirih Yura.


"Sebentar ya, ganti dulu bajunya."


Winter membuka baju gadis itu, tapi ketika hendak membuka pakaian dalam Yura, gadis itu menahan tangan Winter dengan menggeleng pelan.


"Diam!" ucap Winter dingin.


Winter menepis tangan Yura pelan, lalu membuka semua baju gadis itu sampai celananya pun ia buka dan mengganti pakaiannya dengan yang baru. Winter melakukannya dengan sangat cepat karena Yura terus mengigil.


Setelah selesai, Winter membantu Yura untuk duduk dan memberikannya obat seraya menunggu kedatangan Dokter Leon.


Setelah minum obat Yura berbaring kembali, Winter menghampiri pintu setelah mendengar suara ketukan. Ternyata Dokter Leon sudah di depan kamarnya.


Beliau masuk dan langsung mengecek keadaan Yura.


"Sudah di beri obat?" tanya nya seraya menempelkan stetoskop di dada gadis itu.


"Sudah," sahut Winter.


Setelah selesai mengecek keadaan Yura. Dokter Leon pun berbalik. "Saya sudah bilang, dia tidak boleh banyak melakukan aktivitas, tubuhnya mudah kelelahan. Tekanan darahnya sudah pasti sangat kurang, kalau terus-terusan seperti ini dia harus transfusi darah."


"Dia main di pantai tadi," sahut Winter membuat Dokter Leon berdecak.


"Siang hari di pantai cukup panas, apalagi kalau badannya basah, sudah pasti dia akan merasa kepalanya pusing dan sakit. Kalau mau ke pantai pagi saja, karena angin malam juga tidak cukup bagus untuk kesehatan."


"Dia harus banyak istirahat dan makan makanan yang sehat."


Winter mengangguk paham. Menoleh ke arah Yura yang kini tertidur.


"Kalau begitu saya pulang dulu." Dokter Leon keluar dari kamar setelah Winter mengangguk kepalanya.


Setelah kepergian Dokter Leon barulah Winter merasa bisa menghela nafas dengan lega, tadi jantungnya seakan berpacu dengan waktu saat membawa Yura dari pantai ke mansion dalam keadaan tubuhnya yang mengigil.


Pria itu masuk ke kamar mandi, hanya untuk mencuci muka agar air dingin bisa membuatnya merasa lebih tenang.


Setelah itu Winter mengambil pakaian Yura yang tadi di simpan di wastafel, ia hendak memasukannya ke keranjang pakaian kotor di luar kamar mandi tapi sesuatu jatuh dari celana Yura.


Winter mengambil kalung itu di lantai, menatap kalung yang sepertinya ia tahu pemilik kalung tersebut.


"*Mom aku boleh minta kalungnya satu?" pinta Summer kepada Milan.


"Ini ..."


"Terimakasih Mom." Summer tersenyum senang, keluar dari kamar diikuti Winter.


"Kalung untuk siapa?" tanya Winter.


"Temanku," sahut Summer*.


Winter menggenggam kalung itu di tangannya, kenapa kalung yang di minta Summer saat kecil ada di tangan Yura.

__ADS_1


#Bersambung


__ADS_2