
Reagan menangis keras di mansion Summer. Dia ingat semalam ia tidur bersama Winter tapi ketika bangun di pagi hari ia sudah ada di mansion Summer.
"Daddy ..."
"Reagan, Daddy nya kerja dulu." Intan mencoba membujuk anak itu yang menangis di ranjang.
"Gak ah, Mommy ... Daddy bawa aku telus, sekalang gak bawa ... huaaaa ..."
Intan mengelus puncak kepala anak itu. "Nanti kalau Daddy Winter pulang, jemput Reagan lagi di sini."
"Huaaaa ... Daddy gak bawa aku, dahal aku gak nakal huaaa ..." tangisnya semakin pecah.
Summer di luar kamar sedang mencoba menelpon Winter tapi nomornya tidak aktif alhasil dia menelpon Julian.
"Apa bos?"
"Pergi ke pantai cari Winter. Katakan Reagan menangis."
"Dub bos, kulitku baru saja membaik. Di pantai panas nanti kulitku makin iritasi dan merah lagi."
"Itu salahmu pergi ke dukun segala. Di suruh aneh-aneh malah nurut!" kesal Summer yang berpikir tak masuk akal Julian harus mandi air garam demi tidak di ganggu hantu.
"Ya tapi kan bos---"
"Pergi sekarang!" potong Summer.
Panggilan pun berakhir, Julian berdecak di apartemennya. Ia pun memakai jaket, memakai masker, topi dan juga kacamata untuk menghalangi tubuhnya yang masih iritasi dan masih terasa kering.
*
__ADS_1
Tiga hari Winter menunggu hasil pencarian dari perempuan yang sering di lihat Reagan, sampai sekarang belum ada hasilnya. Anak buahnya belum menemukan perempuan itu.
Dari awal Winter tidak menaruh harapan yang besar kalau itu memang benar istrinya. Dia hanya sedikit penasaran saja, jika tidak ada hasilnya dia juga tidak terlalu kecewa.
Winter pergi ke pantai, duduk di bebatuan pinggi pantai menatap ombak di depannya dengan hembusan angin yang menerpa wajahnya.
Ingatannya menerawang ke masa lampau. Di bebatuan ini kali pertama Winter mengatakan cintanya kepada istrinya setelah mengetahui Yura sakit leukimia.
Aku mencintaimu ...
Kalimat itu keluar pertama kali dari seorang Winter Louis De Willson kepada cinta pertamanya, Ayura Aletta.
Yura adalah gadis pertama yang masuk ke hidup Winter atas perantara Ayah dan Kakeknya. Sebelumnya Winter tidak dekat dengan perempuan manapun, seluruh hidupnya seakan habis dengan bekerja.
Termasuk setelah istrinya meninggal. Winter selalu mengatakan kepada semua orang kalau Yura adalah cinta pertama dan terakhirnya.
Aku tau resiko dari mencintaimu itu di tinggalkan Yura. Tapi aku tidak bisa menghentikan perasaan ini.
Dan sekarang, ia menyesali semuanya. Menyesali kenapa dirinya dulu tidak bisa jadi suami yang romantis untuk Yura, kenapa dirinya dulu tidak menunjukan rasa cintanya kepada Yura, ia kehilangan banyak moment berharga bersama istrinya karena berpikir Winter tidak akan merasakan kehilangan.
Ayah dan kakeknya saja seorang mafia tapi bisa mendapatkan kebahagiaan di dunia. Ia berpikir dirinya yang tidak pernah membunuh dan bukan mafia pasti lebih bahagia dari Ayah dan kakeknya.
Tapi ternyata pikirannya salah, dia malah merasakan kehilangan, kehampaan dan kesepian sampai detik ini. Walaupun ada Reagan, tetap yang menjadi obat di hidupnya hanyalah Yura.
Seorang perempuan tiba-tiba duduk di samping Winter. Winter menoleh, tersenyum tipis dengan mata berkaca-kaca kemudian ia kembali memalingkan wajahnya melihat lautan di depannya.
Selalu seperti itu ketika ia merindukan Yura. Seakan Yura ada di dekatnya, tersenyum menatap dirinya. Tapi ketika tangan Winter terulur untuk memegang gadis itu, tiba-tiba Yura hilang dan akhirnya Winter tersadar dirinya sedang berhalusinasi.
Cukup lama menyembuhkan halusinasi tersebut sampai harus meminum beberapa obat penenang selama berbulan-bulan karena Winter selalu mengamuk ketika bayangan Yura hilang.
__ADS_1
Perempuan di sampingnya mengelus kepala Winter. Winter kembali menoleh dengan menahan sesak di dadanya.
Perempuan itu tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Aku mencintaimu ..." lirihnya dengan air mata yang tidak terbendung lagi. Perempuan itu menangis.
Rasa sesak di dada Winter melihat perempuan di sampingnya yang entah asli Yura atau hanya halusinasi lagi, pria itu pun tersenyum dengan air mata membasahi pipinya.
Dulu bebatuan ini tempat dirinya menyatakan cinta kepada Yura. Sekarang ia merasa berhalusinasi lagi sampai mendengar Yura mengatakan cinta di tempat yang sama.
Winter menunduk, menghela nafas berat seraya memejamkan mata. Ia yakin ketika mendongak kembali pasti Yura yang ada di sampingnya menghilang dari pandangannya.
"Kau tidak mau melihatku, Daddy?" Lirih perempuan tersebut.
Winter kembali membuka mata mendongak perlahan dan perempuan yang mirip Yura masih menatapnya dengan tersenyum dan menangis.
Perempuan itu kembali membelai wajah Winter. "Kau berubah sangat banyak setelah menjadi Daddy nya Reagan, tubuhmu banyak sekali tatto ya ..."
"Yura ..." lirih Winter.
Perempuan itu mengangguk lalu memeluk suaminya. Kesadaran Winter seakan menghilang, entah mimpi atau bukan tapi perempuan ini bisa memeluknya.
Biasanya Yura hilang ketika hendak di sentuh tapi perempuan ini seakan nyata. Memeluk erat Winter seraya menangis.
Tangan Winter dengan gemetar terangkat membalas pelukan Yura. Sampai akhirnya dia bisa memeluk gadis itu baru lah ia sadar kalau Yura yang memeluknya bukan halusinasi seperti dulu.
"Yura ..." lirihnya lagi dengan suara gemetar. Ia masih belum percaya kalau ini nyata tapi ia juga tidak mau kalau ini mimpi.
Yura melepas pelukannya menatap lekat wajah suaminya. "Aku masih hidup ... aku sembuh sekarang Winter ..."
__ADS_1
Kemudian Yura menc*um Winter. Winter tidak membalas cium*n itu karena masih menerka-nerka antara mimpi atau nyata. Hanya saja bibir mereka saling menempel dengan berderai air mata.
Bersambung