Pria Musim Dingin

Pria Musim Dingin
#117 Peti di tukar


__ADS_3

Magma keluar dari kamar mandi dengan kaos polos berwarna hitam dan celana pendek. Ia menggosok rambutnya dengan handuk kecil, setelah berpakaian sangat rapih ujung-ujungnya Magma malah memakai kaos biasa karena rambutnya di lempari telur ayam.


Magma berjalan menghampiri keluarga De Willson dengan menghela nafas kasar, malas sekali setelah di lempari telur harus menjelaskan semuanya tentang Yura. Apalagi Benjamin dan Bayuni juga malah ikut-ikutan melempar telur.


Magma duduk di samping Ibunya. Duduk santai dengan menyenderkan punggungnya ke sandaran sofa seraya terus mengeringkan rambutnya.


Ia bersiul santai mengacuhkan orang-orang yang menatap dirinya menunggu penjelasan.


"Heh ..." Bayuni menyikut lengan putranya.


"Apa Mom?"


"Jelaskan, bukan apa apa!!"


"Aku harus menjelaskan apa? Yura di depan kalian, berarti masih hidup."


"Kau menukar peti Yura dengan siapa?" tanya Winter kemudian.


Magma menatap Winter kemudian berdecak seraya memalingkan wajahnya. "Dengan nenek-nenek yang mati, usianya 95 tahun ..."


Nathan, Nala, Laura dan Lalita menahan tawa sekuat tenaga mendengar itu sampai pipi mereka mengembung, Laura bahkan sampai memukul-mukul paha Nala saking kaget nya dengan ucapan Magma dan sulitnya menahan tawa.

__ADS_1


Tapi ujung-ujungnya tawa mereka meledak juga.


"Hahaha nenek-nenek, jadi abu di kamar Winter itu abunya Nenek-Nenek, mana usianya 95 tahun lagi ..." ledek Nathan.


"Tuan Winter ..." Julian mengacungkan jempolnya. "Kau hebat, setiap hari kau berbicara dengan Nenek-nenek, si Nenek juga di bawa jalan-jalan ke Italy, naik kapal pesiar, di bawa ke pernikahan Bos Summer hahaha ..."


Maxime dan Milan juga menahan tawanya. Summer dan Intan terkekeh pelan dengan Summer menggendong Alea sementara Reagan berada di kamarnya.


Benjamin dan Bayuni hanya menatap dingin putranya, bisa-bisanya Magma menukar peti itu dengan perempuan berusia 95 tahun.


Winter mengepalkan tangan. Mau marah tapi Magma yang merawat istrinya, tapi di sisi lain kesal juga apalagi membayangkan dirinya pernah tidur memeluk guci tersebut.


"Sudahlah, kasian si Nenek jangan di gibahi terus," ucap Julian kemudian.


Yura menggelus lengan suaminya dan berbisik. "Sabar ya dengan kakak iparmu ..."


"Kalau bukan karena aku Yura sudah mati terbakar hidup-hidup," ucap Magma kemudian.


"Bisa-bisanya kau detail sekali sampai bisa melihat Yura kembali bernafas," pekik Summer dengan menggelengkan kepala.


"Aku lebih pintar dari kalian," sahut Magma dengan bangga.

__ADS_1


*


Mereka semua berpamitan pulang, Milan dan Maxime memeluk menantu nya sebelum pulang. Nathan dan yang lain sudah lebih dulu meninggalkan mansion Winter.


"Mommy pulang dulu ya Yura," ucap Milan.


"Iya mommy ..." Yura tersenyum.


Mobil Maxime, Benjamin dan Summer pun melaju keluar dari halaman mansion setelah melambaikan tangan kepada Yura. Reagan sementara waktu tinggal di mansion Summer terlebih dahulu.


Mereka berdua kembali masuk ke mansion, tepat ketika pintu tertutup. Winter langsung menarik tangan istrinya yang hendak naik ke kamar.


Pria itu kembali mencium istrinya, tidak ada kelembutan, dia bahkan mengigit-gigit gemas bibir Yura.


Mendorong tubuh Winter juga sulit. Yura merasakan perbedaan yang begitu besar, dulu Winter selalu menci*m nya dengan sangat lembut dan pelan. Tapi sekarang, pria itu seperti tidak bisa menahan n*fsu nya.


Winter menghentikan cium*n nya setelah merasa Yura kesulitan bernafas. Nafas Yura terengah-entah tapi Winter malah tertawa.


Dia mengambil tangan istrinya, mencium punggung tangannya. "Kita ke gereja dulu ..." ucap Winter.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2