
"Magma kau ..." Mata Benjamin menatap tak percaya pria di depannya. Meneliti pria itu dari atas sampai bawah.
"Permisi ..." Dokter Rico masuk dengan tersenyum. Mereka semua menoleh, Dokter Rico duduk bergabung bersama mereka.
"Kau ..." Benjamin menatap Dokter Rico.
"Perkenalkan, saya Dokter Rico Tuan. Saya Dokter yang memeriksa hasil tes DNA mu dengan Tuan Magma."
"Tes DNA?" ucap Bayuni heran. "Kapan kau melakukan tes DNA sayang?" tanya nya kepada Benjamin.
Benjamin menggelengkan kepala. "Saya tidak pernah melakukan tes DNA," sahutnya kepada Dokter Rico.
Dokter Rico menjelaskan. "Jadi begini Tuan, hari itu anda baru pulang bekerja lalu mobil anda mogok tiba-tiba karena ban nya kempes dan---"
.
"Dan dia memukulmu dari belakang!" potong Magma menunjuk Dokter Rico.
Dokter Rico sontak melebarkan matanya lalu menggelengkan kepala. "T-tidak, bukan saya Tuan."
"Kau ...!!" Benjamin hendak melempar sepatunya ke kepala Dokter Rico tapi Bayuni segera menahannya. Magma menahan tawa, Dokter Rico menahan kekesalannya karena jelas-jelas Magma lah yang memukul Benjamin menggunakan kayu.
"Sabar sayang, kita dengarkan dulu penjelasan mereka," ucap Bayuni menenangkan suaminya.
Benjamin menghela nafas dan mengeluarkannya perlahan menahan amarah kepada Dokter Rico.
"Bisa di lanjutkan ..." pinta Bayuni.
Akhirnya Lail lah yang menjelaskan. "Saat pemukulan itu kami meminta maaf, Tuan. Kami sangat membutuhkan sampel darahmu untuk Tes DNA, kalau kami minta secara baik-baik kepadamu, kami takut kau menolak. Setelah di lakukan pemeriksaan, hasilnya positif. Tuan Magma adalah putra tunggal Nyonya Rhea ..."
"Ya, hasil perzinahanmu dan si jal*ng Rhea," gumam Dokter Rico menunduk sambil menggosok hidungnya agar ucapannya barusan tidak terdengar Magma.
Benjamin dan Bayuni saling menoleh kemudian menatap Magma.
"K-kau ... Magma Mahavir?"
Magma mengangguk pelan.
"Astaga ... Magma ..." Benjamin beranjak mendekati Magma dan memeluk putranya itu dengan terisak.
Ini di luar dugaan Magma, ia pikir dirinya akan di tolak oleh Benjamin sebagai putranya, tapi ternyata Benjamin memeluknya dengan erat sambil menepuk-nepuk punggung Magma membuat Lail dan Dokter Rico terheran.
"Magma ... kau sudah tumbuh dewasa sekarang ..." ucap Benjamin setelah melepas pelukannya.
__ADS_1
"Bukan dewasa lagi dia sudah tua," gumam Dokter Rico sambil memalingkan wajahnya.
Bayuni terdiam menatap teduh ayah dan anak itu seraya tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Bisa kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" pinta Magma menatap bola mata Ayahnya.
Benjamin menatap mata Magma dengan berkaca-kaca kemudian menganggukan kepala.
Hari itu Benjamin keluar dari Rumah Sakit dengan pikiran kalut ketika sang kekasih, Bayuni baru saja melakukan tindakan pengangkatan rahim karena menderita kanker serviks yang membuat rahimnya harus di angkat agar sel kanker tidak menyebar ke organ lain. Hal itu menyebabkan Bayuni selamanya tidak bisa mempunyai anak.
Benjamin yang sangat mencintai Bayuni tidak mungkin meninggalkan kekasihnya itu, tapi di sisi lain Benjamin sangat menginginkan anak kelak ketika mereka menikah.
Saat itu Benjamin masih muda, dia melampiaskan semuanya dengan meneguk banyak minuman beralcohol di sebuah klab dan meninggalkan Bayuni yang masih tak sadarkan diri di Rumah Sakit selepas operasi.
Rhea sendiri sedang menarik bersama Vivian, merayakan kebahagiaannya mendengar Aberto tidak bisa memiliki keturunan.
"Aku ke kamar mandi dulu ya," ucap Vivian.
Rhea mengangguk dan kembali berjoged dengan yang lain.
