
"Huh, dasar Anaya. Sudah tau pawangku ada dua ya masih saja berani mengganggu kita!" pekik Yura sambil duduk di pangkuan suaminya dengan bergelayut manja.
"Aku bukan pawangmu?" tanya Winter sambil memeluk pinggang istrinya.
Yura menggeleng. "Kau tidak seperti Daddy Maxime dan Kak Magma."
"Kau mau aku seperti mereka, Yura?" tanya Winter.
"Hehe tidak sih, aku tidak mau punya suami mafia. Gangguan rumah tangga kita cukup pelakor menyebalkan itu saja, jangan sampai ada musuh yang sampai membunuhmu ..."
"Aku harap juga seperti itu Yura ... bukan hanya aku, tapi seterusnya tidak ada keturunan De Willson lain yang ingin seperti Daddy ku ..."
"Bagaimana dengan Noah dan Kai?" tanya Yura. "Apa mereka tidak mau jadi mafia?"
Winter menarik ujung bibirnya tersenyum. "Serius saja mereka tidak bisa. Mereka terlalu banyak bercanda, Yura. Musuh bukan takut tapi di ajak bercanda mungkin oleh mereka."
Yura terkekeh sambil menganggukan kepala setuju. Mengingat kedua adik iparnya itu, memang benar Noah dan Kai tidak bisa jadi pemimpin karena tidak mempunyai sikap tegas. Mereka lebih suka main-main dan menikmati hidup dengan menghamburkan uang saja.
"Apa menurutmu Anaya tidak akan menganggu kita lagi?"
"Tidak akan, Yura! aku yakin."
"Bagaimana kandunganmu?" tanya Winter sambil merunduk menatap perut Yura dan mengelus perut gadis itu yang terlihat buncit.
"Belum kerasa apa-apa, Winter. Huh, aku tidak sabar merasakan tendangan mereka. Bagaimana denganmu? kau masih suka ngidam?" tanya Yura dengan tersenyum.
"Aku ingin makan apel warna biru."
Yura seketika menghembuskan nafas. "Putri tidur saja di jebak nenek sihir dengan apel warna merah. Kau mau warna biru ..." Yura menggeleng tak habis pikir lalu beranjak dari pangkuan Winter pergi menuju kamarnya. Ia tidak mau mendengar ngidam suaminya yang aneh.
__ADS_1
Yura mengacuhkan teriakan suaminya sampai akhirnya Winter menyusul istrinya ke kamar.
*
Reagan sedang di antar Maxime menuju mansion Winter. Dia duduk di samping kakeknya sambil memainkan pistol mainan.
"Dol ... dol ... dol ..." Reagan membidikkan pistol nya ke depan seolah-olah sedang menembak.
Maxime menoleh dan tersenyum lalu mengelus kepala cucu nya.
"Grandpa, punya banyak pistol ya?" tanya Reagan.
"Iya," sahut Maxime.
"Untuk apa?" tanya Reagan.
"Untuk menembak," sahut Maxime.
"Iya. Tapi sekarang sudah tidak."
"Napa?"
"Menembak itu bahaya, Reagan!"
"Aku mau tembak-tembak ah dah besal," sahut Reagan.
Maxime menoleh dengan tersenyum. Ia tidak menganggap serius perkataan cucunya itu.
Sesampainya di mansion Winter. Yura menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Bahkan Reagan langsung berhambur ke pelukan perempuan itu.
__ADS_1
"Winter dimana?" tanya Maxime.
"Sedang tidur, Dad."
"Tumben, siang begini ..."
"Biasa Dad, dia mual," sahut Yura dengan tersenyum membuat Maxime terkekeh sambil menggelengkan kepala. Pasti putranya sangat tersiksa dengan ngidam yang di alami nya.
"Yasudah, Dad titip Reagan ya. Intan sibuk dengan Alea, Summer di kantor ..."
"Oke Dad," sahut Yura sambil memegang kepala Reagan.
"Bye glandpa ..." Reagan melambaikan tangan kepada Maxime yang hendak masuk mobil.
Maxime membalas dengan lambaian tangan sampai akhirnya mobil melaju pergi dari halaman mansion Winter.
"Ayo masuk ..." Yura menarik tangan kecil Reagan.
"Yula, Daddy punya ikan banyak ya?" tanya Reagan.
"Iya. Kau mau lihat?"
Reagan mengangguk cepat. Akhirnya Yura membawa anak itu ke ruangan khusus penyimpanan ikan cup*ng.
Reagan terlihat antusias, melihat satu persatu Ikan yang ada di toples kecil. Mulutnya tidak henti berbicara, memberitahu Yura jika ekor setiap ikan berbeda warna nya.
"Woahh ... ekolnya cantik ..."
Bersambung
__ADS_1
De Willson series 4 (Reagan & ....) kayanya gabakal di up di Noveltoon deh. Tapi gatau juga sih liat aja nanti 😁