
Satu bulan sudah kepergian Javier. Keluarga De Willson sudah cukup berkabung terlalu lama atas kepergian Javier De Willson.
Hidup harus tetap berlanjut, bukan. Javier seperti cahaya bagi keluarga De Willson, ketika dia tidak ada semuanya seakan redup dan hampa.
Tapi mereka tahu, sampai kapanpun mereka harus tetap melawan kesedihan dan melanjutkan kehidupan kembali.
Maxime, Summer dan Winter kembali ke kantor memperbesar perusahaan De Willson group.
Nathan, Nala, Laura dan Lalita kembali dengan kegiatan nya masing-masing.
Sky perlahan kembali tersenyum apalagi selama satu bulan ini Reagan terus berada di mansion utama bersama dirinya dan Milan.
"Grandma jangan sedih ya, kakek buyut masuk kuci. Aku dah gosok-gosok tapi ga kuwal-kuwal ..."
Sky terkekeh mendengarnya. Ia mengusap kepala Reagan dengan tangan yang sudah keriput.
Reagan duduk di samping Sky sambil menghadapi ke arahnya.
"Sudah, jangan di gosok lagi nanti tanganmu sakit."
"Hehe gak glandma ..."
"Mom, makan dulu. Mau di sini atau di meja makan?" tanya Milan.
"Di sini saja," sahut Sky.
Milan kembali ke dapur untuk membawa makanan ke ruang keluarga.
__ADS_1
Milan sendiri karena dari dulu merasa lebih di sayang oleh mertua dari pada Ibu kandungnya sendiri, ia lebih berbakti kepada Sky. Bukan tanpa alasan, Ibu kandungnya yang lebih memilih uang dari Maxime dari pada dirinya saat ia muda dulu. Ya, walaupun pada akhirnya Milan juga mencintai Maxime.
*
Winter pulang ke mansion dan ia mendapati istrinya sedang memasak. Selama satu bulan ini juga Yura selalu memasak di mansion karena selama di Spanyol Magma mengajari dirinya berbagai resep.
"Sudah pulang ..." Yura menoleh.
Winter tersenyum dan duduk di meja makan. Yura datang menghampiri dengan membawa paella makanan khas Spanyol yang mirip dengan nasi kuning jika di Indonesia.
Ia meletakannya di meja lalu Yura duduk di samping Winter. "Makan siangmu ..." Yura tersenyum.
"Kau sudah makan?"
"Aku sedang diet," sahut Yura.
"Sejak kapan kau bisa masak seafood?" tanya Winter ketika melihat ada cumi dan udang di makanannya.
"Magma mengajari ku masak. Dia sangat pintar."
Winter berdecak, mendengar Yura memuji Magma rasanya tidak suka apalagi mengatakan Magma sangat pintar memasak disaat dirinya tidak terlalu hebat mengulik resep di dapur.
"Kau kenapa?" tanya Yura melihat raut wajah Winter yang berbeda. Pria itu makan tapi wajahnya terlihat kesal.
"Aku akan belajar masak, Yura ..."
"Hah? benarkah? kalau begitu, aku bisa mengajarimu ..." Mata Yura berbinar senang.
__ADS_1
"Aku belajar dengan chef saja."
"Kenapa?" tanya Yura.
"Agar banyak resep yang bisa aku coba." Winter berpikir kalau di ajarkan Yura pasti resepnya itu-itu saja.
"Yasudah kalau begitu ..."
Yura hanya diam dengan sesekali tersenyum menatap suaminya yang tengah makan dengan lahap.
"Oh iya, Reagan belum kembali ke sini."
Maxime menoleh. "Dia masih menghibur grandma."
Yura terkekeh. "Anak itu sudah seperti pelawak saja."
Selesai makan, Yura mencuci piring. Mengerjakan pekerjaan rumah sendiri ternyata menyenangkan apalagi di saat suaminya terus memeluk Yura dari belakang sambil menemani istrinya cuci piring.
"Apa aku bau karena dari pagi bersih-bersih terus?"
Winter menggeleng. "Tidak, Yura."
"Kau selalu memanggilku Yura. Tidak ada panggilan lain, huh."
Winter terkekeh mengecup kepala istrinya. "Tidak ada. Aku lebih suka namamu."
Yura berdecak. "Dasar musim dingin!"
__ADS_1
Bersambung