
Yura sedang di dandan oleh perias jenazah. Wajahnya yang pucat kini sangat cantik dengan make up natural yang terakhir kalinya.
Winter duduk di dekat peti jenazah. Dengan tatapan kosong ia hanya menunduk menatap wajah istrinya yang sedang di make up sambil mengelus tangan Yura.
Yura memakai gaun pengantin yang di pakai saat pernikahan mereka dulu. Rambutnya di tata sama persis dengan Yura di hari pernikahan. Bedanya, hari itu Yura memakai gaun cantik dengan tersenyum dan tertawa tapi hari ini gaun itu di pakai dengan Yura yang telah menutup matanya.
Sebelumnya Winter mengamuk histeris ketika semua orang hendak membawa Jenazah Yura. Tapi sang Ibu, Milan terus mencoba memberikan pengertian kepada Winter. Kasihan Yura jika jenazah nya belum di urus, alhasil Winter menyerahkan istrinya untuk di bawa ke gereja.
"Aku lupa, siapa namamu tadi?"
Winter mengingat hari dimana Yura menanyakan nama dirinya ketika hendak mengucapkan sumpah pernikahan di depan pendeta. Winter tersenyum getir mengingat itu.
Rasanya baru kemarin kau menanyakan namaku di hari pernikahan. Sekarang aku harus melihatmu tidur di hari pemakaman, Yura ... kau sangat cantik sama seperti hari dimana kita menikah ...
Bayang-bayang Yura yang selalu tersenyum, tertawa begitu ceria seakan masuk ke pikiran Winter dan tinggal di sana. Bayangan itu terus berputar-putar seperti kaset yang menayangkan semua kenangan indah.
Sejujurnya aku tidak mau mengingat kenangan buruk hari ini. Melihatmu terbaring tanpa melihat mataku sangat sakit Yura ... tapi aku bisa apa? kita biasanya ke gereja untuk berdoa, tapi sekarang aku datang berdoa sendirian untukmu yang sudah tiada ...
Terakhir kali Winter mendengar suara istrinya yaitu ketika Yura keluar dari kamar yang ada di kantor. Gadis itu berdiri dalam keadaan setengah sadar sambil bertanya.
"Kapan kita pulang?"
__ADS_1
"Sebentar lagi," sahut Winter yang kemudian menggendong istrinya dan Yura pun kembali tidur di pangkuan Winter sampai hari ini.
Winter tidak sadar, jika ucapan Yura itu pertanda gadis itu akan pulang. Bukan ke mansion tapi pulang meninggalkannya.
Maxime datang mengusap punggung Winter. "Maafkan, Dad ..." lirih Maxime yang merasa semua kejadian ini akibat karma dari kesalahannya di masa lalu.
Winter tidak menjawab ataupun menoleh, ia terus mengelus punggung tangan Yura. Bukan hanya Maxime yang dari tadi berusaha bicara dengan Winter, sudah banyak orang yang mencoba mengajak Winter berbicara tapi pria itu tetap diam.
*
Ketika peti jenazah di bawa keluar setelah Yura selesai di make up. Tangis keluarga De Willson dan keluarga Benjamin sampai sahabat Yura pecah seketika memenuhi seisi ruangan.
Para wartawan turut hadir memberi belasungkawa juga merekam kejadian di gereja setelah mendapat izin dari Maxime.
Foto itu di berikan kepada Milan lalu Milan menyimpannya di depan peti yang di penuhi bunga berwarna putih.
Sebelum doa di lakukan, pendeta membolehkan orang-orang yang mengenal Yura untuk berbicara terakhir kalinya dengan gadis itu walaupun gadis itu tidak bisa menjawab.
Yang pertama maju mendekati peti jenazah adalah sang Ayah, Benjamin. Ia berbicara sambil mengelus kening Yura dengan lembut dan mencoba menahan tangisnya, walaupun air mata pria tua itu tetap tidak bisa terbendung.
"Selamat jalan putri Daddy yang cantik ... semoga tenang bersama Mama Ayura ... Daddy titip salam kepada Mama mu ya, terimakasih sudah melahirkan putri cantik Daddy ..."
__ADS_1
Yang kedua di lanjut oleh Bayuni. Bayuni menghela nafas berat sambil menyeka air matanya melihat putrinya sudah tidak bernyawa.
"Mommy bahagia sayang ... walaupun belum pernah merasakan hamil dan melahirkan, tapi Mommy bisa mendidik dan menjagamu ... Mommy senang sekali bisa merasakan rasanya jadi Ibu untukmu Yura. Selamat jalan ya ... tunggu Mommy dan Daddy. Nanti jemput Mommy kalau Mommy pulang ya, Mommy mau bertemu Yura lagi."
Setelah itu giliran Magma. Magma menyimpan bunga mawar putih di samping kepala Yura.
"Aku masih berharap ada keajaiban kau kembali hidup. Seandainya malaikat maut itu berbentuk manusia, aku pasti sudah membunuhnya agar dia tidak bisa mencabut nyawamu anak nakal ..."
Nathan sebagai idola Yura pun ikut menghampiri gadis itu.
"Aku yang mengidolakanmu, bukan kau yang mengidolakanku. Aku fans beratmu asal kau tahu Yura, kau berhasil mengubah sikap pria musim dingin itu."
Summer menghela nafas mengusap lengan Yura.
"Aku sudah mengikhlaskan mu bahagia bersama Winter. Tapi kau malah pergi, kenapa jadi seperti ini Yura ... aku kehilangan Kakak ipar sekaligus teman kecilku selamanya ..."
Dan yang terakhir Winter. Semua sorot mata langsung tertuju ke arah pria yang terlihat kacau itu.
Pria itu tidak bersuara, dia mengelus wajah istrinya dengan tatapan sendu.
Aku mencintaimu ... tunggu aku, sebentar lagi aku juga akan pulang. Kita pulang sama-sama ya, setiap hari kan kita selalu sama-sama Yura. Kalau kau pulang, aku juga akan pulang ...
__ADS_1
Bersambung