Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#94 Burung bangau


__ADS_3

Winter tertidur dengan tangan Yura di jadikan bantalan kepalanya. Ia tertidur telungkup di ranjang dalam keadaan duduk di samping ranjang. Tangan Yura yang di jadikan bantalan kepalanya basah akibat Winter yang sedari tadi menangis seorang diri di ruangan tersebut.


Yang lain masih menunggu di depan kamar Yura. Mereka hanya masuk sesekali saja lalu kembali keluar atas permintaan Maxime.


Ia hanya tidak mau putra nya menahan kesedihannya ketika ada orang lain di ruangan tersebut. Biarkan Winter sedih dan menangis melihat istrinya, itu lebih baik menurut Maxime di banding menahan perasaan sedihnya.


Perlahan Winter membuka mata. Ia ingat hari dimana dirinya menemani Yura yang tidak sadarkan diri, Winter juga tertidur kemudian Yura mengelus kepalanya membuat pria itu terbangun.


Tapi sekarang, ketika pria itu terbangun dan mendongak menatap istrinya. Gadis itu masih belum sadarkan diri, padahal Winter berharap Yura kembali mengelus kepalanya membuat dirinya bangun dari tidur.


Winter menghembuskan nafas berat. "Maaf, aku ketiduran ..." lirihnya sambil mengusap punggung tangan Yura yang basah karena air ji matanya.


Hanya suara monitor yang menemani kesedihan Winter. Monitor yang masih menandakan jantung Yura masih lemah.


Winter menatap sendu istrinya yang terbaring dengan wajah pucat dan tubuhnya yang dingin.


Kemudian Winter keluar dari kamar tersebut. Milan yang duduk di depan kamar langsung menyambut putranya.


"Winter ..."


Dilihatnya kondisi putra pertamanya, berantakan dengan mata merah. Winter pasti tersiksa dengan keadaan Yura.


"Winter ... Mom belikan roti untukmu."


Milan langsung mengambil kantung roti dari tangan Lusi. "Ini ... makan dulu ya. Kau belum makan dari tadi."


Bayuni, Benjamin dan Maxime masih duduk memperhatikan pria itu. Mereka juga sedih, tapi mereka tahu Winter lebih tersiksa akan keadaan ini.


Winter menggeleng pelan membuat Milan kecewa karena gagal memaksa anaknya makan.


"Winter ... nanti kau sakit, kau harus makan dulu," ucap Milan.

__ADS_1


"Benar kata Mommy mu ..." Maxime berdiri menghampiri putranya.


"Kau tidak mau kan kalau istrimu bangun dan melihatmu sakit?"


"Aku harus mencari kertas origami. Aku pergi dulu ..."


Winter melengos begitu saja meninggalkan mereka semua membuat Milan terlihat sedih melihat kepergian putranya.


Maxime merangkul istrinya dengan mengelus pundak Milan.


Tidak lama kemudian Winter kembali dengan memegang kotak coklat. Mereka semua yang melihat Winter kembali berdiri, untuk kesekian kalinya Milan mencoba berbicara dengan putranya agar mau makan tapi Winter berjalan mengacuhkan mereka semua dan kembali masuk ke kamar Yura.


"Nyonya Milan ..." Panggil Bayuni.


Milan menoleh.


"Biarkan saja dulu, hatinya belum tenang," ucap Bayuni.


"Aku hanya takut dia sakit," sahut Milan.


"Kami bukan tidak sedih, Nyonya Milan. Kami sebagai orang tua juga sangat terpukul tapi kami berusaha kuat demi Yura dan Juga Winter. Kami juga takut kalau Winter malah ikut sakit," sambung Bayuni.


Kemudian mereka mendengar derap langkah kaki dari lorong. Summer berlari dengan keringat di wajahnya.


Ketika hendak masuk ke ruangan, Maxime langsung menghadang putra keduanya itu.


"Dad, plis. Aku hanya ingin menjenguk Yura. Aku tau Yura sakit kan ..." ucap Summer dengan dada naik turun karena kelelahan.


"Ada kakakmu di dalam, jangan di ganggu ..."


"Dad aku hanya ingin menjenguk Yura!" geram Summer.

__ADS_1


"Tunggu sampai Kakakmu mengizinkanmu, sekarang duduk lah dulu."


Summer berdecak. "Dad--"


"Summer!" peringat Milan.


Summer pun menghela nafas berat, mengacak-ngacak rambutnya frustasi lalu duduk di kursi.


Satu-satunya orang yang terlihat gila ketika Yura koma adalah Magma. Pria itu sekarang ada di klab, minum banyak sekali alcohol karena ia stress setelah mendonorkan sumsum tulang untuk adiknya tapi tidak ada perkembangan sama sekali.


Dia duduk di sofa seorang diri karena tidak ada yang berani mendekati dirinya. Sebelumnya Magma sudah menembak dua orang pria yang berani menganggunya. Bahkan Lail saja dari tadi hanya duduk di samping Magma dengan sesekali berusaha merebut botol alcohol yang baru yang hendak di buka oleh pria itu.


Tapi lagi-lagi Lail gagal, Magma mengerang marah dan menepis kasar tangan Lail.


"Anak nakal itu belum juga bangun Lail!" teriak Magma dengan mata setengah terbuka karena mabuk parah. Terlihat buliran air mata sesekali keluar dari ujung matanya. Marah dan sedih menyatu dan di lampiaskan melalui minuman.


Lail sudah menyuruh perempuan yang ada di klab untuk pergi dari klab atau mereka akan menjadi mangsa Magma. Di perk*sa secara brutal dalam keadaan tidak sadar.


*


Tangan Winter tidak henti diam. Dia membuat banyak sekali burung bangau dari kertas origami. Dulu, ia menunggu Yura transfusi darah dalam keadaan tidak sadarkan diri, Winter menuggu Yura bangun sambil membuat banyak sekali burung bangau dari kertas origami.


Sekarang pria itu melakukan hal yang sama berharap kejadian yang sama terulang lagi. Yura terbangun.


Burung bangau warna warni itu berserakan di lantai. Winter terus menunduk dengan tangan sibuk mengotak-ngatik kertas origami.


Perasaannya hancur setelah puluhan burung bangau berserakan di lantai tapi Yura tidak kunjung bangun.


Kertas origami berwarna merah di tangannya tiba-tiba basah akibat air matanya yang jatuh begitu saja. Tidak terbendung dan tidak bisa di tahan.


Tangannya terdiam, ia menghela nafas berat dan perlahan mendongak menatap istrinya dengan cairan bening di matanya.

__ADS_1


"Burung bangau yang ke berapa Yura, yang bisa membuatmu bangun?" lirih Winter.


Bersambung


__ADS_2