"Wuhuuuu ... aku tidak akan punya anak dari si tua itu!!"
Rhea menari dengan penuh energi mengikuti alunan musik di klab.
"Bayuni ..." Benjamin meracau memanggil nama kekasihnya.
"Hei kau siapa!!" Rhea mendorong tubuh Benjamin ke dinding.
Rhea hendak pergi tapi tangannya langsung di cekal kuat oleh Benjamin.
"Lepaskan!! lepaskan sial*n, kau siapa!!" teriak Rhea dengan berusaha menepis tangan Benjamin.
"Bayuni ayo kita punya anak ..."
Benjamin menarik tangan Rhea, perempuan itu masuk ke dalam pelukannya, Benjamin langsung menyeret tubuh perempuan itu masuk ke sebuah kamar.
Sia-sia Rhea berteriak karena musik di klab sangat keras, bahkan memberontak pun sangat sulit karena tubuh Benjamin yang lebih besar dan tinggi dari dirinya.
"Lepaskan aku!! tidak, jangan lakukan itu!! tolong ...!!"
Rhea terus berteriak ketika tubuhnya di tindih oleh Benjamin. Pria itu terus menc*umi leher Rhea.
Sampai akhirnya malam itu terjadi, Benjamin meniduri Rhea yang dia pikir sang kekasih Bayuni.
__ADS_1
"RHEA KAU DIMANA!!"
"RHEA!!'"
Vivian berteriak, mencari-cari sahabatnya dengan gelisah, ia menggedor pintu kamar membuat mereka yang berada di dalam kamar keluar dengan kesal karena olahraga malam mereka dengan para jal*ng terganggu.
Vivian pindah dari satu kamar ke kamar yang lain. Menggedor pintu kamar mereka dan ketika yang keluar bukan Rhea, ia kembali mencari kamar yang lain.
Sampai tibalah Vivian di kamar yang paling ujung, ia menggedor pintu yang terkunci itu. Tidak ada yang keluar dan tidak ada sahutan dari orang yang berada di dalam kamar.
"RHEA, APA KAU DI DALAM!!"
"RHEA JAWAB AKU!!"
"RHEA ..."
Vivian terus memainkan knop pintu. Dan terdengar suara tangisan dari dalam kamar membuat Vivian terkejut, perempuan itu berlari meminta bantuan kepada pria yang sedang berjoged di ruangan lain*.
Beberapa orang membantu Vivian, mengikuti perempuan itu ke sebuah kamar dan mendobrak pintu kamar setelah beberapa kali menggedor dengan keras.
"BENJAMIN!!" teriak salah satu pria di sana.
Vivian langsung memeluk sahabatnya yang duduk dengan memeluk tubuhnya sendiri dengan terisak, bagian bawahnya di halangi selimut.
"BENJAMIN APA YANG KAU LAKUKAN SIAL*N!!" ucap salah satu pria yang berteman dengan Benjamin. Pria itu tahu Benjamin dan Bayuni sudah menjalin hubungan sangat lama dan mereka saling mencintai, ia begitu kaget melihat temannya tak sadarkan diri dengan perempuan lain di kamar klab.
"D-dia, memperk*saku ..." lirih Rhea yang menangis di pelukan Vivian.
Pria itu melebarkan mata. "Benjamin Anj*ng kau!!"
Ia memukul Benjamin yang setengah sadar, Benjamin tidak melawan, ia malah terus meracau memanggil nama Bayuni.
Pukulan terus bersarang di tubuh Benjamin dari beberapa pria yang berada di kamar, tapi Benjamin malah tertawa dengan menangis.
Kekasihnya tak bisa mengandung di masa depan membuat Benjamin hari itu benar-benar depresi.
"Hari itu, Dad benar-benar merasa bersalah kepada Rhea. Apalagi ketika tahu Rhea hamil, Dad mau bertanggung jawab dengan mengambil mu dari Rhea ketika kau sudah lahir. Karena Bayuni juga sangat menginginkanmu, dia tidak marah ketika tau Dad menghamili perempuan lain. Tapi Aberto juga menginginkan mu ..." Benjamin tersenyum getir mengenang kesalahannya di masa lalu.
Mereka yang mendengar cerita dari Benjamin hanya bisa terdiam.
"Dimana Rhea dan Aberto sekarang?" tanya Benjamin menatap putranya.
"Mereka sudah mati ..." sahut Magma membuat Benjamin melebarkan matanya tak percaya.
__ADS_1
Bersambung